Oleh : Adrinal Tanjung
Pagi ini saya menikmati hangatnya mentari di Pantai Segara Ayu Desa Sanur. Saya menikmati suasana pagi yang selalu menghadirkan ketenangan. Di tengah aktivitas pengunjung di sekitar pantai yang berolahraga dan bersepeda, saya memilih berjalan sambil mendengarkan sebuah tembang yang beberapa hari terakhir begitu akrab di telinga, In The Miror of Life karya Rafael Valerio.
Lagu itu saya putar berulang kali. Entah sudah berapa kali pagi ini. Setiap kali mendengarnya, ada bagian dalam diri yang tersentuh. Ada ruang-ruang sunyi yang tiba-tiba terbuka, menghadirkan kenangan, pengalaman, dan pelajaran hidup yang selama ini tersimpan dalam perjalanan waktu.
Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, saya kembali merenungkan perjalanan hidup yang telah membawa saya sampai pada titik hari ini. Perjalanan yang tidak selalu mudah. Perjalanan yang kadang penuh kejutan. Perjalanan yang sesekali menghadirkan kegembiraan, tetapi tidak jarang pula menyuguhkan kekecewaan dan ketidakpastian.
Ketika masih muda, saya sering berpikir bahwa hidup berjalan sesuai dengan rencana yang dibuat manusia. Jika bekerja keras, maka hasil akan segera datang. Jika berdoa, maka jawaban akan segera diberikan. Jika memiliki impian, maka impian itu akan terwujud sesuai waktu yang kita harapkan.
Namun kehidupan ternyata mengajarkan hal yang berbeda. Ada doa yang dijawab dengan cepat. Ada doa yang harus menunggu bertahun-tahun. Ada harapan yang datang sesuai rencana. Ada pula yang hadir melalui jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Ketika menoleh ke belakang, saya mulai menyadari sesuatu yang menarik. Banyak hal yang pernah saya pikirkan, impikan, dan doakan ternyata benar-benar terwujud. Tidak semuanya. Namun cukup banyak untuk membuat saya percaya bahwa kehidupan memiliki cara yang misterius dalam bekerja.
Hanya satu hal yang sering berbeda. Waktunya. Sering kali saya merasa sesuatu datang terlambat. Sering kali saya berharap kesempatan itu hadir lebih cepat. Sering kali saya bertanya mengapa harus menunggu begitu lama. Namun seiring bertambahnya usia, saya mulai memahami bahwa keterlambatan yang saya rasakan sesungguhnya hanyalah perbedaan antara waktu yang saya inginkan dan waktu yang telah ditentukan-Nya.
Apa yang dahulu saya anggap sebagai penundaan, ternyata menjadi kesempatan untuk belajar. Apa yang dahulu saya sesali, ternyata membentuk kedewasaan. Apa yang dahulu tidak saya pahami, kini perlahan menunjukkan maknanya.
Saya teringat berbagai peristiwa dalam kehidupan yang baru terasa indah setelah semuanya berlalu. Saat menjalaninya, saya tidak mengerti mengapa harus demikian. Namun ketika melihatnya dari jarak waktu yang cukup panjang, semuanya tampak tersusun dengan rapi seperti potongan-potongan puzzle yang akhirnya membentuk sebuah gambar yang utuh.
Mungkin memang begitulah cara kehidupan bekerja. Kita hanya melihat satu langkah di depan. Sementara Tuhan melihat keseluruhan perjalanan. Kita sering memohon agar segala sesuatu terjadi sesuai keinginan kita. Padahal belum tentu kita mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita sendiri.
Pagi ini, di bawah langit Bali yang cerah, saya kembali belajar tentang kepercayaan. Percaya bahwa setiap usaha memiliki waktunya. Percaya bahwa setiap doa didengar. Percaya bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Dan percaya bahwa apa yang menjadi bagian kita akan menemukan jalannya pada saat yang tepat.
Tidak lebih cepat. Tidak lebih lambat. Tepat pada waktunya. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan. Hidup adalah tentang belajar menerima bahwa ada kehendak yang lebih besar daripada rencana-rencana yang kita susun.
Matahari pagi semakin tinggi. Tembang itu masih mengalun lembut. Dan hati saya dipenuhi rasa syukur. Syukur atas perjalanan yang telah dilalui. Syukur atas doa-doa yang telah dijawab. Syukur atas penantian yang mengajarkan kesabaran. Serta syukur atas keyakinan bahwa segala sesuatu yang baik akan datang pada waktu yang telah ditentukan-Nya.
Kota Denpasar, 3 Juli 2026



