Oleh : Adrinal Tanjung
"Jadilah seperti air yang tenang; ia tidak perlu berteriak untuk menunjukkan kedalamannya. Dan jadilah seperti pohon yang rimbun; ia memberi keteduhan bahkan kepada mereka yang datang membawa kapak."
Pagi ini, langit di atas Pantai Semawang, Sanur, tampak cerah dan mempesona. Di sela desir angin laut yang memberikan kenyamanan, saya menyadari betapa alam selalu punya cara untuk memulihkan jiwa. Menikmati keindahan Semawang pagi ini adalah pengingat nyata tentang apa yang diajarkan Sidharta Gautama "Tidak ada jalan menuju kebahagiaan, karena kebahagiaan itulah jalannya." Kebahagiaan bukan lagi sesuatu yang saya kejar di masa depan, melainkan sesuatu yang saya hirup pagi ini—sebuah dermaga kedamaian tempat batin saya berlabuh.
Menjadi Setenang Pepohonan
Merenungi perjalanan waktu selama hampir tiga dekade bekerja sebagai abdi negara, saya menemukan bahwa memilih sikap "Setenang Pepohonan" adalah sauh yang menjaga saya tetap tegak. Seperti pohon yang tumbuh dalam diam, pengabdian sejati tidak memerlukan sorak-sorai atau ambisi yang menggebu-gebu.
Dalam kurun waktu itu, saya memilih untuk tidak menggebu-gebu, tetap loyal, taat, dan konsisten sesuai aturan yang berlaku. Bekerja dalam diam, namun tetap memastikan ada hasil nyata yang bernilai dan berdampak. Layaknya pohon di tepi dermaga ini, kita tidak perlu sibuk menjelaskan seberapa luas rindang kita; biarkan mereka yang berteduh di bawahnya yang merasakan manfaatnya.
Dua Dekade Menulis
Dermaga kedamaian ini juga menjadi saksi refleksi atas dua dekade perjalanan saya di dunia kepenulisan. Di sela-sela tugas negara, menulis telah menjadi "jalan sunyi" yang mempertemukan saya dengan diri sendiri. Namun, perjalanan ini tidak selalu mendapat dukungan penuh. Ada kalanya angin kritik juga bertiup kencang.
Dua puluh tahun menulis mengajarkan saya bahwa kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Namun, jika kita yakin bahwa apa yang ditulis adalah hal-hal yang memiliki nilai dan mencerahkan, maka apa pun kata dunia biarlah menjadi penguat mental. Kritik adalah "pupuk" yang memperkaya akar kreatifitas kita. Di dermaga ini, saya belajar melepas semua beban ekspektasi itu dan membiarkannya hanyut bersama air pasang.
Semua Arah Indah
Dalam rentang pengabdian yang panjang, saya telah melewati berbagai penugasan dan memahami banyak karakter pimpinan dengan segala gaya kepemimpinannya. Terinspirasi dari semangat Compassion karya Gede Prama, saya belajar bahwa "Semua Arah Indah".
Memahami berbagai gaya kepemimpinan bukan lagi sebuah beban, melainkan proses pendewasaan yang memberi warna pada perjalanan penugasan. Setiap pengalaman dalam penugasan membawa muatan kebijaksanaan yang berbeda. Ketika hati telah menjadi dermaga yang damai, maka ke mana pun angin membawa tugas, arah itu akan selalu menuju pada keindahan.
Ternyata hidup bukanlah tentang seberapa keras kita bersuara, melainkan seberapa dalam kita bermakna. Seperti fajar yang perlahan merekah di ufuk Pantai Semawang, pengabdian dan tulisan adalah cara saya mencintai kehidupan tanpa perlu menuntut pengakuan. Biarlah dunia sibuk dengan kegaduhannya, sementara kita memilih untuk tetap setenang pepohonan dan dahan yang merunduk dalam belas kasih (compassion).
Di Dermaga Kedamaian ini, saya tidak lagi mencari kebahagiaan; saya menyadari bahwa saya telah menjadi bagian dari kebahagiaan itu sendiri. Semua arah adalah indah, dan setiap langkah adalah jalan pulang yang membawa kita kembali pada cahaya yang paling sejati.
Pantai Semawang Sanur, 10 Mei 2026




