Merampungkan Karya Terbaru dari Sudut Canggu

Minggu, 19 April 2026 Last Updated 2026-04-19T10:37:38Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Ada fase dalam menulis yang tidak lagi tentang menambah kata, melainkan tentang berani mengurangi. Fase ketika kita harus jujur pada diri sendiri—memilih mana yang sungguh bermakna, dan mana yang perlu dibuang. Di situlah letak pekerjaan paling menantang. Menyusun kembali narasi, mengelompokkan pengalaman, dan perlahan merangkai kepingan yang tersisa menjadi cerita yang utuh.


Di sudut tenang Canggu, proses itu menemukan ruangnya. Saya duduk di Watercrees Berawa, menghadap hamparan sawah yang hijau, dengan waktu yang terasa berjalan lebih pelan. Tiga minggu terakhir, setiap akhir pekan saya kembali ke tempat ini. Duduk di kursi yang sama, membuka ulang naskah Menulis Jalan Pulang, 60 Hari di Pulau Dewata, membaca dengan lebih jernih, dan sesekali berhenti hanya untuk merasakan. Di sela itu, langkah ini kerap menepi ke Pantai Berawa—sekitar 1,4 kilometer dari kafe—mendengarkan debur ombak yang seperti mengajak berdamai dengan segala yang belum selesai.


Rutinitas kecil itu perlahan menjadi akrab. Secangkir caffè latte yang hangat, sapaan ramah para pelayan yang mulai mengenal, dan suasana yang tanpa disadari ikut membentuk alur pikir. Dari ruang sederhana itulah, kata-kata menemukan bentuknya. Saya belajar bahwa menulis bukan sekadar menuangkan gagasan, tetapi juga menata batin—menerima bahwa tidak semua yang ditulis harus dipertahankan, dan tidak semua yang dilepas berarti hilang.


Menulis Jalan Pulang lahir dari proses itu. Dari kesabaran untuk merapikan, dari keikhlasan untuk menyisakan yang paling jernih, dan dari keberanian untuk menuntaskan. Di balik proses yang sunyi itu, ada kebersamaan yang diam-diam menguatkan. Tak kurang dari lima sahabat hadir, memberi dukungan nyata—bukan hanya dalam doa dan semangat, tetapi juga dalam bentuk kontribusi konkret yang membantu proses penerbitan buku ini. Untuk itu, saya menyampaikan terima kasih yang tulus. Dukungan tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan energi yang menjaga langkah ini tetap berjalan hingga sampai pada titik ini.

Kini, saat naskah hampir sampai di ujung, yang tersisa bukan sekadar rasa lega, tetapi syukur yang dalam. Keindahan Canggu, ketenangan sawah, dan kedekatan dengan laut telah memberi ruang bagi inspirasi untuk tumbuh. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang tak terpisahkan—mengantar karya ini hingga tuntas.


Semoga buku ini tidak hanya menjadi rangkaian kata, tetapi juga ruang bagi siapa pun yang membacanya untuk berhenti sejenak, merasakan, dan perlahan menemukan jalan pulangnya. Menulis adalah cara sederhana untuk memahami hidup dan setiap karya yang dituntaskan adalah satu langkah lebih dekat untuk pulang.

Canggu, Kuta Utara 18 April 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Merampungkan Karya Terbaru dari Sudut Canggu

Trending Now

Profil

iklan