Ketika Kasih Ibu Menjadi Kompas Kehidupan

Kamis, 30 Juli 2026 Last Updated 2026-07-30T04:55:40Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Bagian Pertama

Pagi itu Canggu masih diselimuti udara yang sejuk. Hanafi duduk di sudut sebuah kafe yang menghadap hamparan sawah. Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan, sementara aroma kopi hangat memenuhi ruangan. Beberapa wisatawan menikmati sarapan, sebagian lainnya sibuk dengan komputer jinjing mereka.

Tak lama lagi  Hanafi harus berangkat ke kantor untuk menjalankan tugas sebagai abdi negara. Namun sebelum itu, ia ingin menuliskan satu lagi kisah sahabat masa SMP yang selama empat puluh tahun tersimpan dalam lorong-lorong kenangan. Namanya Riki.

Teman seangkatan, tetapi berbeda kelas. Hanafi berada di kelas 1.1, sedangkan Riki di kelas 1.2.

Hanafi dan Riki sering berpapasan karena kelas bertetangga. Namun tak banyak komunikasi di antara keduanya. Sesekali pernah saling menyapa ketika bermain di lingkungan sekolah. Di mata teman-temannya, Riki adalah sosok yang mudah dikenali.

Wajahnya teduh. Pembawaannya tenang. Tak sedikit teman-teman perempuan yang diam-diam mengaguminya.

Di usia remaja yang masih lugu, Riki termasuk salah satu anak laki-laki yang banyak mencuri perhatian. Namun siapa yang menyangka, di balik senyum yang selalu tampak tenang itu, tersimpan badai yang tidak pernah benar-benar diketahui oleh teman-temannya.

Riki terlahir sebagai anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Keluarganya hidup berkecukupan. Masa kecilnya dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan. Saat duduk di bangku sekolah dasar, ia termasuk murid yang berprestasi. Hampir setiap semester namanya selalu masuk lima besar di kelas. Guru-guru mengenalnya sebagai anak yang cerdas. Orang tuanya menaruh harapan besar. Begitu pula dirinya.

Ia membayangkan masa depan yang cerah. Namun kehidupan sering kali berubah tanpa memberi tanda. Ketika duduk di kelas enam sekolah dasar, sebuah kenyataan pahit mengguncang keluarganya. Ayahnya ternyata memiliki keluarga lain di Tanjung Priok, Jakarta. Bahkan telah dikaruniai seorang anak. Berita itu menghancurkan hati ibunya.

Rumah yang selama ini penuh tawa perlahan berubah menjadi tempat yang dipenuhi kesedihan. Luka karena pengkhianatan merenggut ketenangan keluarga.

Riki masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Namun ia cukup dewasa untuk merasakan bahwa sejak hari itu, hidupnya tidak lagi sama. Setelah lulus sekolah dasar, hampir tak ada lagi yang mengarahkan langkahnya.

Ia mendaftarkan diri sendiri ke SMP. Tidak ada yang mendampingi. Tidak ada yang bertanya ingin menjadi apa kelak. Perlahan ia kehilangan arah. Semangat belajar memudar. Pergaulan mulai mengambil alih. Riki terseret ke lingkungan remaja yang gemar berhura-hura. Hari demi hari berlalu tanpa tujuan yang jelas. Masa-masa yang seharusnya menjadi pondasi masa depan justru dipenuhi kegelisahan yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Hanafi yang sesekali bertemu dengannya hanya melihat Riki seperti remaja kebanyakan.

Tak ada yang benar-benar tahu luka yang sedang dipikul sahabatnya itu. Masa itu terus berlanjut hingga mereka lulus SMA. Sempat muncul secercah harapan ketika Riki diterima di sebuah universitas. Namun keadaan keluarga tidak berpihak. Kesempatan itu terpaksa dilepaskan. Impian kembali harus dikubur.

Hari-hari berikutnya menjadi perjalanan panjang mencari arah kehidupan. Riki merantau.


