Oleh : Adrinal Tanjung
Terkadang kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk memahami kembali perjalanan yang sedang dijalani. Termasuk dalam menulis. Sebuah proses yang sering kali terlihat sederhana, namun sesungguhnya menyimpan banyak cerita yang tidak selalu tampak di permukaan.
Banyak orang melihat sebuah buku sebagai hasil akhir. Sebuah karya yang rapi, tertata, dan siap dibaca. Namun di balik itu, ada perjalanan panjang—yang bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang ikhtiar, pengorbanan, dan keikhlasan.
Saya mencoba menghitung untuk penulisan buku Menulis Jalan Pulang di Pulau Dewata. Perjalanan pulang pergi Jakarta–Denpasar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Penginapan selama beberapa hari, kebutuhan makan dan transportasi, hingga berbagai pengeluaran tak terduga menjadi bagian dari proses yang tidak bisa dihindari.
Dalam satu perjalanan menulis, biaya yang dikeluarkan sudah cukup signifikan. Dan untuk menghasilkan sebuah karya yang utuh, perjalanan itu tidak cukup dilakukan sekali. Perlu kembali, mengulang suasana, merasakan lagi energi tempat yang sama—hingga kata-kata benar-benar menemukan bentuknya. Asumsi tersebut jika saya sebagai penulis masih berdomisili di Bekasi.
Belum lagi proses setelahnya.Naskah yang harus ditata.
Kalimat yang harus diperhalus.
Struktur yang harus dirapikan.
Hingga akhirnya siap untuk diterbitkan.
Ketika memilih jalur penerbitan mandiri, semua proses itu menjadi tanggung jawab pribadi. Tidak hanya tenaga dan waktu, tetapi juga pembiayaan yang menyertainya. Namun di balik semua itu, ada hal yang jauh lebih penting.
Ada kehadiran orang-orang baik.Rekan, sahabat, dan keluarga yang dengan tulus memberi dukungan.
Selain membantu secara materi, ada juga yang menguatkan keyakinan bahwa langkah ini layak untuk diteruskan.
Dan sisanya menjadi bagian dari ikhtiar pribadi—sebuah pilihan sadar untuk tetap berjalan di jalan ini. Jalan menulis.
Jalan yang mungkin tidak ramai.Jalan yang tidak selalu dipahami.
Dan jalan yang sering kali tidak menjanjikan keuntungan secara materi.
Namun justru di situlah maknanya.
Menulis di Pulau Bali—pulau yang begitu indah dan mempesona—memberi pengalaman yang tidak tergantikan. Di antara debur ombak, langit senja, dan keheningan pagi, kata-kata itu hadir dengan caranya sendiri.
Pelan, jujur, dan penuh makna.
Setiap perjalanan ke tempat-tempat seperti Sanur, Kuta, Canggu, Ubud, hingga Kintamani bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Di sana, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan proses memahami hidup dengan lebih dalam.
Dari sanalah saya belajar satu hal sederhana terkait harga.
Bahwa setiap karya memiliki harga. Ada biaya operasional, harga dalam bentuk waktu, tenaga, dan pengorbanan lainnya.
Namun lebih dari itu, setiap karya juga membawa nilai yang tidak bisa diukur dengan angka. Nilai dari keikhlasan. Nilai dari kesungguhan. Dan nilai dari niat baik yang disematkan dalam setiap kata.
Menulis bukan hanya tentang seberapa besar yang kita keluarkan. Namun juga tentang seberapa tulus kita menjalani setiap prosesnya.
Karena dalam setiap ikhtiar, ada doa yang menyertainya.Dalam setiap langkah, ada harapan yang dititipkan.
Dan dalam setiap karya, ada bagian dari diri kita yang diabadikan.
Ia adalah perjalanan.
Ia adalah pengorbanan.
Ia adalah jejak hati yang dituliskan.
Dan di ujung semua itu, saya hanya berharap satu hal sederhana:
Semoga setiap kata yang dituliskan menjadi kebaikan.
Semoga setiap langkah yang ditempuh bernilai ibadah.
Dan semoga setiap pengorbanan yang diberikan, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia di hadapan-Nya.
Sejatinya yang kita lakukan di dunia ini adalah bagian dari usaha dan pengorbanan. Sementara yang kita tinggalkan melalui karya akan menjadi jejak yang terus hidup bukan hanya di mata manusia, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Semoga tetap semangat, terus berkarya.
Kota Denpasar, 3 April 2026



