Oleh : Adrinal Tanjung
Keberuntungan memihak yang berani. Keberuntungan memihak yang bernyali besar. Keberuntungan menyukai tindakan yang mengambil risiko. Mantapkan diri dan berbuat beranilah sekarang, dalam segala hal yang penting.
(Ryan Holiday dalam buku Keberanian adalah Panggilan untuk Bertindak)
Setelah hampir tiga dekade bekerja di birokrasi pemerintahan, ada satu pelajaran penting yang semakin saya yakini. Salah satu kunci untuk meraih kemajuan dan kesuksesan adalah keberanian. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Justru sebaliknya. Keberanian hadir ketika seseorang tetap memilih melangkah meskipun rasa takut itu ada. Sebaliknya, keraguan sering kali menjadi penghambat terbesar dalam kehidupan. Keraguan membuat langkah tertunda. Keraguan membuat peluang berlalu begitu saja. Keraguan membuat seseorang lebih sibuk memikirkan kemungkinan gagal daripada peluang untuk berhasil.
Semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa kemajuan sering kali bukan ditentukan oleh siapa yang paling pintar atau paling berpengalaman. Kemajuan lebih banyak ditentukan oleh siapa yang berani mengambil langkah pertama. Pelajaran itu semakin terasa sejak saya berada di Pulau Dewata.
Tujuh bulan terakhir menjadi periode yang penuh pembelajaran. Jauh dari keluarga, berada di lingkungan baru, menjalani amanah baru, dan beradaptasi dengan berbagai perubahan membuat saya melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Saya mulai belajar untuk lebih berani menantang hidup.
Berani memulai sesuatu meskipun hambatan terlihat di depan mata. Berani bergerak meskipun tenaga dan sumber daya yang dimiliki terbatas. Berani melangkah meskipun belum mengetahui secara pasti seperti apa hasil akhirnya.
Perlahan-lahan saya merasakan bahwa keberanian melahirkan kemajuan. Tidak selalu berupa lompatan besar, tetapi kemajuan-kemajuan kecil yang terus bertambah dari hari ke hari. Kemajuan kecil itu pada akhirnya membangun keyakinan bahwa selama kita terus bergerak, selalu ada peluang untuk bertumbuh.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika menyelesaikan buku yang berjudul Refleksi 55. Buku tersebut saya rampungkan ketika perjalanan hidup membawa saya ke Pulau Dewata. Menjelang buku itu terbit, saya justru mendapatkan amanah baru dan harus berpindah tugas ke Bali. Situasi yang tentu tidak sederhana. Di tengah proses adaptasi dan berbagai kesibukan, muncul pertanyaan-pertanyaan yang wajar. Apakah buku ini akan selesai? Apakah dapat diterbitkan? Apakah peluncurannya dapat terlaksana? Namun saya memilih untuk tetap melangkah.
Dengan segala keterbatasan yang ada, buku tersebut akhirnya berhasil diterbitkan dan diluncurkan dalam sebuah acara yang hangat dan penuh makna di Harris Convention Hall Summarecon Bekasi. Kemajuan teknologi yang semakin memudahkan proses penerbitan serta dukungan rekan kerja, sahabat, dan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian tidak pernah berjalan sendirian. Ketika niat baik dipadukan dengan usaha yang sungguh-sungguh, sering kali pertolongan datang melalui tangan-tangan banyak orang.
Keberanian berikutnya hadir saat saya mulai menulis buku Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata. Jika mengingat kembali enam puluh hari pertama berada di Bali, saya masih dapat merasakan kegugupan yang menyertainya. Lingkungan baru, ritme kehidupan yang berbeda, dan berbagai penyesuaian yang harus dilakukan menghadirkan banyak pertanyaan dalam diri. Pada masa-masa itulah menulis menjadi pilihan yang saya ambil.
Menulis menjadi teman perjalanan. Menulis menjadi ruang dialog dengan diri sendiri.
Menulis menjadi cara untuk menyemangati diri ketika hati sedang mencari pijakan. Setiap hari saya merangkai kata. Menuliskan pengalaman. Menyimpan pelajaran. Mengabadikan rasa syukur. Menata harapan. Sedikit demi sedikit tulisan-tulisan itu terkumpul hingga akhirnya menjelma menjadi sebuah naskah buku.
