Oleh : Adrinal Tanjung
Pagi itu, langit Pulau Dewata tampak begitu cerah. Dari jendela ruang tunggu bandara, Hanafi memandangi satu demi satu pesawat yang bersiap lepas landas. Di tangannya hanya sebuah tas kecil. Tidak ada koper besar. Tidak ada rencana perjalanan panjang. Ia hanya ingin pulang. Bukan pulang untuk menetap. Bukan pula pulang karena penugasannya telah berakhir.Ia hanya ingin menyapa kota yang telah membesarkannya.
Tiga jam sebelum keberangkatan, Hanafi membuka telepon genggamnya. Jemarinya bergerak perlahan menulis sebuah pesan di grup WhatsApp alumni.
"Assalamu'alaikum, kawan-kawan. Pagi jam 08.30 ini saya terbang ke Padang. Insya Allah nanti siang sudah sampai. Kalau berkenan, kita bertemu sebentar."
Pesan itu terkirim.
Tak sampai satu menit, layar teleponnya dipenuhi balasan.
"Fi... serius?"
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Ini kejutan, ya?"
"Kami datang!"
Hanafi tersenyum kecil. Dalam hati ia berkata, ternyata waktu tidak berhasil menghapus jalan pulang menuju persahabatan.
Entah mengapa, udara itu terasa berbeda. Bukan lebih sejuk. Bukan pula lebih hangat.
Tetapi menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan. Rasa pulang. Di sepanjang perjalanan menuju Kota Padang, matanya tak henti memandang keluar jendela. Bukit-bukit yang menghijau. Warung kecil di tepi jalan. Lalu lintas yang tetap akrab di ingatannya.
Seolah kota itu berbisik pelan,
"Selamat datang kembali."
Di sebuah tempat yang telah disepakati, beberapa sahabat telah lebih dahulu menunggu.
Damanhuri berdiri paling depan. Di sampingnya ada Wawan, Rizal, Ali, Widuri, Seruni, dan beberapa sahabat lain. Tak ada karangan bunga. Tak ada spanduk penyambutan. Tak ada acara resmi. Hanya senyum-senyum yang begitu tulus.
Damanhuri melangkah mendekat.
"Fi..."
Hanafi menatap sahabatnya.
Empat puluh tahun lalu mereka adalah anak-anak SMP yang penuh mimpi. Kini keduanya telah melewati begitu banyak musim kehidupan. Tanpa banyak kata, mereka saling berjabat tangan. Genggaman itu terasa hangat. Hangat yang hanya bisa lahir dari persahabatan yang telah ditempa oleh waktu.
"Terima kasih sudah pulang," ujar Damanhuri pelan.
Hanafi menghela napas.
"Bukan aku yang pulang."
"Lalu?"
"Hatiku yang lebih dulu pulang. Tubuhku hanya menyusul."
Tak seorang pun berbicara beberapa saat.
Masing-masing sedang menata rasa yang tiba-tiba memenuhi dada.
Perjalanan pertama mereka adalah menuju sekolah. Gerbang sekolah itu masih berdiri.
Bangunannya memang telah banyak berubah. Cat tembok berganti. Ruang kelas diperbaiki. Lapangan tampak lebih rapi. Namun bagi Hanafi, yang berubah hanyalah wujudnya. Jiwanya tetap sama.
Ia berjalan perlahan menyusuri lorong sekolah. Sesekali berhenti. Sesekali tersenyum sendiri.
"Di sini kita pernah dihukum berdiri karena terlambat," kata Rizal sambil menunjuk salah satu sudut.
Wawan tertawa. "Yang terlambat itu kamu, Zal. Kami hanya menemani."
Ali ikut menimpali,
"Menemani atau ikut terlambat?"
Gelak tawa pun pecah. Suara tawa itu seperti memantul ke masa lalu. Seakan dinding-dinding sekolah masih mengenali nama-nama mereka.
Widuri berhenti di depan salah satu ruang kelas.
"Dulu kita ingin cepat-cepat lulus." Seruni tersenyum.
"Sekarang justru ingin kembali sebentar."
Kalimat sederhana itu membuat Hanafi terdiam. Memang benar. Ketika masih berada di dalam sebuah masa, manusia sering ingin segera melewatinya. Namun setelah masa itu benar-benar berlalu, justru kerinduanlah yang datang menyapa.
Dari sekolah, mereka menuju Pelabuhan Teluk Bayur. Angin laut bertiup lebih kencang.
Kapal-kapal tampak berbaris tenang di dermaga. Hanafi memandang laut lepas.
Laut yang sama pernah menjadi saksi mimpi-mimpi anak-anak yang ingin melihat dunia lebih luas. Kini Sebagian mereka benar-benar telah menjelajah ke berbagai penjuru negeri.
Namun anehnya, hati tetap kembali ke titik awal.
Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Nirwana. Di sepanjang perjalanan, cerita-cerita lama kembali mengalir tanpa diminta. Tentang guru yang terkenal disiplin. Tentang nilai rapor.
Tentang pertandingan bola voli. Tentang surat-surat kecil yang diam-diam disimpan.
