Oleh : Adrinal Tanjung
Ada satu pelajaran yang baru benar-benar dipahami Hanafi setelah hampir satu tahun berada di Pulau Dewata. Takdir tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan. Sering kali ia hadir sebagai kejutan, mengubah rencana yang telah disusun dengan rapi, bahkan menghadirkan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Namun ketika waktu berjalan dan kita menoleh ke belakang, barulah tampak bahwa setiap peristiwa sesungguhnya sedang diarahkan menuju tujuan yang lebih baik. Begitulah yang dialami Hanafi.
Ketika surat keputusan mutasi ke Pulau Dewata diterimanya, yang pertama kali muncul bukanlah bayangan tentang pantai-pantai yang indah atau pengalaman baru di Bali. Yang memenuhi pikirannya justru kegelisahan. Waktu yang tersisa menuju akad nikah dan resepsi putri pertamanya tinggal sekitar lima minggu.
Persiapan pernikahan yang telah dirancang bersama keluarga belum sepenuhnya rampung. Masih ada banyak hal yang harus dipastikan berjalan baik. Sebagai seorang ayah, Hanafi tentu ingin mendampingi putri tercintanya melewati salah satu hari terpenting dalam hidupnya.
Namun di saat yang hampir bersamaan, amanah negara datang memanggil.
Ia harus bersiap meninggalkan Jakarta dan memulai penugasan di Pulau Dewata. Malam-malam setelah menerima surat keputusan itu menjadi malam yang panjang.
Sesekali Hanafi memandangi daftar persiapan pernikahan yang masih harus diselesaikan. Di meja yang sama tergeletak pula berkas-berkas perpindahan tugas yang tidak mungkin diabaikan. Dua amanah besar hadir bersamaan. Sebagai seorang ayah. Dan sebagai seorang abdi negara. Dalam keheningan malam, Hanafi berdoa,
"Ya Allah, Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik. Berikanlah kemudahan kepada keluargaku, lapangkan hatiku, dan tuntunlah aku menjalankan amanah-Mu dengan sebaik-baiknya."
Perasaan galau itu sangat manusiawi. Ia ingin lebih lama berada di sisi keluarga. Ia ingin memastikan setiap persiapan berjalan sempurna. Namun ia juga memahami bahwa pengabdian kepada negara adalah amanah yang telah dipilihnya sejak lama. Tidak semua penugasan dapat dipilih waktunya, dan tidak semua rencana berjalan sesuai keinginan.
Akhirnya Hanafi memilih berserah. Ia percaya bahwa ikhtiar adalah kewajiban, sedangkan hasil akhirnya adalah ketetapan Allah. Hari-hari berikutnya berlalu begitu cepat.
Dengan dukungan keluarga, doa orang-orang terdekat, dan pertolongan Allah, satu demi satu persoalan dapat diselesaikan. Pernikahan putri pertamanya berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Tak lama kemudian, Hanafi memulai lembaran baru pengabdiannya di Pulau Dewata.
Semula ia mengira Bali hanyalah tempat bekerja. Tempat menjalankan amanah. Tempat melanjutkan pengabdian. Namun hari demi hari mengajarkannya sesuatu yang jauh lebih dalam. Di Pulau Dewata, ia menemukan irama hidup yang berbeda.
Menjelang subuh menjadi waktu paling berharga untuk menulis. Di sela-sela tugas kedinasan, ia belajar menikmati jeda.
Pantai Segara, Pantai Sindu, Pantai Semawang, Pantai Berawa, Pantai Nelayan, dan Pantai Batu Bolong menjadi ruang-ruang sunyi tempat I a berdialog dengan dirinya sendiri. Debur ombak seolah menghapus penat. Semilir angin membawa ketenangan. Langit senja mengajarkannya bahwa setiap akhir selalu menyimpan harapan akan fajar yang baru.
Pada waktu yang hampir bersamaan, grup WhatsApp alumni SMP kembali hidup. Damanhuri dengan penuh semangat menghubungi satu demi satu sahabat lama. Rizal mulai membuka kembali kenangan yang nyaris terlupakan. Wawan, Nurlela, Khairil, dan sahabat-sahabat lainnya ikut berbagi cerita tentang perjalanan hidup mereka selama lebih dari empat puluh tahun.
