Oleh : Adrinal Tanjung
Satu jam menjelang langkah kaki ini kembali ke kediaman di kawasan Renon, Denpasar, saya memilih untuk meluangkan waktu sejenak. Di bawah keteduhan Masjid Al Hasanah Canggu, tepat usai menunaikan shalat Magrib berjamaah, jemari saya mulai menulis sebuah catatan sederhana tentang sebuah pertemuan.
Ruang sunyi di sudut masjid ini mendadak riuh oleh ingatan tentang sebuah pertemuan berkesan yang terjadi hampir satu jam, tepat dua hari yang lalu. Sebuah pertemuan singkat yang tak begitu direncanakan, namun berhasil membuka tabir informasi berharga tentang geliat Urang Minang di Pulau Dewata.
Pagi itu, di sela-sela agenda kedinasan lain yang harus segera saya selesaikan, saya mengirimkan kabar singkat tentang keberadaan saya di kawasan Canggu. Di luar dugaan, respons hangat segera menyambut. Tak butuh waktu lama, saya sudah duduk berhadapan dengan Zulmanedi, sosok bersahaja yang saat ini diamanahi memimpin Ikatan Keluarga Pemuda Lengayang Bersatu (IKPLB) Bali.
Pertemuan di pagi yang cerah itu mengalir tanpa sekat. Kami bertukar cerita tentang asal-usul, aktivitas saat ini, hingga dinamika kehidupan para perantau Minang di Bali. Zulmanedi sendiri berasal dari Kambang, Pesisir Selatan. Ia adalah potret tangguh perantau sejati yang telah menginjakkan kaki di Pulau Dewata sejak tahun 1996, sesaat setelah menamatkan bangku Sekolah Menengah Atas. Menghabiskan waktu selama tiga dekade di tanah rantau tentu membuatnya kenyang akan asam garam kehidupan dan sangat memahami denyut nadi komunitasnya.
Zulmanedi adalah potret nyata dari sosok perantau yang cukup berhasil memahat takdirnya di tanah seberang. Kediamannya di kawasan Canggu di tengah-tengah pusat destinasi wisatawan internasional yang cukup tersohor di Bali. Di pulau ini pula, ia berhasil mengembangkan sayap bisnis pillow yang produknya kini cukup dikenal luas dan tersebar di beberapa lokasi strategis di Bali.
Keberhasilan ekonominya berjalan selaras dengan keberhasilannya membangun jembatan kultural dalam kehidupan pribadi. Ia mempersunting seorang perempuan Bali sebagai pendamping hidupnya, dan dari pernikahan multikultural yang harmonis tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak. Sebagai sosok yang sangat hobi berolahraga, Zulmanedi terlihat masih begitu segar dan bugar di usianya yang kini menjelang 50 tahun—memancarkan stamina prima yang melengkapi produktivitasnya.
Perbincangan kami mendadak berubah menjadi sangat emosional ketika benang merah sejarah keluarga saya ikut terurai. Saya bercerita bahwa almarhum kakek dari pihak ibu adalah orang Surantih, Pesisir Selatan. Memori masa kecil saya saat masih berseragam SD dan SMP mendadak melompat keluar; ingatan tentang betapa seringnya saya berkunjung ke kampung halaman kakek, menghafal nama desa-desa kecil di sana, hingga fakta bahwa beberapa kakak laki-laki dari ibu saya sampai hari ini masih menetap dan berdomisili di Surantih. Di Canggu pagi itu, jarak ribuan mil antara Bali dan Pesisir Selatan mendadak runtuh oleh sebuah rasa rindu yang sama.
Dari kedekatan personal itulah, diskusi kami bergulir membedah eksistensi warga Pesisir Selatan di Bali yang jumlahnya ternyata cukup signifikan. Di Pulau Dewata ini, wadah berhimpun mereka diantaranya melalui IKPLB (Ikatan Keluarga Pemuda Lengayang Bersatu) yang dinakhodai oleh Zulmanedi. IKPLB sebagai wadah yang dibentuk oleh generasi muda Lengayang khususnya dan Pesisir Selatan pada umumnya yang merantau ke Bali untuk satu perubahan yang lebih baik untuk meraih kemajuan.
Zulmanedi menjabarkan dengan sangat bijak bahwa zaman telah berubah. Interaksi antar-generasi perantau—antara para tetua yang telah lama menetap dengan generasi muda yang baru datang di era modern ini—tentu memunculkan dinamika tersendiri. Namun, di bawah payung organisasi, semangat kebersamaan dan kegotongroyongan tetap dijunjung tinggi sebagai panglima. Baginya, organisasi perantau dibentuk bukan sekadar untuk gagah-gagahan, melainkan menjadi wadah formal yang memeluk rasa kekeluargaan, saling mendukung, dan bahu-membahu meraih kemajuan di tanah orang.
Ikhtiar itu bukan sekadar slogan. Saat ini, IKPLB Bali telah memiliki Sekretariat sendiri. Di rumah bersama itulah, roda organisasi berputar secara konkret melayani warganya. Mulai dari pertemuan rutin, arisan keluarga, aktivitas sosial saat suka dan duka, hingga kegiatan olahraga berkala—yang juga sangat digemari oleh Zulmanedi—berpusat di sana. Sekretariat itu telah menjelma menjadi miniatur kampung halaman di tengah modernitas Bali.
Satu jam berlalu begitu cepat dua hari lalu, namun catatan yang ditinggalkannya akan abadi. Sembari bersiap membelah jalanan malam menuju Renon, saya tersenyum sebelum menutup tulisan ini. Di Canggu, saya tidak hanya menemukan deretan pantai eksotis atau kopi yang nikmat, tetapi saya menemukan kembali sepotong akar sejarah keluarga saya yang tumbuh subur dan berbuah lebat dalam wujud persaudaraan perantau Pesisir Selatan.
Matahari akhirnya beringsut condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di atas langit Canggu yang mulai bersiap menyambut gemerlap malamnya. Namun, dari balik dinding Masjid Al Hasanah, saya melangkah keluar membawa "cahaya" yang berbeda. Perjalanan di pesisir ini kembali mengajarkan saya satu hal: bahwa hidup bukan tentang melarikan diri dari kegaduhan dunia, melainkan tentang kepiawaian kita menemukan kiblat di tengah lingkaran badai.
Di antara deburan ombak Pantai Nelayan Masjid Al Hasanah tegak berdiri bukan sekadar sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai jangkar spritual yang menjaga jiwa saya agar tidak hanyut. Dari pelatarannya, saya kembali Bersiap untuk aktivitas kedinasan yang sudah menunggu esok hari. Saya semakin paham, sejauh apa pun perantauan ini membawa saya melangkah, jalan pulang menuju ketenangan sejati selalu terbuka lebar di atas hamparan sajadah-Nya. Semoga pertemuan ini awal menuju keberkahan baru di Pulau Dewata. Semoga saja.
Pelataran Masjid Al Hasanah Canggu, 13 Juli 2026
