Dr Hery Subowo, Silaturahmi yang Menjadi Teladan Kepemimpinan

Kamis, 05 Februari 2026 Last Updated 2026-02-05T03:52:56Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Shubuh ini saya kembali melanjutkan tulisan, ditemani keheningan. Di waktu ketika dunia belum sepenuhnya terjaga, ingatan saya kembali pada sebuah momen sederhana namun bermakna, kehadiran Dr. Hery Subowo dan istri di penghujung acara resepsi pernikahan Ananda.

Di tengah padatnya agenda yang beliau emban sebagai pejabat tinggi di BPK RI, kehadiran itu terasa istimewa. Bukan semata karena jabatan, tetapi karena niat. Usai memberi ucapan selamat, beliau berbisik pelan bahwa pada hari yang sama, ada tiga undangan yang harus dihadiri. Dengan pertimbangan jarak dan waktu, beliau berikhtiar untuk tetap hadir di ketiganya. Sebuah pilihan yang mencerminkan penghargaan terhadap silaturahmi. 

Bagi saya, itulah potret kepemimpinan yang hidup. Kepemimpinan yang tidak hanya hadir di ruang rapat dan dokumen resmi, tetapi juga di ruang-ruang kemanusiaan. Kepemimpinan yang memahami bahwa kehadiran adalah bahasa paling jujur dari penghormatan.


Dr. Hery Subowo saya kenal sebagai sosok yang rendah hati. Selain mengemban amanah sebagai Staf Ahli Bidang Manajemen Risiko di BPK RI, beliau juga menjabat sebagai Presiden ACFE Indonesia Chapter periode 2024–2026. Beragam jabatan strategis pernah beliau lalui, termasuk sebagai Kepala Perwakilan BPK Jawa Tengah. Namun, semua itu tidak mengurangi kesederhanaan sikap dan kesediaan untuk tetap terhubung dengan semua kalangan.

Lahir di Jakarta, 7 Mei 1971, di sela kesibukannya beliau juga aktif menulis. Beberapa buku yang ditulis oleh alumnus Doktor Universitas Negeri Jakarta ini sudah diterbitkan di lima tahun terakhir. Saya masih ingat, saat awal saya mendirikan Komunitas Satu Birokrat Satu Buku (Sabisabu), beliau termasuk pejabat yang memberi dukungan nyata. Beberapa kegiatan komunitas tersebut didukung dan dihadiri beliau. Sebuah bentuk kepercayaan yang memberi energi bagi gerakan menulis di kalangan birokrat.

Karena itu, kehadiran beliau di pernikahan Ananda saya maknai bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi juga sebagai bagian dari rangkaian panjang dukungan, perhatian, dan silaturahmi yang dijaga dengan konsisten. Di sanalah saya belajar bahwa kepemimpinan sejati tidak pernah terputus dari relasi dan silaturahmi merupakan amanah.

Di hari resepsi itu pula, saya meluncurkan buku Refleksi 55: The Power of Silaturahmi. Sebuah kebetulan yang terasa seperti peneguhan makna. Pada hari yang sama, saya mendeklarasikan niat untuk terus berkarya, melahirkan buku-buku berikutnya, termasuk tentang kepemimpinan dan jejak langkah para sahabat serta rekan yang telah banyak memberi dukungan dalam perjalanan menulis dan Komunitas Sabisabu. 

Semua itu semakin menguatkan keyakinan saya bahwa silaturahmi adalah sumber energi kepemimpinan. Ia memperpanjang usia pengabdian, meluaskan pengaruh kebaikan, dan menjaga hati tetap rendah meski amanah kian besar.

Di shubuh yang hening ini, saya kembali merenung, pada akhirnya hidup dan jabatan akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya tentang capaian, tetapi juga  tentang kehadiran. Sejauh mana kita meluangkan waktu, menjaga hubungan, dan memuliakan sesama. Semoga setiap langkah dan setiap silaturahmi yang terus dijaga akan dicatat sebagai ladang amal kebaikan. Semoga saja.

Kota Denpasar, 5 Februari 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dr Hery Subowo, Silaturahmi yang Menjadi Teladan Kepemimpinan

Trending Now

Profil

iklan