Oleh : Dikdik Sadikin
ADA ORANG yang sejak awal tampak ditakdirkan menjadi penulis. Ada pula orang yang justru menemukan jalan kepenulisannya dari sebuah peristiwa yang semula tampak biasa saja. Adrinal Tanjung, bagi saya, termasuk dalam golongan kedua. Ia tidak datang kepada dunia tulis-menulis dengan gegap-gempita seorang yang sejak muda sudah merasa dirinya sastrawan. Ia datang melalui jalan yang sederhana, bahkan agak tak terduga: keinginan untuk pindah ke Jakarta.
Saya mengenal Adrinal cukup lama, sejak masa-masa awal tahun 2000-an. Ketika itu ia masih bertugas di Perwakilan BPKP Sulawesi Utara di Manado. Hubungan kami bermula dari percakapan-percakapan panjang lewat telepon. Tidak jarang ia menelepon saya berjam-jam. Isi percakapan kami bermacam-macam, tetapi salah satu yang paling sering muncul adalah keinginannya untuk bisa pindah ke Jakarta.
Waktu itu, terus terang, Adrinal belum dikenal sebagai orang yang menulis. Ia belum hidup dalam dunia kepenulisan sebagaimana sekarang. Ia hanya seorang pegawai BPKP yang punya harapan untuk bisa bertugas di pusat. Namun dalam percakapan-percakapan panjang itu, saya menangkap ada sesuatu yang lain dalam dirinya: kegelisahan, kepekaan, dan kemampuan bercerita. Mungkin saat itu ia sendiri belum menyadari bahwa di balik keinginannya pindah ke Jakarta, sesungguhnya ada jalan lain yang sedang menunggu: jalan kepenulisan.
Saat itu saya berada di Puslitbangwas BPKP dan juga dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Warta Pengawasan, majalah yang dikelola oleh Puslitbangwas BPKP. Saya lalu mengusulkan kepada Kepala Puslitbangwas BPKP agar Adrinal dapat ditarik ke Jakarta untuk memperkuat jajaran redaksi majalah tersebut. Alasan saya sederhana: Puslitbangwas membutuhkan orang yang bisa dikembangkan untuk menulis. Majalah Warta Pengawasan membutuhkan energi baru. Dan saya melihat Adrinal memiliki potensi itu, meskipun waktu itu ia belum benar-benar mengenal dunia tulis-menulis.
Akhirnya, Adrinal pindah ke Jakarta. Ia menjadi pegawai Puslitbangwas dan mulai ikut dalam denyut kegiatan Majalah Warta Pengawasan. Dari sanalah perjalanan kepenulisannya menemukan pintu pertama. Ia belajar menulis, membaca naskah, memahami kerja redaksi, menangkap isu, menyusun gagasan, dan perlahan-lahan menemukan suaranya sendiri.
Saya menyaksikan bagaimana ia tumbuh dari seseorang yang mula-mula hanya ingin pindah ke Jakarta menjadi seorang yang kemudian memilih hidup bersama kata-kata.
Perjalanan itu tentu tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada penulis yang lahir hanya dari satu kesempatan. Penulis lahir dari ketekunan, disiplin, kegelisahan, luka, cinta, dan kesediaan untuk terus duduk di hadapan sunyi. Adrinal menjalani semua itu. Ia menulis di sela-sela tugas birokrasi, di antara rapat, perjalanan dinas, penugasan, keluarga, dan dinamika hidup yang tidak selalu mudah. Perlahan, tulisan tidak lagi menjadi aktivitas tambahan baginya. Menulis menjadi ruang batin. Menulis menjadi cara merawat diri. Menulis menjadi cara memahami hidup.
Kini, setelah dua dekade menulis dan menghasilkan begitu banyak karya, saya melihat perjalanan Adrinal sebagai bukti bahwa jalan hidup sering kali dibuka melalui pintu yang tidak kita duga. Dalam buku Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata, ia sendiri menyebut bahwa menulis telah menjadi “jalan pulang”. Sebuah cara untuk kembali ke sumber makna, menjernihkan pikiran, dan merawat rasa syukur. Buku itu lahir dari penugasan di Bali, tetapi sesungguhnya ia berbicara lebih luas tentang pengabdian, keluarga, persahabatan, rasa syukur, dan perjalanan batin seorang birokrat penulis. Dalam naskah bukunya, Adrinal juga menegaskan bahwa karya tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang “dua dekade merangkai kata” yang dipenuhi dinamika dan pembelajaran.