Tentang cinta yang tak pernah sempat diungkapkan. Tentang sahabat-sahabat yang kini telah lebih dahulu berpulang.
Sesekali mereka tertawa hingga air mata keluar. Sesekali pula mereka terdiam cukup lama. Karena tidak semua kenangan sanggup diceritakan dengan kata-kata. Ada yang hanya bisa dipahami oleh hati. Menjelang senja, mereka duduk berjajar di Pantai Nirwana.
Matahari perlahan turun. Cahayanya memantul di permukaan laut. Indah. Tenang.
Seperti mengajarkan bahwa setiap perjalanan, seberapa jauh pun, pada akhirnya selalu mencari jalan untuk pulang.
Hanafi memecah keheningan.
"Kawan-kawan..."
Semua menoleh.
"Terima kasih."
Ali tersenyum.
"Untuk apa?"
"Karena kalian masih mengingatku." Damanhuri menggeleng pelan.
"Persahabatan bukan tentang mengingat."
"Lalu?"
"Persahabatan adalah tentang tidak pernah benar-benar melupakan."
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi terasa begitu dalam. Hanafi memandang wajah-wajah yang telah menemaninya sejak remaja.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa waktu memang berhasil mengubah banyak hal.
Usia bertambah. Rambut memutih. Jabatan datang dan pergi. Anak-anak tumbuh dewasa.
Sebagian sahabat telah lebih dahulu kembali kepada Sang Pencipta. Namun ada satu hal yang tetap bertahan. Ketulusan. Dan ketulusan itulah yang membuat persahabatan mampu melampaui waktu. Malam datang lebih cepat daripada yang mereka inginkan. Tak terasa, waktu kepulangan Hanafi segera datang.
Seperti mengajarkan bahwa setiap perjalanan, seberapa jauh pun, pada akhirnya selalu mencari jalan untuk pulang.
Hanafi memecah keheningan.
"Kawan-kawan..."
Semua menoleh.
"Terima kasih."
Ali tersenyum.
"Untuk apa?"
"Karena kalian masih mengingatku." Damanhuri menggeleng pelan.
"Persahabatan bukan tentang mengingat."
"Lalu?"
"Persahabatan adalah tentang tidak pernah benar-benar melupakan."
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi terasa begitu dalam. Hanafi memandang wajah-wajah yang telah menemaninya sejak remaja.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa waktu memang berhasil mengubah banyak hal.
Usia bertambah. Rambut memutih. Jabatan datang dan pergi. Anak-anak tumbuh dewasa.
Sebagian sahabat telah lebih dahulu kembali kepada Sang Pencipta. Namun ada satu hal yang tetap bertahan. Ketulusan. Dan ketulusan itulah yang membuat persahabatan mampu melampaui waktu. Malam datang lebih cepat daripada yang mereka inginkan. Tak terasa, waktu kepulangan Hanafi segera datang.
Keesokan paginya, perjlanan dilanjutkan menuju Pantai Air Manis. Meskipun tak lama, karena waktu yang semakin sempit. Kemudian bergerak mengantar Hanafi ke bandara. Tidak ada pidato perpisahan. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya jabat tangan yang sedikit lebih erat dari biasanya. Saat memasuki ruang keberangkatan, Hanafi menoleh sekali lagi.
Sahabat-sahabatnya masih berdiri di sana. Masih melambaikan tangan. Masih dengan senyum yang sama seperti empat puluh tahun yang lalu.
Di dalam pesawat yang membawanya kembali ke Pulau Dewata, Hanafi membuka buku catatannya. Ia menulis perlahan,
"Aku akhirnya memahami bahwa pulang bukanlah soal berapa lama kita tinggal. Pulang adalah keberanian untuk kembali menyapa akar yang pernah menumbuhkan kita. Kota boleh berubah, jalan-jalan boleh berganti, bahkan wajah-wajah dapat dimakan usia. Namun selama masih ada sahabat yang menyambut tanpa syarat, kampung halaman akan selalu menemukan cara untuk memeluk kita."
Pesawat terus melaju menembus awan. Sama dengan perjalanan saat keberangkatan. Pesawat juga transit di Bandara Sekarno Hatta selama hampir dua jam. Menjelang sore, Hanafi kembali mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Hanafi kembali menjalankan tugasnya sebagai abdi negara.
Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia membawa pulang oleh-oleh yang tak mungkin dibeli di toko mana pun. Bukan makanan khas. Bukan cendera mata. Melainkan keyakinan bahwa manusia boleh mengembara ke mana saja, menapaki berbagai kota, mengejar berbagai cita-cita, dan menjalani beragam peran. Tetapi di sudut terdalam hatinya, akan selalu ada sebuah kota yang diam-diam memanggilnya untuk pulang.
Di kota itu, bukan bangunan atau jalan yang paling dirindukan. Melainkan orang-orang yang pernah berjalan bersama, tertawa bersama, bermimpi bersama, lalu tetap saling menyambut, meskipun empat puluh tahun telah berlalu. Barangkali itulah makna sejati sebuah kepulangan. Bukan kembali ke sebuah tempat. Melainkan kembali menemukan bagian dari diri sendiri yang selama ini setia menunggu di rumah bernama kenangan.



.png)