Orang-Orang Baik dalam Perjalanan Hidup

Selasa, 16 Juni 2026 Last Updated 2026-06-16T10:15:18Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Dalam perjalanan hidup, kita bertemu begitu banyak orang. Sebagian hanya singgah sebentar. Sebagian hadir karena keadaan. Sebagian datang dan pergi mengikuti musim kehidupan. Namun di antara sekian banyak perjumpaan itu, selalu ada beberapa orang yang memiliki tempat istimewa di hati.  Mereka bukan selalu orang yang paling sering bertemu dengan kita.

Bukan pula mereka yang selalu hadir dalam setiap kesempatan. Tetapi entah mengapa, kepada merekalah kita merasa nyaman untuk bercerita. Kepada merekalah kita menyampaikan kegelisahan yang tidak selalu mampu kita ungkapkan kepada orang lain.

Mereka adalah orang-orang yang terpilih. Terpilih bukan karena status, kedudukan, atau kedekatan secara formal. Mereka terpilih karena hati menemukan ruang yang aman di dekat mereka. Di hadapan mereka, kita tidak perlu berpura-pura kuat. Tidak perlu menyembunyikan kesedihan. Tidak perlu selalu terlihat baik-baik saja. Kita dapat hadir sebagai diri sendiri, apa adanya.


Saya semakin menyadari bahwa dalam hidup, tidak semua persoalan membutuhkan solusi. Ada saat ketika seseorang hanya ingin didengarkan. Hanya ingin ditemani. Hanya ingin mengetahui bahwa ada orang yang bersedia memahami apa yang sedang dirasakan. Dan sering kali, itu sudah lebih dari cukup. 

Betapa banyak beban yang terasa lebih ringan setelah diceritakan kepada seseorang yang tepat. Bukan karena masalahnya selesai. Bukan karena jalan keluarnya langsung ditemukan. Tetapi karena hati merasa tidak sendirian. Karena ada yang mendengar tanpa menghakimi.

Ada yang memahami tanpa harus diminta. Ada yang peduli tanpa harus diberi alasan. Mereka yang terpilih biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Hubungan itu dibangun oleh waktu. Dibangun oleh kepedulian. Dibangun oleh kepercayaan yang tumbuh perlahan melalui berbagai pengalaman kehidupan.

Ada rasa yang sama. Ada ketulusan yang terjaga. Ada perhatian yang terus dirawat meskipun jarak dan waktu sering memisahkan. Mereka hadir bukan hanya ketika hidup sedang baik-baik saja. Mereka tetap ada ketika kehidupan sedang tidak ramah, ketika tekanan meningkat.

Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ketika hati sedang lelah dan membutuhkan tempat untuk beristirahat sejenak. Dan di situlah saya memahami makna kehadiran. Mereka yang terpilih pada akhirnya adalah mereka yang bertahan. Bertahan bukan karena kewajiban. Bertahan bukan karena kepentingan. Melainkan karena ketulusan. Karena mereka peduli. Karena mereka memilih tetap hadir meskipun tidak selalu memiliki jawaban.


Seiring bertambahnya usia, saya tidak lagi menghitung berapa banyak orang yang saya kenal. Saya lebih bersyukur atas beberapa orang yang tetap tinggal dalam perjalanan panjang kehidupan. Orang-orang yang menjadi tempat berbagi cerita. Tempat menyampaikan keluh kesah. Tempat menemukan ketenangan ketika pikiran sedang penuh.

Mereka adalah anugerah yang tidak selalu dapat diukur dengan kata-kata. Dan ketika saya menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa salah satu kekayaan terbesar dalam hidup bukanlah apa yang berhasil dimiliki. Melainkan siapa yang tetap berjalan bersama kita. Mereka yang terpilih dan mereka yang bertahan. Dan mereka yang dengan tulus senantiasa memberi dukungan atas  karya karya saya hingga saat ini.

Saat menulis catatan ini, saya baru saja kembali dari Pantai Nelayan Canggu. Saya kembali duduk di Watercrees Kafe, untuk merampungkan tulisan di  kafe langganan jika saya berada di Canggu. Pelayan cafe sampai hafal.  Karena dalam sebulan, saya bisa 2-4 kali mampir di akhir pekan di kafe ini. 

Di kafe ini saya bisa bertahan 4-5 jam di sela jedah untuk ishoma, hanya untuk membaca dan menulis sambil menikmati hot cafelatte. Pelayan café  kadang bertanya apa aktivitas saya selama berada di Pulau Dewata. Saya sering menjawab, setiap akhir pekan, Bali menjadi tempat saya merangkai kata. Dan akhirnya menjadi tempat yang membahagiakan. 

Hidup akan terus berjalan. Dan menulis untuk memberi ketenangan di akhir pekan menjadi salah satu solusi.


Memperhatikan situasi yang terjadi akhir akhir ini, perlu ruang untuk refleksi. Supaya tidak tergerus dalam kegamangan termasuk menjauhi kekhawatiran yang tidak perlu. Menutup refleksi siang ini, tentu saja saya harus berterima kasih kepada orang orang baik untuk segala dukungan, kehadiran, dan setiap apresiasi hingga saya bisa melangkah sejauh ini.  Tetap bekerja sebagai abdi negara dan tetap menulis dengan segala dinamika yang ada. Menulis untuk bergembira.

Berawa Canggu Kuta Utara, 16 Juni 2026




Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Orang-Orang Baik dalam Perjalanan Hidup

Trending Now

Profil

iklan