Oleh : Adrinal Tanjung
Tidak semua perjalanan membawa kita pada sebuah tempat yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan. Namun perjalanan hidup saya ke Pulau Dewata mempertemukan saya dengan sebuah ruang yang, tanpa saya sadari, perlahan menjadi saksi lahirnya begitu banyak tulisan. Tempat itu bernama Watercress Berawa. Hampir setiap akhir pekan, selama tidak ada agenda lain, saya selalu menyempatkan diri datang ke kafe ini. Rutinitasnya nyaris tidak pernah berubah.
Biasanya saya berangkat dari kediaman di Renon, Denpasar sekitar jam 06.30 menuju Berawa, Canggu. Tak lebih 45 menit di perjalanan. Dan sesampainya di sana, saya hampir selalu memilih meja yang sama. Memesan secangkir hot caffè latte. Membuka laptop, lalu membiarkan pikiran berjalan ke mana saja. Bagi sebagian orang, mungkin rutinitas seperti ini terasa membosankan. Namun bagi saya, justru di sinilah saya belajar bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan tempat yang baru.
Sering kali, inspirasi lahir dari kesetiaan pada kebiasaan-kebiasaan baik yang terus dipelihara. Watercress selalu menghadirkan suasana yang membuat saya betah berlama-lama. Para pelayannya menyambut setiap tamu dengan keramahan yang tulus. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat. Keramahan yang sederhana, tetapi membuat siapa pun merasa diterima.
Suasana kafenya juga relatif tenang. Tidak terlalu riuh. Suasana seperti inilah yang saya cari ketika ingin menulis. Di sela-sela menatap layar komputer, sesekali saya mengalihkan pandangan ke halaman kafe. Di kejauhan, hamparan sawah membentang hijau. Pemandangan itu selalu berhasil meneduhkan mata.
Di tengah kawasan Canggu yang berkembang begitu pesat, bentangan sawah tersebut seolah mengingatkan bahwa alam masih memiliki ruang untuk berbicara dengan kelembutannya sendiri. Sering kali saya berhenti mengetik hanya untuk menikmati pemandangan itu beberapa menit.
Aneh rasanya. Semakin lama memandang hamparan sawah, semakin jernih pikiran saya.
Dan ketika kembali menatap layar komputer, kata-kata mengalir lebih mudah daripada sebelumnya. Kafe ini juga memperlihatkan wajah Bali yang sesungguhnya. Sebagian besar pengunjungnya adalah wisatawan mancanegara. Mereka datang dari berbagai negara, menikmati pagi dengan cara mereka masing-masing.
Ada yang membaca buku. Ada yang bekerja dengan komputer jinjingnya. Ada yang berbincang santai bersama keluarga atau sahabat. Sesekali tampak pula wisatawan domestik yang memilih menikmati suasana Berawa sebelum melanjutkan perjalanan.
Di tempat yang sama, orang-orang dari berbagai budaya dipertemukan oleh secangkir kopi, suasana yang nyaman, dan keinginan untuk menikmati waktu. Saya sendiri memiliki ritme yang hampir selalu sama. Menulis sejak pagi. Kemudian berhenti sejenak untuk menunaikan salat dan menikmati makan siang. Selepas itu saya kembali lagi ke meja yang sama. Melanjutkan tulisan yang belum selesai. Atau memulai tulisan baru yang tiba-tiba hadir dalam benak.
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, matahari mulai bergeser ke barat. Menjelang waktu Asar, saya menutup komputer. Secangkir kopi telah lama habis. Beberapa halaman tulisan telah selesai. Namun yang paling berharga bukanlah jumlah halaman yang berhasil saya tulis. Yang saya bawa pulang adalah ketenangan.
Biasanya usai menunaikan salat Asar di Masjid Al Hasanah, saya kembali menuju kediaman di Renon untuk melanjutkan aktivitas lainnya. Begitulah hampir setiap akhir pekan saya jalani. Sederhana. Namun penuh makna.
Perjalanan ke Watercress bukanlah perjalanan untuk mencari hiburan. Melainkan perjalanan untuk menjaga percakapan dengan diri sendiri. Di tempat inilah saya belajar bahwa menulis bukan hanya aktivitas menyusun kalimat. Menulis adalah cara mendengarkan kehidupan.
Mendengarkan debur ombak yang tidak jauh dari Watercrees. Mendengarkan desir angin yang melintasi hamparan sawah. Mendengarkan percakapan para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dunia. Dan yang terpenting, mendengarkan suara hati sendiri. Banyak tulisan yang lahir dari meja sederhana di Watercress. Sebagian menjadi artikel. Sebagian menjadi bahan renungan. Sebagian lagi tumbuh menjadi bab-bab dalam buku yang sedang saya tulis.
Saya semakin percaya bahwa setiap penulis membutuhkan ruang yang membuatnya merasa pulang. Bukan karena ruang itu paling indah. Tetapi karena di sanalah pikirannya merasa bebas, hatinya merasa tenang, dan kata-katanya menemukan arah. Bagi saya, Watercress Berawa adalah ruang itu.
Kelak, ketika masa penugasan di Pulau Dewata berakhir dan saya kembali ke Jakarta, mungkin saya tidak akan selalu mengingat rasa hot caffè latte yang saya nikmati setiap akhir pekan. Namun saya yakin akan selalu mengingat meja yang sama, keramahan para pelayan, hamparan sawah yang meneduhkan pandangan, dan suasana tenang yang telah menemani lahirnya begitu banyak tulisan.
Watercrees tidak hanya sebuah kafe di Berawa. Di kafe ini saya menemukan sebuah ruang yang mengajarkan bahwa inspirasi tidak perlu dikejar ke tempat yang jauh. Ia tumbuh ketika kita menyediakan waktu untuk berhenti, bersyukur, dan setia merangkai kata demi kata. Selama menjalani amanah di Pulau Dewata, Watercress Berawa akan selalu dikenang sebagai tempat saya merangkai kata, merawat mimpi, dan mensyukuri setiap perjalanan yang telah Tuhan titipkan dalam kehidupan.
Watercrees Berawa, 11 Juli 2026



