Oleh : Adrinal Tanjung
Bulan Juni selalu mengajak saya berhenti sejenak. Di tengah kesibukan pekerjaan, target yang harus diselesaikan, dan berbagai urusan kehidupan yang terus bergerak tanpa jeda, Juni datang membawa saya kembali menengok ke belakang. Ia mengingatkan bahwa waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang sering kita sadari.
Pertengahan bulan Juni 2026, genap dua puluh delapan tahun sejak saya dan istri memutuskan untuk mengikat janji dalam sebuah pernikahan. Dua puluh delapan tahun. Ketika angka itu disebut, terasa seperti sebuah perjalanan yang sangat panjang. Namun ketika kenangan mulai berdatangan satu per satu, rasanya seperti baru kemarin semua itu dimulai.
Saya masih dapat membayangkan seorang calon PNS yang baru diangkat menjadi PNS yang ditempatkan di Provinsi Sulawesi Utara, berani bicara tentang masa depan. Saat itu, ia tidak tahu akan menjadi apa kehidupannya kelak. Ia tidak tahu tantangan apa yang harus dihadapi. Bahkan ia tidak tahu berapa banyak doa yang harus dipanjatkan untuk melewati berbagai fase kehidupan. Yang ia tahu hanyalah satu hal yaitu keberanian memulai babak baru dalam hidup
Dan sejak ijab kabul diucapkan, kehidupan mulai menuliskan ceritanya sendiri. Tahun demi tahun berlalu. Pindah tugas dari Manado ke Jakarta, anak anak lahir dan bertumbuh. Tanggung jawab bertambah. Pekerjaan silih berganti menghadirkan tantangan. Usia terus bergerak maju. Sementara tanpa disadari, rambut mulai memutih dan wajah perlahan menyimpan jejak-jejak perjalanan panjang yang telah dilalui.
Pada usia muda, saya pernah berpikir bahwa kebahagiaan terletak pada pencapaian. Semakin banyak yang diraih, semakin bahagia seseorang. Namun usia mengajarkan pelajaran yang berbeda. Kebahagiaan ternyata sering hadir dalam hal-hal sederhana yang dulu luput diperhatikan. Sebuah percakapan dengan keluarga. Kabar bahwa semua dalam keadaan sehat. Tawa yang terdengar dari rumah. Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa keluarga bukan sekadar bagian dari kehidupan. Keluarga adalah alasan mengapa semua perjuangan itu dijalani.
Mungkin karena itulah skenario Tuhan yang membawa saya ke Pulau Dewata menghadirkan pelajaran yang begitu berharga. Di pulau yang indah ini saya belajar tentang jarak. Saya belajar bahwa kerinduan ternyata memiliki caranya sendiri untuk mendewasakan manusia. Ada hari-hari ketika pekerjaan berjalan dengan baik, tetapi hati diam-diam merindukan suasana rumah.
Ada sore-sore ketika saya menikmati keindahan pantai Bali, namun pikiran terbang jauh kepada keluarga yang berada ratusan kilometer dari tempat saya berdiri. Ada saat-saat ketika saya menyadari bahwa keberadaan seseorang baru benar-benar terasa ketika ia tidak berada di dekat kita. Namun justru dalam jarak itulah saya semakin memahami makna sebuah pernikahan.
Pernikahan tidak hanya dibangun oleh kebersamaan dalam ruang yang sama. Pernikahan juga dibangun oleh kepercayaan yang tetap terjaga ketika jarak memisahkan. Kepercayaan adalah bentuk cinta yang paling dewasa. Ia tidak berisik. Ia tidak menuntut banyak hal. Ia hanya meminta keyakinan bahwa dua hati yang telah dipersatukan akan tetap saling menjaga meskipun berada di tempat yang berbeda.
Dari sanalah saya belajar tentang keikhlasan. Bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan keinginan kita. Bahwa hidup terkadang membawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah direncanakan. Bahwa ada tugas yang harus djalankan. Ada pengabdian yang harus diselesaikan. Dan ada pengorbanan yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan.
Di tengah proses itulah saya menemukan kembali sahabat lama yang selalu memberi ketenangan yaitu menulis. Menulis menjadi ruang tempat saya bercakap dengan diri sendiri. Menulis menjadi tempat saya menyimpan rasa syukur. Menulis menjadi cara saya mengabadikan pelajaran-pelajaran kecil yang diberikan kehidupan setiap hari.
Dan tanpa saya sadari, tulisan-tulisan itu perlahan bertambah banyak. Lahir dari perjalanan menuju kantor. Lahir dari pagi yang tenang. Lahir dari senja di tepi laut. Lahir dari kerinduan kepada keluarga. Lahir dari perenungan tentang kehidupan. Lahir dari rasa syukur atas setiap langkah yang masih diberikan Tuhan. Tulisan-tulisan itu kemudian menjelma menjadi sebuah buku yang saya beri judul Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata.
Ketika memandang buku itu, saya menyadari bahwa sesungguhnya saya tidak sedang menulis tentang Bali. Saya tidak sedang menulis tentang perjalanan dinas. Saya bahkan tidak sedang menulis tentang diri saya sendiri. Saya sedang menulis tentang pulang.
Tentang kerinduan manusia untuk kembali kepada hal-hal yang paling bermakna dalam hidupnya. Dan bagi saya, keluarga selalu menjadi makna terbesar dari kata pulang itu. Mungkin karena itu buku ini terasa istimewa. Ia lahir menjelang usia pernikahan yang ke-28. Ia lahir dari perjalanan yang penuh refleksi. Ia lahir dari kerinduan yang dipelihara dengan kesabaran.
Ia lahir dari keyakinan bahwa setiap langkah kehidupan selalu mengandung hikmah yang layak disyukuri. Jika ada kado yang ingin saya persembahkan pada peringatan pernikahan tahun ini, maka buku sederhana inilah jawabannya.
Bukan karena isinya sempurna. Bukan karena tulisannya istimewa. Tetapi karena di setiap halamannya tersimpan jejak perjalanan hidup terutama di enam bulan terakhir ini. Ketika suatu hari nanti saya membuka kembali halaman-halaman tersebut, saya ingin mengingat satu hal sederhana: Bahwa hidup ternyata bukan tentang seberapa tinggi kita mencapai sesuatu. Bukan pula tentang seberapa jauh kita pergi.
Hidup adalah tentang menemukan makna dalam setiap perjalanan, lalu mensyukurinya. Sebab pada akhirnya, kita semua sedang menempuh jalan pulang. Pulang kepada keluarga yang mencintai kita. Pulang kepada kenangan yang membentuk kita. Pulang kepada nilai-nilai yang kita yakini. Dan pada waktunya nanti, pulang kepada Tuhan yang telah menuntun seluruh perjalanan kehidupan ini dengan cara-Nya yang sering kali baru kita pahami setelah perjalanan itu dilewati.
Canggu Kuta Utara, 14 Juni 2026




