Getaran di Masjid Al Hasanah Canggu Pulau Dewata

Minggu, 05 Juli 2026 Last Updated 2026-07-05T13:20:23Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Ada dua wajah yang saling bertolak belakang di bawah langit Canggu Kuta Utara, dan garis pembatasnya adalah sebuah pintu masjid. Masjid yang berada di tengah tengah pemukiman ini memberi inspirasi jika saya berkunjung ke Canggu. Sekadar menikmati pantai yang mempesona dan persawahan hijau yang masih terasa di beberapa titik di Kawasan Canggu Pulau Dewata.

Bagi sebagian besar dunia, Canggu adalah kiblat dari kebebasan, estetika modern, dan tawa lepas para pelancong mancanegara yang memadati Pantai Berawa, Pantai Nelayan, hingga Pantai Batu Bolong. Namun bagi saya, di usia yang telah menginjak kepala lima, di bawah himpitan tanggung jawab kedinasan sebagai abdi negara, berada di Canggu adalah tempat saya mengheningkan diri dan merangkai kata.


Kepala dan batin saya kerap dipenuhi oleh kegaduhan urusan duniawi yang seolah tiada habisnya. Berada di Canggu memberi jeda, sambil menikmati Pantai Nelayan, Berawa, atau Pantai Batu Bolong. Namun, semesta selalu punya cara untuk menegur dan memeluk hamba-Nya. Di tengah kepungan budaya dunia dan dentuman serta irama musik beach club yang riuh, panggilan suara azan dari Masjid Al Hasanah Canggu mengalun, membelah langit Kuta Utara.

Panggilan itu bukan sekadar penanda waktu sholat, melainkan sebuah undangan untuk pulang ke rumah yang sesungguhnya. Setiap kali berkunjung ke Canggu—apakah itu saat singgah di Pantai Nelayan, menikmati sore di Berawa, atau menyusuri Batu Bolong—di saat azan memanggil, saya selalu mengupayakan diri untuk segera merapat, meluruskan saf dalam sholat berjamaah.


Ada getaran yang tak mampu diredam oleh kata-kata saat kaki melangkah memasuki pelataran Masjid Al Hasanah. Masjid di Pulau Dewata ini menyimpan magis spiritualitas yang begitu pekat dan kontras. Di luar, dunia bergerak begitu cepat dan bising. Namun di dalam masjid, waktu seolah berhenti dan tunduk pada kekhusyukan.

Saya selalu tersentak sekaligus takjub setiap  melihat pemandangan di dalam masjid ini. Di sebuah kawasan yang dikepung oleh industri pariwisata internasional, rumah Allah ini tidak pernah sepi. Sholat berjamaah selalu ramai dipenuhi pundak-pundak yang saling merapat. Dan ketika hari Jumat tiba, pemandangan itu menjelma menjadi sebuah simfoni iman yang luar biasa agung; jamaah membludak, meluap hingga ke lantai dua dan tiga, memenuhi setiap jengkal ruang dengan ketundukan yang sama. Usai sholat Jumat, para jamaah juga disuguhi makanan dan minuman wujud Jumat Berkah.


Saat bersujud di lantai Masjid Al Hasanah, di antara deru mesin kendaraan Canggu yang samar di luar, saya merasakan dada yang semula sesak oleh beban pikiran perlahan-lahan melonggar. Berdiri sejajar dengan ratusan muslim lainnya di tanah Dewata memberi saya sebuah kesadaran spiritual yang mendalam.  Sejauh apa pun saya ditugaskan oleh negara, dan seberat apa pun beban serta dinamika hidup yang sedang saya hadapi, saya tidak pernah benar-benar sendirian.


Di atas sajadah Masjid Al Hasanah, seluruh keluh kesah saya luruh, digantikan oleh rasa nyaman. Masjid ini menjadi saksi, bahwa di tempat paling riuh sekalipun, Tuhan selalu menyediakan sudut sunyi bagi jiwa untuk bercerita, berserah diri, dan menemukan kembali ketenangan hakiki.

Sore saat matahari mulai beringsut condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di atas langit Canggu yang mulai bersiap menyambut gemerlap malamnya. Namun, dari balik dinding Masjid Al Hasanah, saya melangkah keluar membawa "cahaya" yang berbeda. Perjalanan di pesisir ini kembali mengajarkan saya satu hal: bahwa hidup bukan tentang melarikan diri dari kegaduhan dunia. Hidup adalah tentang kepiawaian dalam menemukan kiblat di tengah lingkaran badai. 


Di antara deburan ombak Pantai Berawa dan dentum musik beach club yang riuh dan meriah, Masjid Al Hasanah tegak berdiri bukan sekadar sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai jangkar spritual yang menjaga jiwa agar tidak hanyut. Dari pelatarannya, saya terdiam menyambut esok hari. Saat tugas kedinasan kembali memanggil untuk terus mengabdi dengan langkah yang lebih ringan. Sebab saya tahu, sejauh apa pun perantauan ini membawa saya melangkah, jalan pulang menuju ketenangan sejati selalu terbuka lebar. Salah satu diantaranya berada di atas hamparan sajadah Masjid Al Hasanah Canggu, Kuta Utara di Bali Pulau Dewata.

Berawa Canggu Kuta Utara, 5 Juli 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Getaran di Masjid Al Hasanah Canggu Pulau Dewata

Trending Now

Profil

iklan