Yang menarik dari perjalanan Adrinal adalah bahwa pada akhirnya ia harus berhadapan dengan pilihan besar: terus berjalan dalam karier struktural pengawasan di BPKP, atau semakin serius menekuni jalan kepenulisan. Pilihan seperti itu tidak pernah sederhana. Dunia birokrasi memberi jalur karier, jabatan, struktur, dan kepastian tertentu. Dunia menulis memberi ruang batin, makna, kebebasan, tetapi juga menuntut kesetiaan yang tidak ringan. Adrinal tampaknya memilih untuk tidak meninggalkan salah satunya secara kasar, melainkan merangkai keduanya: tetap menjadi birokrat, tetapi dengan jiwa seorang penulis.
Namun, di balik semua pencapaian Adrinal, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: dukungan keluarga, terutama istri. Tidak mungkin seorang penulis dapat berjalan sejauh itu tanpa ada rumah yang memahami sunyinya. Tidak mungkin seseorang mampu menulis puluhan buku jika di belakangnya tidak ada keluarga yang memberi ruang, doa, kesabaran, dan pengertian. Dalam dunia kepenulisan, yang tampak di depan publik adalah nama penulis di sampul buku. Tetapi di balik setiap buku, sering kali ada istri yang memahami waktu-waktu panjang ketika suaminya tenggelam dalam tulisan, ada keluarga yang merelakan sebagian perhatian terbagi kepada kata-kata, ada doa yang menjaga agar semangat tidak padam.
Saya mengenal hubungan keluarga kami dengan keluarga Adrinal sebagai hubungan yang baik dan hangat. Kami pernah saling mengunjungi. Ada kedekatan yang tidak hanya dibangun oleh urusan pekerjaan, tetapi juga oleh rasa kekeluargaan. Terakhir, saya juga hadir dalam pernikahan puteranya, Ilham. Momen itu bagi saya bukan sekadar menghadiri undangan seorang sahabat, melainkan menyaksikan satu fase penting dalam perjalanan keluarga Adrinal. Di sana saya melihat bahwa di balik seorang penulis yang produktif, ada keluarga yang menjadi akar, tempat kembali, dan sumber kekuatan.
Karena itu, ketika Adrinal merayakan 28 tahun pernikahannya sekaligus meluncurkan buku Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata, bagi saya dua peristiwa itu sangat indah bila diletakkan berdampingan. Pernikahan dan kepenulisan sama-sama membutuhkan kesetiaan. Keduanya tidak cukup hanya dimulai dengan semangat, tetapi harus dirawat dengan kesabaran. Keduanya mengenal musim terang dan musim sulit. Keduanya menuntut komitmen untuk terus kembali: kembali kepada keluarga, kembali kepada makna, kembali kepada niat baik, dan kembali kepada rasa syukur.
Adrinal hari ini telah berjalan jauh. Dari Manado, Jakarta, berbagai penugasan, hingga Pulau Dewata; dari percakapan panjang lewat telepon, ruang redaksi Warta Pengawasan, hingga panggung peluncuran buku; dari pegawai yang ingin pindah ke Jakarta, hingga seorang birokrat penulis yang telah meninggalkan jejak literasi yang tidak sedikit.
Perjalanan itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari ketekunan, pergaulan yang baik, kesempatan yang dimanfaatkan, keluarga yang mendukung, dan hati yang terus mencari jalan pulang melalui tulisan.
Saya bersyukur pernah menjadi bagian kecil dari pintu awal perjalanan itu. Tetapi selebihnya, Adrinal sendirilah yang menempuh jalannya. Ia yang duduk menulis. Ia yang menjaga nyala. Ia yang terus merangkai kata ketika banyak orang memilih berhenti. Dan keluarganya, terutama istrinya, adalah pihak yang diam-diam ikut menyalakan lampu agar jalan itu tetap terang.
Selamat untuk Adrinal Tanjung atas 28 tahun pernikahan dan peluncuran buku Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata. Teruslah menulis, teruslah pulang kepada makna. Sebab jabatan mungkin memiliki masa, tetapi kata-kata yang ditulis dengan hati akan berjalan lebih jauh daripada usia penulisnya sendiri.
Bogor, 28 Juni 2026


