Oleh : Adrinal Tanjung
Pagi ini, Pantai Berawa menyambut dengan semilir angin yang tenang dan deburan ombak yang menenangkan. Butuh waktu tak lebih 45 menit perjalanan dari kediaman untuk sampai ke Pantai Berawa—sebuah tempat di mana riuh rendah dunia seolah mereda, memberi ruang bagi pikiran untuk mengembara ke belakang, menengok sebuah perjalanan panjang yang telah membentang selama dua puluh tahun.
Dua dekade bukan waktu yang singkat. Sepanjang perjalanan itu, jemari ini terus merangkai kata, melahirkan gagasan dan pemikiran, dan alhamdulillah, tak kurang 50 judul buku telah berhasil diterbitkan. Selama ini, menulis adalah jalan pengabdian, ruang berbagi, dan cara untuk mengabadikan jejak langkah serta pemikiran. Ada kepuasan batin yang tak ternilai setiap kali sebuah buku selesai dicetak dan sampai ke tangan pembaca. Hingga saat ini, terlebih di dua tahun terakhir dukungan agar saya terus berkarya selalu ada.
Pagi ini saya duduk sejenak di Watercrees Berawa. Hingga membawa saya pada sebuah kesadaran baru yang lebih realistis. Ternyata pada akhirnya, apa pun aktivitas kita di dunia ini, ia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari pembiayaan, termasuk kepenulisan.
Kesadaran ini tidak tumbuh begitu saja. Ada pemantik kuat yang membuka mata saya. Terinspirasi dari sebuah komunitas bernama Muslim Millionaire yang saya ikuti selama sebulan terakhir ini, saya disadarkan pada banyak hal tentang bagaimana memandang aktivitas penjualan adalah jalan untuk meraih keberkahan finansial.
Komunitas ini mendobrak pola pikir lama saya dan menanamkan keyakinan baru bahwa keberadaan seorang Muslim juga diukur dari kontribusi yang diberikan dan bagaimana meraih hidup yang penuh keberkahan. Semu aitu ternyata tak bisa lepas dari perniagaan.
Dalam perenungan ini, pikiran saya tertuju pada pada sosok inspiratif, Ary Ginanjar Agustian. Beliau adalah teladan nyata bagaimana sebuah karya intelektual dan spiritual bisa dikemas dalam sebuah model bisnis yang luar biasa sukses. Melalui mahakaryanya, Emotional Spiritual Quotient (ESQ), Ary Ginanjar tidak sekadar menjual buku, melainkan mengintegrasikannya dengan pelatihan-pelatihan transformatif yang sangat dikenal luas. Lewat ekosistem tersebut, beliau berhasil membangun institusi yang kokoh sekaligus meraup keuntungan finansial yang sangat signifikan.
Selain Ary Ginanjar, saya juga sangat mengagumi Jamil Azzaini. Sosok yang satu ini telah malang melintang di dunia kepenulisan dan sukses menelurkan karya-karya yang selalu menjadi hits dan digemari pembaca. Pengalaman berharga mengikuti pelatihan Jamil Azzaini beberapa waktu lalu membuka mata saya secara langsung. Beliau membuktikan dengan sangat apik bahwa buku yang ditulis secara berbobot, jika dipadukan dengan penyampaian materi pelatihan yang memikat, akan menciptakan daya tular yang luar biasa kuat sekaligus menjadi mesin penggerak industri kreatif yang mandiri.
Terakhir sosok Diaz Adriani founder Muslim Millionaire (MM) yang memulai perjalanan komunitas MM dari bawah hingga menjadi komunitas yang semakin banyak memberdayakan anggotanya untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Tokoh tokoh ini menjadi bukti sahih bagi saya bahwa idealisme, ilmu, dan bisnis bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.
Memasuki awal bulan Juli ini, saya tidak lagi sekadar merenung. Saya langsung mengambil tindakan dengan mulai memasarkan buku terbaru saya supaya keberlanjutan berkarya bisa terus terjaga. Penghormatan terhadap proses kreatif tentu saja menjadi pertimbangan. Untuk mengawal keseriusan ini, saya tidak lagi bergerak sendirian. Saya mulai membangun sebuah tim kecil yang solid, terdiri dari para penulis dan editor yang andal. Memiliki ruang kantor sederhana yang menjadi sebuah ruang yang menjadi episentrum lahirnya karya-karya profesional berikutnya.
Di era modern ini, dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, pintu peluang terbuka sangat lebar. Pemanfaatan teknologi digital mutakhir membuat aktivitas menulis yang terstruktur dan mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan bukanlah sesuatu yang mustahil. Segala perangkat pendukung sudah disiapkan dan tersedia. Ditambah pengalaman menulis selama dua decade.
Menatap Masa Depan dari Berawa
Menulis untuk menghasilkan pendapatan adalah bab baru dalam buku kehidupan di waktu mendatang. Dengan modal pengalaman 50 buku di masa lalu, fondasi itu sudah sangat kokoh. Yang dibutuhkan sekarang adalah keseriusan, profesionalisme, dan kerja tim untuk mengawal langkah baru ini.
Matahari makin meninggi di Berawa Canggu Kuta Utara. Gulungan ombaknya seolah menegaskan bahwa arus perubahan tidak bisa dibendung, melainkan harus diarungi dengan keahlian, kolaborasi, dan strategi yang matang. Dua dekade berkarya telah meletakkan dasar yang kuat. Kini, saatnya melangkah ke dekade berikutnya dengan pena yang tetap mencerahkan serta dukungan tim yang makin solid. Optimis, yakin usaha sampai
Pantai Berawa, 12 Juli 2026



