Oleh : Adrinal Tanjung
Tidak semua kebersamaan harus dihadiri oleh langkah kaki. Ada pertemuan yang tetap utuh meski terpisah jarak, ada kehangatan yang tetap hidup meski tak saling berjabat tangan. Pagi menjelang siang, saat angin lembut berhembus di Canggu, hati saya justru melangkah jauh—menyusuri kenangan, menyapa wajah-wajah lama, dan diam-diam hadir dalam lingkar kebersamaan yang begitu dirindukan. Saya memang tak berada di sana, namun ada bagian dari diri ini yang tetap tinggal, tetap duduk bersama, tetap tertawa… bersama sahabat-sahabat yang tak pernah benar-benar jauh.
Hari ini terasa berbeda.
Ada ruang kosong yang biasanya terisi oleh tawa, oleh jabat tangan yang hangat, oleh cerita-cerita yang tak pernah habis meski waktu terus berjalan. Tahun ini, langkah kaki tidak sampai di sana. Raga berada di Pulau Dewata, namun hati tetap pulang—pulang pada kenangan, pada kebersamaan yang telah terjalin begitu lama.
Di sela pagi yang tenang, saya menyempatkan diri menepi sejenak menyusuri Pantai Pantai Berawa. Debur ombaknya seperti mengajak berhenti, mengendapkan rasa, dan membuka kembali lembar-lembar kenangan yang tersimpan rapi. Di hadapan hamparan sawah yang hijau, saya kembali duduk dan menulis—seolah setiap kata yang lahir adalah jembatan untuk menjemput masa lalu.
Di hadapan saya, terbuka sebuah buku: Musi Dua Delapan Sembilan. Buku yang tidak hanya menemani perjalanan ke berbagai kota di Indonesia, tetapi juga melintasi batas negeri—hingga Singapura, Turki, dan Arab Saudi. Ada kebanggaan yang sederhana namun dalam—bahwa dari kebersamaan yang kita rawat, lahir sebuah karya yang ikut berjalan, menyapa, dan membawa cerita ke berbagai penjuru.
Setiap lembar yang dibaca seperti membuka kembali pintu-pintu kenangan—tentang masa-masa belajar di SMA 2 Padang, tentang kebersamaan yang tumbuh tanpa banyak syarat, tentang persahabatan yang sederhana, namun begitu dalam. Sahabat memang buah terlezat yang disediakan pohon kehidupan. Maka merawat persahabatan sejatinya adalah merawat kebahagiaan itu sendiri—mengembangkan kebiasaan untuk hadir, mendengar, dan menikmati setiap kebersamaan yang ada.
Dalam perjalanan literasi menulis hingga hari ini, yang telah melahirkan tidak kurang dari 50 buku, saya semakin menyadari bahwa perjalanan ini tidak pernah benar-benar sendiri. Dukungan rekan-rekan SMA 2 Padang menjadi energi yang terus menghidupkan semangat berkarya. Termasuk dalam proses penyelesaian buku terbaru Menulis Jalan Pulang, 60 Hari di Pulau Dewata, dukungan itu hadir tanpa perlu disebut satu per satu, namun terasa begitu kuat—menjaga agar nyala semangat ini tidak pernah padam.
Ingatan pun mengalir ke satu peristiwa yang begitu membekas—Reuni Akbar 35 Tahun di Cibogo pada tahun 2024. Sebuah pertemuan yang bukan sekadar temu kangen, melainkan perayaan perjalanan panjang yang penuh makna. Dari sana, lahirlah Musi Dua Delapan Sembilan—sebuah upaya sederhana untuk merawat ingatan, menjaga cerita, dan memastikan bahwa kebersamaan ini tidak hilang ditelan waktu.
Buku itu menjadi saksi bahwa persahabatan tidak pernah benar-benar usai. Ia hanya berubah bentuk—dari pertemuan menjadi kenangan, dari kebersamaan menjadi cerita yang terus hidup.
Kepada seluruh sahabat SMA 2 Padang Angkatan 89, dari kejauhan saya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin. Atas segala khilaf, atas kata yang mungkin tak berkenan, dan atas segala hal yang belum sempat diperbaiki.
Semoga Halal bi Halal yang dilaksanakan di Jakarta menjadi ruang yang hangat untuk kembali saling memaafkan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan bahwa kita pernah berjalan bersama dalam satu masa yang indah.
Waktu memang telah membawa kita ke arah yang berbeda. Jarak mungkin tidak lagi memungkinkan kita untuk selalu bersama. Namun ada satu hal yang tetap tinggal tentang persahabatan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan di antara segala perjalanan yang terus bergerak, kita selalu memiliki satu tempat untuk kembali: kenangan yang selalu dijaga bersama.
Seperti yang pernah disampaikan oleh Eleanor Roosevelt:
“Banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupmu, tetapi hanya teman sejati yang meninggalkan jejak di hatimu.”
Semoga SMA 2 Padang Angkatan 89 tetap kompak, terus bersaudara, dan saling menguatkan, selamanya.
Canggu Kuta Utara, 19 April 2026