Berpindah dari satu kota ke kota lain. Mencari pekerjaan apa saja yang dapat membuatnya bertahan. Hingga akhirnya ia menetap cukup lama di Kota Medan. Di Pasar Simpang Limun, ia menjadi pedagang kelapa. Pekerjaan yang sederhana. Namun dari sanalah ia belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan kejujuran.

Setiap pagi ia mengangkat kelapa. Melayani pembeli. Menata dagangan. Sore hari pulang dengan tubuh yang lelah. Tetapi perlahan ia mulai mengenal arti kerja keras. Suatu sore, telepon dari kampung halaman mengubah semuanya. Di seberang sana terdengar suara ibunya. Lembut. Penuh kasih.

"Nak..."
Riki terdiam.
"Jangan terlalu jauh merantau."
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
"Pulanglah... Di kampung halaman pun kamu bisa berusaha. Ibu hanya ingin kamu dekat."
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Riki, kata-kata itu terasa seperti pelukan yang selama ini hilang.
Matanya berkaca-kaca.
"Iya, Bu..."

Hanya itu yang mampu diucapkannya.
Dalam hati ia berkata,
"Sejauh apa pun aku melangkah, ternyata rumah tidak pernah berhenti menungguku."
Tak lama kemudian, ia benar-benar pulang.
Bukan karena menyerah.
Melainkan karena ia menemukan kembali arah yang selama ini hilang. Ia sadar, kasih seorang ibu sering kali menjadi kompas yang paling jujur dalam kehidupan.

Empat puluh tahun kemudian. Di Pulau Dewata, Hanafi kembali mengenang sahabat masa kecilnya itu. Debur ombak yang datang silih berganti membuat pikirannya melayang. Betapa setiap orang ternyata memikul cerita yang berbeda. 

Ada yang tumbuh dalam keluarga yang utuh. Ada yang harus belajar dewasa lebih cepat karena keluarganya retak. Ada yang berhasil meraih cita-cita. Ada pula yang harus berkali-kali mengubur impian. Namun kehidupan tidak pernah berhenti hanya karena seseorang pernah kehilangan arah.

Hanafi teringat wajah Riki semasa SMP. Anak yang banyak disukai teman-teman perempuan. Anak yang selalu tampak baik-baik saja. Padahal di balik senyumnya, ada badai yang tidak pernah terlihat.

Mungkin begitulah kehidupan. Tidak semua luka tampak di wajah. Tidak semua air mata jatuh di depan banyak orang. Dan tidak semua orang yang terlihat tersenyum benar-benar sedang baik-baik saja.

Kini Hanafi memahami bahwa masa lalu tidak pernah dapat dihapus. Tetapi masa depan selalu dapat ditulis ulang. Riki telah membuktikannya. Ia pernah kehilangan arah.
Pernah jatuh. Pernah mengubur mimpi. Namun ia memilih bangkit. Sedikit demi sedikit.
Langkah demi langkah.

Karena hidup bukanlah tentang seberapa sempurna perjalanan seseorang. Melainkan tentang keberanian untuk terus berjalan setelah berkali-kali terjatuh. Sebelum menutup komputer jinjingnya, Hanafi menuliskan satu kalimat di buku catatan kecil yang selalu menemaninya.

"Kadang Allah tidak menghilangkan badai dari hidup seseorang. Dia justru mengajarkan cara berlayar melewati badai itu. Dan sering kali, layar pertama yang menyelamatkan adalah doa seorang ibu."

Hanafi memandang langit Canggu yang mulai memancarkan cahaya pagi. Ia menyesap kopi yang mulai mendingin. Lalu bersiap berangkat menjalankan tugasnya.

Sambil tersenyum ia berbisik pelan,

"Terima kasih, Riki. Kisahmu mengingatkanku bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk pulang. Bukan hanya pulang ke kampung halaman, tetapi juga pulang kepada dirinya sendiri, kepada keluarganya, dan kepada harapan yang mungkin pernah hilang."

Pantai Nelayan Canggu di Penghujung Juli 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ketika Kasih Ibu Menjadi Kompas Kehidupan

Trending Now

Profil

iklan