Dari Musi Dua ke Pulau Dewata

Selasa, 09 Juni 2026 Last Updated 2026-06-09T01:51:52Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Waktu telah membawa saya dari Musi Dua ke Pulau Dewata. Namun semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin saya menyadari bahwa ada kenangan yang tidak pernah ikut pergi.

Pagi ini saya bersiap berangkat ke kantor seperti biasa. Di hadapan saya terbentang hari yang akan diisi dengan berbagai tugas, tanggung jawab, dan amanah pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun sebelum memulai aktivitas, pikiran saya justru melakukan sebuah perjalanan yang jauh melampaui jarak ribuan kilometer. 


Perjalanan itu membawa saya kembali ke Jalan Musi Dua, Padang. Ke sebuah sekolah yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Ke masa ketika seragam putih abu-abu masih melekat di badan, ketika mimpi-mimpi masih tumbuh dengan bebas, dan ketika masa depan masih berupa misteri yang menunggu untuk dijelajahi. Sungguh menarik memikirkan bagaimana perjalanan hidup bekerja.


Dahulu, sebagai siswa SMA 2 Padang, saya tentu tidak pernah membayangkan bahwa puluhan tahun kemudian kehidupan akan membawa saya mengemban tugas di Pulau Dewata. Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya akan menikmati pagi di Bali, bekerja dan berkarya di pulau yang menjadi impian banyak orang untuk dikunjungi. Namun begitulah kehidupan. Ia membawa setiap orang menyusuri jalan yang berbeda-beda.


Ada yang tetap tinggal di kampung halaman. Ada yang merantau ke berbagai daerah. Ada yang meniti kehidupan hingga ke mancanegara. Dan saya, melalui berbagai episode kehidupan, bekerja sebagai abdi negara dan berkunjung ke berbagai wilayah di Indonesia, hingga akhirnya membawa saya ke Pulau Bali. Meski demikian, perjalanan yang jauh ternyata tidak pernah mampu menghapus kenangan yang telah bersemayam di dalam hati. Hampir empat dekade telah berlalu sejak masa-masa di SMA 2 Padang. 


Empat dekade. Waktu yang cukup panjang untuk mengubah banyak hal. Rambut yang dahulu hitam perlahan memutih. Wajah yang dahulu muda mulai menyimpan jejak-jejak usia. Energi yang dahulu seolah tidak terbatas kini harus dikelola dengan lebih bijaksana. Namun anehnya, kenangan tentang masa sekolah justru terasa semakin berharga. Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa ada tempat-tempat tertentu yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Jalan Musi Dua adalah salah satunya.


Di sanalah kami belajar bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga tentang kehidupan. Di sanalah persahabatan tumbuh. Di sanalah cita-cita mulai dirajut. Di sanalah kami belajar bermimpi tanpa batas. Dan di sanalah sebagian cerita masa muda kami dititipkan kepada waktu.

Kemaren sore, buku Musi Dua 89 kembali dikirim kepada salah seorang alumni yang memesannya. Sebagai penulis, saya merasa bersyukur dan berterima kasih atas apresiasi yang diberikan. Setiap buku yang sampai ke tangan sahabat alumni seolah menghidupkan kembali percakapan-percakapan lama yang pernah memenuhi ruang-ruang kelas di SMA 2 Padang.


Buku itu sesungguhnya lahir dari sebuah kegelisahan sederhana. Bahwa waktu terus berjalan.

Bahwa ingatan manusia memiliki batas. Bahwa kenangan yang tidak dirawat perlahan dapat memudar. Karena itulah berbagai cerita, pengalaman, dan fragmen kehidupan masa sekolah dicoba untuk dirangkai kembali dalam bentuk tulisan yang terinspirasi dari Reuni Akbar 35 tahun SMA 2 Padang Angkatan 89. Buku ini tidak bermaksud untuk kembali  hidup di masa lalu. Melainkan untuk menghargai perjalanan dan persahabatan  yang telah membentuk diri kami hingga hari ini.


Saat menulis catatan ini di Pulau Dewata, saya semakin menyadari bahwa kehidupan adalah rangkaian perjalanan yang penuh kejutan. Perjalanan hidup telah membawa saya jauh dari Jalan Musi Dua. Perjalanan hidup telah mempertemukan saya dengan banyak orang, banyak tempat, dan banyak pengalaman.


Perjalanan hidup telah mengantarkan saya ke Bali, sebuah pulau yang menghadirkan keindahan, inspirasi, dan ruang refleksi yang begitu luas. Namun di tengah semua perjalanan itu, kenangan tentang SMA 2 Padang tetap memiliki ruang istimewa yang tidak tergantikan. Mungkin karena di sanalah sebagian fondasi kehidupan dibangun. Mungkin karena di sanalah banyak persahabatan yang bertahan hingga hari ini. Mungkin karena di sanalah masa muda meninggalkan jejak yang begitu dalam.


Kini usia kami tidak lagi muda. Sebagian besar alumni akan memasuki usia 56 atau 57 tahun.

Usia yang mengajarkan bahwa hidup bukan semata-mata tentang pencapaian, jabatan, atau keberhasilan yang pernah diraih. Hidup juga tentang mengenang orang-orang yang pernah berjalan bersama kita. Tentang mensyukuri tempat-tempat yang pernah membentuk kita. Tentang menghargai perjalanan panjang yang telah dilalui.


Dari Musi Dua ke Pulau Dewata, jaraknya memang ribuan kilometer. Namun bagi hati, jarak itu terasa begitu dekat. Karena kenangan tidak mengenal batas geografis. Ia hidup di dalam ingatan. Ia tumbuh di dalam rasa syukur. Ia hadir dalam setiap cerita yang kembali diceritakan.


Dan selama kenangan itu masih dirawat, Jalan Musi Dua akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup kami, ke mana pun langkah kaki membawa kami pergi. Sebab sesungguhnya, perjalanan hidup mungkin telah membawa saya ke Pulau Dewata. Namun sebagian dari hati ini akan selalu memiliki rumah di Jalan Musi Dua, Padang kota tercinta.

Kota Denpasar, 9 Juni 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari Musi Dua ke Pulau Dewata

Trending Now

Profil

iklan