Merangkai Jalan Pulang dari Pulau Dewata

Kamis, 23 April 2026 Last Updated 2026-04-23T04:03:08Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Semangat subuh selalu menghadirkan jeda yang jernih—ruang di mana hati belajar mendengar lebih dalam. Di waktu seperti ini, menulis tidak lagi sekadar merangkai kata, tetapi merangkai makna. Menulis Jalan Pulang, 60 Hari di Pulau Dewata lahir dari proses itu—dari perjalanan yang tidak selalu mudah, dari keheningan yang mengajarkan kesabaran, dan dari kesadaran perlahan bahwa setiap langkah sedang dituntun menuju satu tujuan: pulang.

Langkah-langkah itu membawa saya menyusuri banyak sudut Pulau Dewata. Dari Ubud yang menenangkan, Kintamani yang sejuk, hingga Uluwatu yang tegas di tepian samudra. Lalu berlanjut ke Kuta, Legian, Jimbaran, Seminyak, hingga kembali menemukan ruang sunyi di Canggu dan Tanah Lot. Namun pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang tempat-tempat itu, melainkan tentang bagaimana hati belajar menerima setiap peristiwa sebagai bagian dari rencana yang lebih besar.


Di sudut-sudut sederhana—kafe-kafe di Denpasar dan Canggu—saya duduk membaca ulang naskah, menimbang setiap kata, dan perlahan memahami bahwa menulis adalah proses menata batin. Ada yang harus dilepas, ada yang perlu dipertahankan. Tidak semua cerita harus dibawa, tetapi setiap pengalaman selalu meninggalkan makna. Dari keheningan itulah, tulisan menemukan jiwanya.

Di balik proses itu, ada banyak tangan yang tidak terlihat namun terasa kuat. Keluarga, rekan, dan sahabat hadir dengan doa dan dukungan yang nyata. Mereka menjadi bagian dari skenario yang tidak pernah direncanakan secara rinci, namun selalu hadir pada waktu yang tepat. Dari sanalah keyakinan itu tumbuh—bahwa perjalanan ini tidak pernah sendiri, dan setiap langkah selalu dijaga.


Buku ini kemudian menjadi lebih dari sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah cerita tentang keheningan, kesabaran, tentang belajar berdamai dengan takdir, dan tentang rasa syukur yang perlahan tumbuh. Ia memuat peristiwa-peristiwa yang menggetarkan hati—akad dan resepsi pernikahan ananda, kebersamaan dalam reuni Akuntansi Unand 89, hingga dinamika penugasan baru di tanah perantauan. Semua itu terjalin menjadi satu, bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai bagian dari skenario Ilahi yang saling menguatkan.

Kini, ketika waktu menunjukkan bahwa dalam hitungan satu pekan buku ini akan rampung dan terbit, hati justru belajar semakin tenang. Buku ini akan berjalan—menemui sahabat, karib, dan kerabat, serta siapa pun yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Setiap halaman seperti membawa pulang serpihan-serpihan cerita yang pernah dititipkan dalam hidup.


Dan di titik ini, semakin diyakini: tidak ada yang sia-sia. Setiap langkah, setiap pertemuan, setiap jeda—semuanya adalah bagian dari skenario Ilahi yang terbaik.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)


Maka menulis, pada akhirnya, bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah karya. Ia adalah cara memahami hidup, menerima ketetapan, dan merangkai jalan pulang dengan penuh keikhlasan.

Karena setiap perjalanan akan menemukan muaranya, dan setiap langkah yang dijalani dengan sabar dan syukur, pada akhirnya akan dipulangkan—oleh skenario-Nya. Semoga memberi inspirasi.

Kota Denpasar, 21 April 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Merangkai Jalan Pulang dari Pulau Dewata

Trending Now

Profil

iklan