Oleh : Adrinal Tanjung
Di usia ketika waktu tak lagi dikejar, subuh menjadi ruang terbaik untuk mendengar suara hati dan membaca kembali jejak syukur.
Menjelang adzan Subuh, saat dunia masih hening dan langkah-langkah hari baru belum sepenuhnya bergerak, saya kembali menulis. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan, seolah pagi memberi ruang khusus untuk berdialog dengan diri sendiri dan dengan Sang Pemilik Waktu.
Kemaren, lengkap sudah usia di bilangan 55. Sebuah usia istimewa yang patut disyukuri dengan penuh kesadaran. Sampai di titik ini tentu banyak dinamika dengan segala warna warninya. Banyak pelajaran yang menempa dan banyak perjumpaan yang membentuk diri. Dan kini, sudah 78 hari saya berada di Pulau Dewata pulau yang indah dan mempesona. Sebuah anugerah yang tidak semua orang berkesempatan merasakannya. Saya sungguh merasa beruntung.
Di sini, hidup terasa lebih bersahabat dengan waktu. Tidak ada kejar-kejaran pagi, tidak ada kemacetan yang menguras emosi, tidak ada kelelahan panjang yang membuat pulang selalu menjelang Isya atau bahkan setelahnya. Ritme hidup menjadi lebih manusiawi. Bergerak dari Jakarta menuju Pulau Dewata saya yakini bukan sekadar perpindahan tugas, melainkan skenario Ilahi. Cara Ilahi mengajari saya untuk bernapas lebih pelan, berpikir lebih jernih, dan mensyukuri hidup dengan segala cerita.
Hari Istimewa
Ucapan hari bahagia mengalir sejak pagi, siang, sore hingga malam. Doa-doa terbaik datang dari berbagai arah. Dari pimpinan, rekan-rekan kerja, sahabat, dan keluarga. Setiap ucapan saya terima bukan sekadar sebagai penanda usia, melainkan sebagai penguat langkah. Terima kasih atas perhatian, doa, dan ketulusan yang menyertai hari istimewa tersebut.
Di usia istimewa 55, harapan saya sederhana namun mendalam. Semoga langkah ke depan senantiasa diberi kesehatan, kesuksesan, dan kebahagiaan yang menenteramkan bersama keluarga. Harapan yang tampaknya sederhana namun perlu usaha untuk merealisasikannya.
Saya memanjatkan doa
Ya Allah, di usia yang Engkau genapkan ini, saya titipkan seluruh langkah ke dalam penjagaan-Mu. Bimbinglah saya agar senantiasa rendah hati dalam setiap capaian, lapangkan dada dalam setiap ujian, dan jernihkan hati dalam setiap keputusan. Jadikan sisa usia sebagai ruang pengabdian yang Engkau ridai, penuh kebermanfaatan. Ajari saya untuk terus bekerja dengan amanah senantiasa memiliki hati yang bersih dan penuh cahaya.
Menutup tulisan ini, saya menghaturkan terima kasih yang tulus kepada pimpinan dan manajemen, rekan-rekan kerja, serta para sahabat yang membersamai perjalanan selama berada di Pulau Dewata ini. Dukungan, perhatian, serta kebersamaan yang terjalin sungguh meringankan langkah dalam bekerja untuk hadir dan bermanfaat. Saya merasakan selalu ada tangan-tangan baik menyertai dan menguatkan yang membuat perjalanan ini terasa lebih bermakna. Semoga segala kebaikan tersebut berbalas keberkahan. Aamiin..
Kota Denpasar, 29 Januari 2026



