Tanpa Memaafkan, Tak Ada Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 Last Updated 2026-01-28T03:37:04Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Pagi ini saya kembali membuka buku berjudul Compassion karya Gede Prama, dan hati saya tertahan cukup lama pada satu gagasan sederhana namun menggugah kehausan dalam air. Sebuah metafora tentang manusia yang hidup di tengah kelimpahan keluarga, pekerjaan, relasi, pencapaian namun tetap merasa kering di dalam batin. Seperti ikan yang mati kehausan di dalam air, kita bisa saja berada di tengah kehidupan, tetapi kehilangan makna hidup itu sendiri.

Saya terdiam. Barangkali inilah yang sering kita alami tanpa benar-benar kita sadari. Kita sibuk mengejar target, menuntaskan tugas, dan memenuhi kewajiban, tetapi lupa menghadirkan kasih sayang dalam setiap perjumpaan. Kita hadir secara fisik, namun absen secara batin. Kita melakukan banyak hal, namun jarang benar-benar melayani dengan hati. Tanpa compassion, hidup menjadi serangkaian aktivitas tanpa kehangatan.

Gede Prama mengingatkan bahwa tanpa kasih sayang, pelayanan, dan kemampuan memaafkan, manusia perlahan kehilangan rasa. Bukan kehilangan segalanya, tetapi kehilangan yang paling penting yaitu kedamaian di dalam diri. Dan mungkin itulah sumber kelelahan terdalam, bukan karena terlalu banyak beban, melainkan karena terlalu sedikit cinta yang mengalir.


Di bagian akhir ulasan, buku Desmond Tutu berjudul No Future Without Forgiveness kembali mengguncang kesadaran saya. Tanpa keberanian memaafkan, tak ada masa depan yang membahagiakan. Luka yang disimpan rapi di sudut hati akan terus bekerja dalam diam. Ia menggerogoti kegembiraan, menyempitkan pandangan, dan membebani langkah ke depan.

Saya pun bercermin. Betapa sering memaafkan terasa lebih berat daripada mengingat luka. Padahal, memaafkan bukan tentang melemah, melainkan tentang memilih merdeka. Merdeka dari amarah, dari dendam, dan dari beban masa lalu yang tak lagi relevan untuk hari ini.

Pagi ini, Compassion tidak sekadar saya baca. Ia mengajak saya berhenti sejenak, menata ulang hati, dan bertanya dengan jujur:

apakah saya sungguh hidup, atau hanya sekadar ada?
apakah kasih sayang sudah menjadi napas keseharian, atau hanya wacana yang indah di kepala?

Barangkali, di sanalah perjalanan batin itu dimulai saat kita berani menghadirkan cinta, melayani dengan tulus, dan memaafkan dengan lapang. Agar kita tidak lagi menjadi makhluk yang kehausan, di tengah air kehidupan yang sesungguhnya telah tersedia.

Kota Denpasar, 28 Januari 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tanpa Memaafkan, Tak Ada Masa Depan

Trending Now

Profil

iklan