Menenun Makna dalam Pengabdian

Selasa, 05 Mei 2026 Last Updated 2026-05-05T11:51:30Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Tiga dekade bukanlah waktu yang singkat. Selama hampir 30 tahun, saya melangkah di birokrasi pemerintahan dengan segala warna dan dinamikanya. Berpindah dari satu meja penugasan ke penugasan lainnya, dari satu jabatan ke jabatan berikutnya. 


Perjalanan ini adalah sebuah rantau yang panjang—dimulai dari akar kuat di Tanah Minang tempat saya lahir dan besar, melintasi hiruk-pikuk Ibu Kota selama 25 tahun. Awal bekerja sebagai abdi negara saya ditempatkan di Sulawesi Utara selama hampir tiga tahun. Sisa sekitar lima tahun masa kerja, langkah kaki membawa saya ke Pulau Dewata. Sebuah kesempatan sekaligus kejutan untuk terus mengabdi dan berkarya untuk bangsa dan negara.

Sekitar enam bulan yang lalu, saat menerima penugasan baru di pulau ini, ada getaran rasa kaget yang muncul di awal. Namun, sebagai seorang abdi negara sekaligus penulis, saya segera menyadari bahwa ini adalah skenario Ilahi. Hingga kini saya percaya skenario Ilahi Adalah yang terbaik. 


Selama lebih 30 tahun meninggalkan tanah kelahiran, saya memegang erat filosofi leluhur Minangkabau, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” . Dan saya percaya atas kemampuan saya untuk beradaptasi dengan pimpinan, rekan kerja, dan lingkungan dimana saya berada.

Bali, dengan segala pesona keindahan dan keheningannya, kini menjadi latar baru bagi kreativitas saya. Pulau ini seolah menawarkan "ruang hening" yang sengaja disiapkan agar saya bisa semakin produktif berkarya. Di sela-sela derap langkah tugas negara, aksara tetap menjadi napas saya. Hingga hari ini, tak kurang dari 50 judul buku telah lahir dari tangan saya—mulai dari ulasan penugasan, catatan catatan reflektif, tata kelola pemerintahan, hingga profil kepala daerah, serta tokoh-tokoh birokrasi.


Pengalaman terlibat dalam penulisan di majalah internal selama tujuh tahun dan berkeliling ke hampir seluruh pelosok Indonesia telah memberi saya modalitas yang kaya untuk terus berbagi. Menulis bagi saya bukan sekadar memindahkan kata ke atas kertas; ia adalah cara saya untuk "membaca" kehidupan dengan lebih jernih. Menulis adalah penyembuhan, jalan untuk bergembira, dan jembatan silaturahmi yang menembus batas jabatan.

Dalam waktu dekat saya ingin melanjutkan kepenulisan dan dinamika seorang abdi negara yang tak pernah berhenti menulis. Di dalamnya, saya merangkai pengalaman tugas dengan perenungan batin, mencoba menunjukkan bahwa di tengah kaku dan dinginnya struktur birokrasi, tulisan mampu menghadirkan kehangatan dan makna.


Penugasan di Pulau Dewata ini kian meyakinkan saya bahwa menulis adalah jalan menuju keberkahan. Mari bersama-sama membaca kehidupan, menemukan kejutan di setiap langkah, dan terus melakukan yang terbaik.

Pantai Semawang Sanur, 5 Mei 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menenun Makna dalam Pengabdian

Trending Now

Profil

iklan