Oleh : Adrinal Tanjung
Tidak semua pelajaran datang dari ruang kelas. Sebagian justru hadir dari perjalanan sederhana—dari langkah kaki yang pelan usai jam kerja, dari perjumpaan singkat, dan dari kata-kata yang pernah dinilai.
Sore kemarin, tanpa rencana yang rumit, saya kembali menuju Pantai Semawang. Ada keinginan kecil untuk berhenti sejenak, memberi ruang bagi pikiran yang penat dan hati yang kadang tak sepenuhnya tenang. Sebelum sampai ke pantai, saya singgah di Nata by Patio—tempat yang mulai terasa akrab, dengan suasana hangat yang tidak dibuat-buat.
Di sana, saya duduk cukup lama. Berdiskusi ringan tentang buku, membuka kembali cerita yang sedang dalam proses menjadi nyata. Menjelang maghrib, saya berbuka puasa di tempat itu. Tidak ada yang istimewa secara lahiriah—hanya makanan sederhana, percakapan singkat, dan suasana yang tenang. Namun justru di situlah rasa syukur hadir dengan cara yang lebih jujur.
Langkah kemudian berlanjut ke pantai. Senja di Pantai Semawang selalu memiliki cara sendiri untuk menyentuh. Langit perlahan berubah warna, laut memantulkan cahaya yang lembut, dan angin berhembus tanpa tergesa. Dalam diam itu, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan—bahwa berada di Pulau Dewata adalah sebuah keberuntungan. Bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena ruang yang ia berikan untuk merenung, menerima, dan menenangkan hati.
Di tengah suasana itu, ada satu momen kecil yang justru meninggalkan kesan mendalam. Salah satu pelayan kafe sempat membaca beberapa lembar dummy buku yang saya bawa. “Seru, Pak,” katanya singkat. Mungkin sederhana, mungkin tanpa analisis panjang. Namun justru dari situlah terasa ketulusan—apresiasi yang lahir tanpa pretensi, tanpa beban untuk terlihat benar.
Ingatan itu kemudian membawa saya pada satu peristiwa beberapa waktu lalu, dalam sebuah forum kepenulisan saat saya menjadi narasumber. Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta menyampaikan kritik terhadap gaya bahasa saya. Katanya, tulisan saya terlalu “melambung-lambungkan” sesuatu.
Awalnya saya terdiam. Ada rasa kaget yang tidak bisa dihindari. Namun kemudian saya menjawab dengan tenang: bahwa menulis adalah ruang untuk menyampaikan gagasan dan harapan. Setiap penulis memiliki gaya masing-masing dalam mengekspresikan pikirannya. Tidak ada satu cara yang paling benar, selama kejujuran tetap menjadi dasarnya.
Saya juga menyampaikan bahwa setelah sebuah tulisan selesai dan diterbitkan, sejatinya penulis telah “selesai”. Bahkan ada ungkapan, penulisnya telah “mati”—karena karya itu sepenuhnya menjadi milik pembaca. Di sanalah pembaca memiliki hak untuk memberi apresiasi, juga kritik. Dan itu adalah bagian dari kehidupan sebuah karya.
Namun dari peristiwa itu, saya belajar satu hal yang lebih dalam. Tidak semua orang akan menyukai sebuah karya—dan itu wajar. Tugas penulis hanyalah menyampaikan gagasan, pemikiran, dan harapan dengan jujur. Selebihnya, biarlah karya itu menemukan jalannya sendiri.
Meski demikian, ada kebijaksanaan yang perlu dijaga, terutama dalam ruang bersama. Kritik tentu penting, tetapi akan jauh lebih bermakna jika disampaikan dengan cara yang membangun. Karena di balik setiap karya, selalu ada proses panjang, ada waktu yang diinvestasikan, dan ada bagian hati yang dititipkan.
Senja di Pantai Semawang seolah merangkum semua pelajaran itu.Tentang bagaimana kita melihat, merespons, dan menghargai.
Bahwa hidup tidak selalu tentang hal-hal besar.
Seringkali, justru dari hal-hal kecil yang tulus,
kita kembali diingatkan tentang makna.
Sebagaimana senja yang perlahan tenggelam di Pantai Semawang, saya belajar bahwa tidak semua hal perlu diperdebatkan—sebagian cukup dirasakan, diterima, lalu disyukuri. Kita mungkin tidak selalu bisa mengatur bagaimana orang lain menilai, tetapi kita selalu punya pilihan tentang bagaimana tetap melangkah.
Tetap menulis, tetap berkarya, tetap memberi—meski tidak selalu dipahami.
Karena pada akhirnya, bukan tepuk tangan yang membuat langkah ini berarti, melainkan keikhlasan untuk terus berjalan, meski sunyi.Dan jika suatu hari kata-kata ini sampai kepada hati yang tepat, maka semua proses, semua luka kecil, dan semua penantian— akan menemukan maknanya.




