Rumah yang Pernah Saya Doakan: Sebuah Doa di Paris Van Java

Senin, 01 Juni 2026 Last Updated 2026-06-01T10:25:25Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Setiap orang mungkin pernah memiliki sebuah tempat yang tanpa disadari meninggalkan jejak mendalam dalam hidupnya. Bagi saya, salah satu tempat itu berada di sebuah kawasan pemukiman di Bandung, kota yang kerap dijuluki Paris Van Java. Di sanalah sebuah rumah mengajarkan saya tentang harapan dan keyakinan bahwa doa yang terus dirawat suatu saat akan menemukan jalannya menuju kenyataan.

Pertengahan tahun 2020, ketika keluarga kami masih menetap di Bandung, saya memiliki kebiasaan berjalan kaki setiap Hari Minggu pagi mengelilingi kompleks pemukiman perumahan tak jauh dari kediaman kami. Udara yang sejuk dan suasana yang tenang selalu menjadi kesempatan yang menyenangkan untuk menikmati waktu.


Di salah satu ruas jalan, berdiri sebuah rumah tiga lantai yang selalu menarik perhatian saya. Rumah itu terletak tepat di depan sebuah kafe yang sering saya kunjungi untuk membaca buku, menulis, atau sekadar menikmati secangkir kopi. Hampir setiap kali saya berada di sana, pandangan saya akan tertuju pada bangunan tersebut.

Rumah itu sebenarnya bukan sekadar bangunan yang megah. Ada sesuatu yang membuatnya tampak istimewa. Mungkin karena desainnya yang sederhana namun berkelas. Mungkin juga karena saya membayangkan kehidupan yang nyaman di dalamnya. Yang jelas, setiap kali melewati rumah itu, saya selalu berhenti sejenak memandangnya. Lalu diam-diam saya berdoa.

"Ya Allah, jika Engkau berkenan, suatu hari nanti izinkan kami memiliki rumah seperti ini."


Doa itu tidak pernah saya ucapkan keras-keras. Ia hanya tersimpan di dalam hati. Namun hampir setiap Minggu pagi, doa yang sama kembali hadir. Berkali-kali. Bertahun-tahun.

Waktu kemudian bergerak membawa banyak perubahan.

Pada pertengahan Juli 2023, keluarga kami berpindah ke rumah lama di Bekasi. Hal ini terjadi setelah putri terkecil melanjutkan pendidikan SMA di Kota Bekasi. Kesibukan baru, lingkungan baru, dan berbagai tanggung jawab membuat rumah tiga lantai di Bandung itu perlahan menghilang dari pikiran. Namun ternyata tidak demikian dengan doa yang pernah saya titipkan kepada langit.


Jauh di dalam hati, keinginan memiliki rumah yang lebih luas tetap hidup. Bukan semata-mata untuk menunjukkan keberhasilan, melainkan untuk menyediakan ruang yang nyaman bagi keluarga dan ruang yang cukup bagi kegemaran saya membaca serta menulis. 

Saya membayangkan sebuah rumah yang memiliki ruang kerja yang nyaman,  perpustakaan kecil. Sebuah tempat untuk menyimpan buku-buku yang selama ini menemani perjalanan hidup. Sebuah ruang yang tenang untuk membaca, menulis, dan melahirkan gagasan-gagasan baru.


Perlahan impian itu mulai menemukan bentuknya. Di tahun 2023 kami mulai melakukan renovasi  terhadap rumah yang telah lama kami tempati. Bangunan lama yang mulai lapuk dirombak secara menyeluruh. Prosesnya tentu tidak mudah. Banyak perhitungan yang harus dilakukan. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dengan matang.


Syukurlah, berbagai jalan kemudahan datang menghampiri. Fasilitas yang diperoleh istri menjelang masa purna tugas di tempatnya bekerja memberikan dukungan yang sangat berarti. Selebihnya, kami berikhtiar mencari sumber pembiayaan lain. Sedikit demi sedikit, impian itu mulai terbangun bersama bata, semen, dan doa-doa yang terus menyertainya. Hingga akhirnya, rumah itu berdiri. Sebuah rumah tiga lantai. 


Belum semegah rumah yang dahulu sering saya pandangi di Bandung. Namun bagi kami, rumah ini memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada ukuran atau kemewahannya. Sebab rumah ini adalah jawaban atas sebuah doa yang pernah dipanjatkan bertahun-tahun sebelumnya.


Di dalam rumah itu kini terdapat perpustakaan keluarga, ruang membaca, dan ruang menulis yang selama ini hanya hadir dalam angan-angan. Salah satu sudutnya dipenuhi rak-rak buku yang berisi karya-karya yang lahir dari perjalanan menulis selama dua dekade. Setiap buku yang tersusun di sana bukan sekadar koleksi, melainkan jejak perjalanan panjang yang penuh pembelajaran.


Kebahagiaan kami semakin lengkap ketika rumah ini mulai menjadi tempat bertemunya gagasan dan persahabatan. Beberapa rekan, sahabat, dan pegiat literasi pernah saya undang ke kediaman. Dua kali acara peluncuran buku diselenggarakan di rumah tersebut, baik secara langsung maupun secara hybrid melalui Zoom. Para rekan, sahabat, kolega, dan pencinta literasi hadir untuk berbagi semangat serta merayakan lahirnya karya-karya baru. 


Saat itulah saya menyadari bahwa rumah ini tidak hanya menjadi tempat tinggal. Ia telah menjelma menjadi rumah literasi. Rumah yang menyimpan buku-buku, melahirkan tulisan-tulisan, mempertemukan banyak orang, dan menghadirkan ruang bagi tumbuhnya gagasan.


Kini, setiap kali berdiri di salah satu lantai rumah ini, pikiran saya sering kembali kepada Minggu-minggu pagi di Bandung beberapa tahun silam. Saat memandang sebuah rumah tiga lantai di seberang jalan, lalu berdoa dalam diam. 


Sebuah penunjuk arah agar saya terus melangkah, terus berikhtiar, dan terus percaya. Dan pada akhirnya, doa-doa yang dijaga dengan kesabaran tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu terbaik untuk dikabulkan. Dan ketika waktu itu tiba, yang berdiri bukan sekadar rumah tiga lantai. Yang berdiri adalah bukti bahwa harapan dan keyakinan dapat bertemu dalam satu bentuk yang nyata. Sebuah rumah yang pernah saya doakan. Sebuah doa yang berawal dari Paris Van Java.

Menjelang siang Berawa Canggu Kuta Utara, 1 Juni 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rumah yang Pernah Saya Doakan: Sebuah Doa di Paris Van Java

Trending Now

Profil

iklan