Tanpa disadari, semua kisah itu berkumpul di hadapan Hanafi. Setiap pagi sebelum fajar. Setiap sore di tepi pantai. Setiap akhir pekan yang tenang. Kenangan demi kenangan berubah menjadi paragraf.
Paragraf demi paragraf menjelma menjadi bab. Dan bab demi bab akhirnya membentuk sebuah buku. Suatu sore, ketika membaca ulang naskah yang hampir rampung, Hanafi terdiam cukup lama.
Ia lalu bertanya dalam hati,
"Bagaimana jika aku tidak pernah dipindahkan ke Bali?"
Ia mencoba membayangkannya. Mungkin ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Mungkin ia tetap menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Mungkin ia tetap bertemu para sahabat dalam sebuah reuni.
Namun, mungkinkah Jejak Hanafi di Pulau Dewata lahir?
Hanafi tersenyum. Jawabannya terasa begitu jelas. Mungkin tidak.
Mungkin tanpa pagi-pagi yang sunyi di Pulau Dewata, ia tidak akan memiliki ruang untuk menulis. Mungkin tanpa pantai-pantai yang menenangkan jiwa, ia tidak akan mampu merangkai kenangan menjadi cerita. Mungkin tanpa perjumpaan kembali dengan para sahabat, kisah-kisah itu hanya akan tersimpan sebagai ingatan yang perlahan memudar.
Saat itulah Hanafi memahami sesuatu yang selama ini belum pernah dipikirkannya. Mutasi ke Bali bukan sekadar perpindahan tempat tugas. Ia adalah cara Allah mengubah ritme kehidupannya. Allah memberinya ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas. Allah mempertemukannya kembali dengan sahabat-sahabat yang telah lama terpisah. Allah menumbuhkan rasa syukur melalui setiap langkah pengabdian. Dan Allah menghadiahkan kesempatan untuk melahirkan sebuah karya yang tak pernah masuk dalam rencana hidupnya.
Kini, ketika masa satu tahun di Pulau Dewata hampir genap dan Jejak Hanafi di Pulau Dewata hampir selesai ditulis, Hanafi tidak lagi melihat mutasi itu sebagai peristiwa administratif semata. Ia melihatnya sebagai bagian dari kasih sayang Allah. Sebuah jalan yang mungkin tampak berliku di awal, tetapi ternyata mengantarkannya pada begitu banyak kebaikan.
Ia bersyukur pernah merasa galau. Ia bersyukur pernah diuji dengan pilihan-pilihan yang tidak mudah. Karena tanpa semua itu, mungkin ia tidak akan pernah belajar bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu tersimpan hikmah yang sering kali baru dipahami setelah perjalanan hampir selesai.
Hanafi memandang langit Bali yang mulai berwarna keemasan. Dengan hati yang tenang ia berbisik,
"Ya Allah, dahulu aku mengira Engkau hanya memindahkanku ke tempat tugas yang baru. Kini aku mengerti, Engkau sedang membawaku menuju ruang untuk lebih mengenal diri, lebih mensyukuri hidup, lebih menghargai persahabatan, dan meninggalkan jejak melalui sebuah karya."
Takdir memang tidak selalu membawa kita ke tempat yang kita rencanakan. Namun takdir selalu membawa kita ke tempat yang paling kita butuhkan untuk bertumbuh. Di sanalah Hanafi menemukan makna bahwa pengabdian bukan hanya tentang bekerja dengan baik, melainkan juga tentang merawat syukur, menjaga persahabatan, dan mengubah setiap pengalaman menjadi manfaat bagi orang lain. Dan Pulau Dewata, yang semula hanya sebuah tempat penugasan, perlahan menjelma menjadi ruang yang mempertemukan amanah, keindahan, persahabatan, dan lahirnya sebuah warisan yang akan dikenang: Jejak Hanafi di Pulau Dewata.
Kota Denpasar, 7 Agustus 2026


