Oleh : Adrinal Tanjung
Di antara berbagai catatan reflektif yang dimuat dalam buku Menulis Jalan Pulang, 60 Hari di Pulau Dewata, ada bagian yang terasa dekat di hati, tentang perjalanan rekan-rekan Akuntansi 89 Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, lebih dari 36 tahun saat kaki pertama kali melangkah di Jl Perintis Kemerdekaan 77. Masa ketika semuanya masih sederhana. Datang ke kampus dengan penuh harapan, menjalani kuliah dengan segala dinamika, dan perlahan menata masa depan dengan cara masing-masing.
Kini, jalan kehidupan membawa kami ke arah yang berbeda-beda. Ada yang meniti karier di birokrasi pemerintahan, dunia perbankan, BUMN, akademisi, pendidik, dunia usaha, dan yang lainnya. Sebagian telah mencapai posisi penting. Namun ketika bertemu kembali, semua pencapaian itu seakan mencair dalam suasana kebersamaan.
Yang tersisa adalah rasa persahabatan. Rasa yang tumbuh dari perjalanan panjang yang pernah dilalui bersama. Di buku ini terdapat dua tulisan yang secara khusus mengulas sosok rekan Akuntansi 89. Bukan sekadar untuk mengenang, tetapi sebagai upaya kecil mengabadikan jejak perjalanan kehidupan.
Ada sosok rekan yang sejak dulu dikenal tekun dan bersungguh-sungguh menjalani kuliah.
Termasuk dua lulusan paling cepat di antara rekan-rekan lainnya. Sebuah ketekunan yang ternyata menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan kariernya di kemudian hari.
Mungkin saat masih duduk di bangku kuliah dulu, tak banyak yang membayangkan ke mana takdir akan membawa masing-masing. Namun waktu membuktikan, bahwa proses yang dijalani dengan kesungguhan tidak pernah mengkhianati hasil.
Tulisan-tulisan tersebut menjadi semakin bermakna karena dilengkapi dua foto dokumentasi saat reuni beberapa waktu yang lalu. Wajah mungkin berubah dimakan usia, namun semangat kebersamaan itu tetap terasa. Tulisan dan foto menjadi cara sederhana menjaga kenangan agar tidak hilang ditelan waktu. Karena ada peristiwa-peristiwa yang terlalu berharga untuk sekadar disimpan dalam ingatan.
Dan benar adanya, bertemu langsung selalu menghadirkan kebahagiaan yang berbeda.
Ada hangat yang tidak tergantikan oleh percakapan di media sosial. Ada rasa yang hanya muncul ketika cerita lama kembali dihidupkan dalam tawa dan percakapan sederhana.
Menulis tentang Akuntansi 89 di tengah suasana Pulau Bali yang tenang menghadirkan refleksi tersendiri. Tentang waktu yang terus berjalan. Tentang persahabatan yang tetap bertahan.
Dan tentang hidup yang pada akhirnya selalu membawa kembali pada kenangan-kenangan masa lalu.
Melalui Menulis Jalan Pulang, 60 Hari di Pulau Dewata, jejak kecil itu mencoba diabadikan.
Agar generasi berikutnya tahu, bahwa di balik perjalanan panjang kehidupan, ada kenangan yang tetap hidup. Dan akhirnya saya memahami satu hal sederhana— bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita melangkah, bukan pula tentang jabatan atau pencapaian yang berhasil diraih. Yang paling membekas justru adalah siapa saja yang pernah berjalan bersama kita dalam perjalanan meraih cita cita.
Waktu boleh terus bergerak. Usia boleh terus bertambah. Rambut boleh memutih perlahan.
Namun kenangan tentang perjuangan, dan kebersamaan itu ternyata tetap hidup di dalam hati.
Mungkin suatu hari nanti, ketika langkah tak lagi sekuat hari ini, dan ketika sebagian dari kami hanya tinggal nama dalam ingatan, tulisan-tulisan kecil ini akan menjadi saksi bahwa kami pernah muda, pernah berjuang, dan pernah berjalan bersama.
Dan di situlah makna sesungguhnya dari mengabadikan jejak kehidupan bukan untuk dikenang sebagai orang hebat, tetapi agar cerita tentang persahabatan, perjuangan, dan ketulusan
tetap hidup melampaui usia kami sendiri. Sebab manusia pada akhirnya akan pergi, tetapi kenangan yang ditulis dengan hati akan selalu menemukan jalan untuk tetap abadi.
Pantai Semawang Sanur, 9 Mei 2026



