Oleh Adrinal Tanjung
Pagi itu Hanafi kembali berada di tepi Pantai Nelayan Canggu. Langit Canggu tampak bersih tanpa banyak awan. Cahaya matahari memantul di permukaan laut yang tenang, sementara debur ombak datang dan pergi seolah tak pernah lelah menyapa bibir pantai. Di tangannya hanya ada sebotol air mineral dan sebuah buku catatan yang mulai dipenuhi tulisan.
Tidak ada agenda yang mendesak. Tidak ada kebisingan yang harus dikejar. Hanya angin laut yang berembus lembut, suara ombak yang berulang, dan ruang yang lapang untuk mendengarkan isi hati sendiri.
Semakin lama tinggal di Pulau Dewata, Hanafi semakin memahami bahwa keheningan adalah kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Kemewahan itu bukan soal tempat yang indah, melainkan kemampuan menyediakan waktu untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu memandang perjalanan hidup dengan hati yang lebih jernih.
Pagi itu pikirannya kembali melayang ke sebuah SMP Negeri di Kota Padang. Empat puluh tahun telah berlalu. Namun anehnya, kenangan-kenangan itu justru semakin terasa dekat.
Telepon dari Gayatri sehari sebelumnya masih terngiang di telinganya.
"Hanafi, ternyata semakin bertambah usia, semakin sering kita mengenang masa SMP, ya," ujar Gayatri sambil tertawa kecil. "Iya," jawab Hanafi. "Barangkali karena di sanalah kita belajar menjadi diri sendiri."
Percakapan mereka mengalir hampir satu jam. Tidak ada pembicaraan yang luar biasa. Hanya cerita-cerita sederhana yang justru terasa sangat berharga. Tentang ruang kelas, teman-teman, angkot yang selalu penuh, hujan sepulang sekolah, dan tawa yang dahulu terasa begitu biasa.
Sebelum menutup telepon, Gayatri berkata pelan, "Aku ingin menuliskan sedikit kenangan itu. Siapa tahu bisa menjadi bagian dari novelmu." Pagi itu, di tepi Pantai Nelayan, Hanafi kembali membaca tulisan yang dikirim Gayatri.
Bagi Gayatri, masa kecil adalah halaman-halaman kehidupan yang paling hangat. Hari-hari yang dipenuhi tawa, permainan, dan persahabatan yang tumbuh tanpa syarat. Ia tumbuh di kawasan Ranah, Alang Laweh, dan Kampung Nias. Jalan jalan yang cukup besar, komplek pertokoan, dan riuh kendaraan menjadi bagian dari masa kecil yang hingga kini masih tersimpan rapi dalam ingatannya.
Setelah menamatkan sekolah dasar, Gayatri melangkah ke sebuah SMP Negeri di Kota Padang. Sekolah baru. Guru-guru baru. Teman-teman baru. Dunia yang lebih luas. Namun rasa canggung itu tidak berlangsung lama. "Teman-temanku baik semua," kenangnya.
Rumah Gayatri perlahan menjadi tempat berkumpul. Hampir setiap pekan selalu ada teman yang datang. Ada yang sekadar belajar bersama, ada yang mengobrol hingga sore, bahkan ada yang menginap.
Orang tua Gayatri justru senang melihat rumah mereka ramai. "Biar rumah ini penuh suara tawa," kata ibunya suatu ketika. Dan memang begitulah adanya. Rumah itu menjadi rumah bersama bagi teman temannya.
Suatu siang, ketika duduk di kelas dua, sebuah peristiwa sederhana terjadi. Peristiwa yang baru bisa ditertawakan puluhan tahun kemudian. Saat itu pelajaran Pendidikan Moral Pancasila baru saja selesai.
Bel pulang berbunyi. Anak-anak bergegas keluar kelas. Tanpa disadari, buku PMP milik Gayatri tertinggal di dalam laci meja. Keesokan harinya ia sempat mencarinya.
"Yen, kamu lihat buku PMP-ku?"
Yen menggeleng.
"Belum ketemu?"
"Belum."
Gayatri mulai cemas.
Namun dua hari kemudian, buku itu tiba-tiba sudah kembali berada di dalam laci mejanya.
"Alhamdulillah... ternyata ada juga," gumamnya lega. Tanpa berpikir panjang, buku itu langsung dimasukkan ke dalam tas.
Sepulang sekolah, ia bersama teman-temannya berjalan keluar gerbang. Sebagian menuju halte angkot jurusan Teluk Bayur. Sebagian lagi menunggu angkot ke arah Pasar Raya. Mereka bercanda sepanjang perjalanan.
Sesekali tertawa begitu lepas, seolah dunia tidak menyimpan persoalan apa pun.
Hari-hari remaja memang sesederhana itu. Bahagia hanya karena bisa pulang bersama. Bahagia hanya karena hujan turun dan mereka memilih tetap berjalan sambil tertawa.
Malam harinya, Gayatri membuka tas sekolah. Ia hendak mengganti buku pelajaran untuk esok hari. Ketika membuka buku PMP, tiba-tiba selembar kertas kecil terjatuh ke lantai.
"Apa ini?" gumamnya. Ia membukanya perlahan.
Tulisan tangan itu rapi. Isinya sederhana.
Seseorang sedang mengungkapkan perasaan. Gayatri membaca hingga selesai. Lalu tersenyum kecil.
"Apa, sih, ini?" katanya sambil tertawa sendiri. Di usianya saat itu, cinta bukan sesuatu yang dipikirkannya. Baginya semua teman adalah teman. Tidak lebih. Kertas kecil itu kemudian disimpan. Tidak pernah dibalas. Tidak pernah pula diceritakan kepada siapa pun.
Baru puluhan tahun kemudian ia mengetahui bahwa surat sederhana itu memang ditujukan kepadanya. Pengirimnya adalah seorang kakak kelas. Namanya Yogi. Ketika mengenang peristiwa itu, Gayatri hanya bisa tersenyum.
"Lucu juga, ya... ternyata dulu ada yang diam-diam menyukaiku."
Hanafi ikut tertawa ketika mendengar cerita itu.
"Lalu suratnya masih ada?"
Gayatri menjawab sambil tertawa,
"Entah ke mana. Yang tersisa sekarang hanya kenangannya."
Hanafi menutup telepon genggamnya. Pandangannya kembali mengarah ke laut. Ia tersenyum pelan. Begitulah kenangan bekerja. Yang tertinggal bukan lagi siapa yang menyukai siapa. Bukan pula siapa yang paling pandai atau paling populer. Yang tetap hidup justru suasana kebersamaan. Suara tawa. Langkah kaki menuju angkot. Rumah yang selalu terbuka untuk sahabat. Hujan hujanan sepulang sekolah.
Dan selembar kertas sederhana yang selama puluhan tahun diam menyimpan sebuah rahasia. Hanafi kemudian menuliskan satu kalimat di buku catatannya.
"Barangkali kenangan yang paling indah bukanlah peristiwa-peristiwa besar, melainkan hal-hal sederhana yang dahulu kita anggap biasa. Waktu mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan kemewahan, melainkan kebersamaan yang pernah kita miliki."
Debur ombak kembali terdengar. Mentari pagi semakin meninggi. Di Pantai Nelayan, Hanafi kembali memahami bahwa usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, dan kehidupan boleh membawa setiap orang ke jalan yang berbeda. Namun persahabatan yang lahir dengan tulus pada masa remaja akan selalu menemukan jalannya untuk pulang, meski harus menunggu empat puluh tahun.
Pantai Nelayan Canggu Kuta Utara Juli 2026