Sejujurnya, saat itu saya tidak memiliki modal yang berlebih untuk menerbitkannya. Kehidupan berjalan sebagaimana biasanya. Penghasilan bulanan digunakan untuk berbagai kebutuhan yang juga tidak sedikit. Secara hitung-hitungan rasional, mungkin ada banyak alasan untuk menunda. Namun keberanian sering kali meminta kita untuk melangkah sebelum semuanya tersedia. Saya percaya bahwa niat baik akan menemukan jalannya. Dan keyakinan itu ternyata tidak salah.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan utama. Rekan dan sahabat yang berkenan memesan buku bahkan sebelum buku tersebut terbit memberikan energi dan harapan yang luar biasa. Sedikit demi sedikit jalan terbuka. Satu per satu tantangan terlewati. Kini buku tersebut telah terbit
Pengalaman-pengalaman itu mengajarkan kepada saya bahwa keberanian bukan hanya soal menghadapi tantangan besar. Keberanian juga hadir dalam keputusan-keputusan sederhana yang diambil setiap hari. Keberanian untuk memulai. Keberanian untuk mencoba. Keberanian untuk tetap berkarya meskipun hasilnya belum pasti.
Di usia yang menjelang 56 tahun, saya merasa tidak lagi memiliki ambisi untuk mengejar karier. Perjalanan panjang telah mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah yang sifatnya sementara. Datang dan pergi mengikuti dinamika organisasi.
Yang lebih penting bagi saya saat ini adalah bekerja dengan baik, memberikan kontribusi terbaik bagi unit kerja, serta menuntaskan setiap penugasan dengan penuh tanggung jawab. Satu hal yang justru semakin menguat dalam diri saya, yaitu keberanian untuk berkarya. Keberanian untuk menulis. Keberanian untuk menerbitkan buku. Keberanian untuk menyuarakan kebaikan dan kebenaran. Keberanian untuk berbagi pengalaman hidup agar dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.
Saya menyadari bahwa tidak ada jaminan sebuah tulisan akan dibaca banyak orang. Tidak ada kepastian sebuah buku akan memberikan dampak yang besar. Namun saya percaya bahwa setiap kata yang ditulis dengan niat baik akan menemukan jalannya sendiri untuk memberi manfaat.
Kini, di pertengahan bulan Juli 2026, ketika sebagian orang mungkin mulai menghitung sisa masa pengabdian, saya justru mulai memikirkan perjalanan-perjalanan baru melalui tulisan. Ide demi ide hadir di sela aktivitas akhir pekan. Kadang muncul saat menikmati pagi yang tenang di Pulau Dewata. Kadang hadir setelah perjumpaan hangat dengan sahabat, rekan kerja, atau orang-orang baik yang dipertemukan oleh kehidupan.
Saya semakin percaya bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Menulis adalah cara merawat silaturahmi. Menulis adalah cara berbagi pengalaman. Menulis adalah cara menyebarkan optimisme. Menulis adalah cara meninggalkan jejak kebaikan yang mungkin akan terus berjalan jauh melampaui usia, jabatan, dan masa pengabdian.
Dari sebuah tulisan lahir percakapan. Dari percakapan lahir persahabatan. Dari persahabatan lahir pembelajaran. Dan dari pembelajaran lahir manfaat yang dapat menjangkau lebih banyak orang. Karena itu, saya ingin terus berani menulis. Terus berani berkarya. Terus berani memulai lembaran-lembaran baru, meskipun tidak pernah ada jaminan tentang bagaimana akhir ceritanya nanti. Bukankah setiap buku selalu dimulai dari satu halaman kosong? Bukankah setiap perjalanan panjang selalu diawali oleh satu langkah kecil? Dan bukankah setiap kemajuan selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba?
Saya tidak tahu berapa banyak buku lagi yang akan lahir dalam perjalanan ini. Saya juga tidak tahu sejauh mana tulisan-tulisan itu akan memberi manfaat. Namun saya percaya, selama niat dijaga dan langkah terus diupayakan, selalu ada jalan yang akan dibukakan oleh-Nya. Maka di usia yang semakin matang ini, saya memilih untuk tetap melangkah. Tetap menulis. Tetap berkarya. Tetap berharap.
Semoga rencana-rencana berikutnya yang mulai disusun hari ini diberi kemudahan oleh Yang Maha Kuasa. Semoga setiap kata yang ditulis menjadi kebaikan. Semoga setiap buku yang lahir membawa manfaat. Semoga setiap perjumpaan yang terjalin melalui tulisan menjadi berkah silaturahmi yang memperluas persaudaraan dan menumbuhkan semangat untuk berbuat baik. Dan semoga keberanian untuk melangkah meski takut tidak pernah padam hingga akhir perjalanan pengabdian ini. Semoga memberi inspirasi.
Kota Denpasar, 15 Juli 2026





