Oleh : Adrinal Tanjung
Pagi itu, cuaca sedikit mendung. Saya bergerak menuju Pantai Sindu, sekedar menikmati udara pagi di pantai sebelum beraktivitas. Langit perlahan berubah warna, ombak berkejaran menuju bibir pantai, sementara para pengunjung menikmati suasana pagi dengan caranya masing-masing.
Di antara mereka, perhatian saya tertuju kepada dua perempuan yang tampak sedang menikmati keindahan pagi. Perkiraan saya usia mereka sekitar 60 tahun. Keduanya terlihat ceria, sesekali tertawa, dan berbincang ringan sambil memandang laut. Pertemuan kami sesungguhnya tidak direncanakan. Hanya sebuah perjumpaan sederhana yang kemudian menghadirkan pelajaran berharga.
Saya memberanikan diri menyapa dan memulai percakapan. Dari obrolan singkat itu saya mengetahui bahwa keduanya berasal dari Jakarta. Mereka sedang berada di Pulau Dewata untuk berlibur sekaligus mengunjungi keluarga. Ternyata perkiraan saya benar. Usia mereka sekitar 60 tahun. Tepatnya menjelang 65 tahun.
Yang menarik perhatian saya bukanlah tujuan perjalanan mereka, melainkan semangat hidup yang terpancar dari wajah keduanya. Tidak terlihat kesedihan atau keluhan. Yang tampak justru keceriaan dan rasa syukur yang begitu alami.
Percakapan pagi itu kemudian mengalir ke berbagai topik kehidupan. Mereka bercerita tentang kesibukan sehari-hari, kegiatan ibadah dan sosial yang masih diikuti, serta pentingnya menjaga kesehatan dan kebahagiaan di usia senja.
Keduanya juga bercerita bahwa suami mereka telah lebih dahulu meninggalkan dunia ini. Salah satu suami mereka pernah menjadi dosen, sementara yang lainnya mengabdikan diri sebagai pegawai negeri pada sebuah instansi pemerintah.
Meski harus menjalani masa tua tanpa pendamping hidup, keduanya tetap terlihat kuat dan bahagia. Saya menangkap satu benang merah dari cerita mereka: rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani dan kesiapan menghadapi masa depan.
Mereka mengisahkan bahwa sejak masih produktif, mereka dan suami telah berusaha mempersiapkan masa tua dengan baik. Menabung, mengelola keuangan secara bijaksana, dan membangun kemandirian menjadi bagian dari perencanaan hidup yang mereka lakukan jauh-jauh hari.
Kini, ketika usia tidak lagi muda, hasil dari persiapan tersebut dapat dirasakan manfaatnya. Uang pensiun yang masih diterima membantu menopang kehidupan sehari-hari. Anak-anak mereka pun telah tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mapan.
Namun yang paling mengesankan bagi saya bukanlah soal uang pensiun atau kondisi ekonomi keluarga. Yang lebih penting adalah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Mereka tidak ingin menjadi beban bagi siapa pun. Mereka bersyukur jika anak-anak membantu, tetapi mereka juga berusaha tetap mandiri selama masih mampu. Ada kehormatan dalam kemandirian dan ada kebahagiaan dalam kemampuan mengurus diri sendiri.
Dari percakapan sederhana di tepi Pantai Sindu itu, saya memperoleh sebuah pemahaman baru. Pada akhirnya, setiap orang tua akan memasuki fase kehidupan yang berbeda. Anak-anak tumbuh dengan kehidupannya masing-masing. Kesibukan berubah. Lingkaran pergaulan pun menyusut. Pada fase itulah seseorang akan lebih banyak berhadapan dengan dirinya sendiri.
Karena itu, masa tua tidak cukup dipersiapkan hanya dengan tabungan dan aset. Masa tua juga perlu dipersiapkan dengan hati yang lapang, pikiran yang positif, tubuh yang sehat, serta kemampuan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Satu hal yang takkalah penting yaitu senantiasa mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Dua Perempuan tersebut bercerita terkait kegiatan beribadah sholat lima waktu serta ibadah sholat sunat lainnya. Serta menyisihkan sebagian harta membantu anak yatim yang membutuhkan.
Dua perempuan yang saya temui pagi itu mungkin tidak menyadari bahwa cerita mereka telah menjadi pelajaran berharga bagi seorang yang kebetulan duduk bersama mereka di Pantai Sindu. Ketika kami berpisah, matahari telah naik lebih tinggi. Namun saya membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pemandangan pagi yang indah: sebuah pengingat bahwa hari tua yang bahagia bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ia adalah hasil dari persiapan panjang, rasa syukur yang terus dipelihara, dekat dengan Sang Pencipta, dan kemampuan untuk tetap menemukan kegembiraan dalam setiap tahap kehidupan.
Pantai Sindu pagi itu kembali mengajarkan bahwa guru kehidupan bisa hadir di mana saja, bahkan melalui percakapan singkat dengan dua perempuan yang sedang menikmati masa senjanya dengan penuh kebahagiaan.
Kota Denpasar, 13 Juni 2026


