Ketika Menulis Menjadi Jalan Pulang

Senin, 25 Mei 2026 Last Updated 2026-05-25T09:23:40Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Tak terasa, enam bulan telah berlalu sejak langkah ini tiba di Pulau Dewata. Waktu berjalan begitu cepat, meninggalkan jejak-jejak kecil yang perlahan membentuk cerita panjang tentang pengabdian, keluarga, persahabatan, dan perjalanan memahami kehidupan dengan lebih dalam.


Masih terasa jelas dalam ingatan bagaimana semuanya bermula pada pertengahan Oktober 2025. Sebuah pesan penugasan datang tanpa aba-aba di tengah malam yang sunyi. Pulau Dewata menjadi tempat pengabdian baru di saat usia tak lagi muda dan berbagai rencana keluarga sedang dipersiapkan dengan penuh perhatian.

Saat itu, ada kegamangan yang sulit disembunyikan. Bukan karena menolak amanah, tetapi karena hidup mendadak berubah arah begitu cepat. Ada pernikahan Ananda yang sudah di depan mata. Ada rencana-rencana yang telah tersusun rapi. Ada bayangan bahwa sisa masa pengabdian akan berjalan lebih tenang dan lebih dekat dengan keluarga. Namun hidup selalu memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan manusia menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang.


Pulau Dewata kemudian menjadi ruang belajar yang tidak pernah diduga sebelumnya. Belajar menerima perubahan. Belajar menjaga semangat di tengah rasa rindu kepada keluarga. Dan belajar memahami bahwa tidak semua perjalanan hidup harus dimengerti sejak awal. Di tengah perjalanan itu, menulis perlahan kembali menemukan maknanya.

Setiap malam, setiap perjalanan, setiap pertemuan, dan setiap perenungan kecil terasa sayang jika dibiarkan berlalu begitu saja. Maka kata-kata mulai dirangkai. Kalimat demi kalimat dituliskan. Bukan untuk menjadi sesuatu yang besar, melainkan agar hati tetap memiliki ruang untuk bernapas. Barangkali memang benar, bagi sebagian orang, menulis bukan sekadar hobi. Menulis adalah cara bertahan. Menulis adalah ruang teduh. Menulis untuk bergembira. Dan menulis, pada akhirnya, menjadi jalan pulang.


Dari Pulau Dewata itulah kemudian lahir catatan-catatan sederhana yang terangkai dalam buku Menulis Jalan Pulang, 60 Hari di Pulau Dewata. Buku itu menyimpan banyak jejak rasa. Ada kerinduan seorang ayah kepada keluarga. Ada kegelisahan menghadapi perubahan besar dalam hidup. Ada rasa syukur karena tetap diberi kekuatan menjalani amanah. Ada pula kebahagiaan kecil ketika mampu melihat hidup dengan sudut pandang yang lebih jernih. 


Tanpa terasa, perjalanan kepenulisan itu sendiri telah berjalan dua dekade. Perjalanan panjang yang tentu tidak mungkin dilewati sendirian. Ada begitu banyak rekan, sahabat, dan keluarga yang dengan tulus membersamai langkah-langkah kecil ini. Ada yang terus memberi semangat ketika rasa lelah datang menghampiri. Ada yang selalu menyempatkan membaca tulisan sederhana yang dibagikan. Ada yang memberi dukungan baik moril maupun materil agar semangat merangkai kata tetap menyala. 


Semua kebaikan itu menjadi energi yang luar biasa. Karena sesungguhnya, setiap karya tidak lahir hanya dari kemampuan seseorang menulis. Ia lahir dari doa-doa baik, dukungan tulus, dan perhatian banyak orang yang ikut menjaga semangat agar tidak padam. Kini, di tengah rasa syukur menyambut perjalanan pernikahan yang ke-28 tahun, hadir kebahagiaan sederhana menyambut buku terbaru ini. Dua perjalanan panjang berjalan beriringan—perjalanan kehidupan dan perjalanan merangkai kata. Keduanya mengajarkan hal yang sama. tentang kesetiaan menjaga komitmen, tentang bertahan dalam proses yang tidak selalu mudah, dan tentang tetap melangkah meski kehidupan sering menghadirkan kejutan. 

Enam bulan di Pulau Dewata mungkin hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang kehidupan. Namun dari jejak kecil itulah lahir banyak pelajaran berharga. Tentang pengabdian. Tentang keluarga. Tentang persahabatan. Dan tentang keyakinan bahwa selama hati tetap hidup, selalu ada harapan untuk terus berkarya. 


Terima kasih kepada semua rekan dan sahabat yang telah membersamai perjalanan ini selama bertahun-tahun. Terima kasih telah menjadi bagian dari langkah-langkah sederhana dalam menjaga cahaya kata. Semoga kebersamaan ini terus terjaga. Sebab pada akhirnya, manusia mungkin akan pulang ke tempat yang berbeda-beda. Tetapi bagi seorang perangkai kata, menulis akan selalu menjadi jalan pulang yang paling setia.

Kota Bekasi, 25 Mei 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ketika Menulis Menjadi Jalan Pulang

Trending Now

Profil

iklan