Oleh : Adrinal Tanjung
Minggu, 26 April 2026, di sebuah kampus swasta ternama di Jakarta, akan diselenggarakan acara Halal bi Halal Ikatan Keluarga Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas. Sebuah pertemuan yang telah lama dirancang sebagai ruang silaturahmi para alumni setelah menjalani bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Bagi banyak orang, Halal bi Halal adalah momen untuk saling bertemu, berjabat tangan, dan saling memaafkan. Namun bagi saya, pertemuan ini menghadirkan makna yang lebih dalam. Ia menjadi penanda kecil dari sebuah perjalanan panjang—perjalanan menulis, perjalanan pulang, dan perjalanan menemukan makna kehidupan yang perlahan disadari.
Setelah hampir enam bulan menjalani penugasan di Pulau Dewata, diselingi beberapa kali perjalanan pulang untuk bertemu keluarga, kemarin saya kembali ke Jakarta. Kepulangan ini terasa berbeda. Ada rasa hangat karena bisa kembali berkumpul dengan keluarga, sekaligus ada rasa syukur karena hari ini dapat bertemu dengan para alumni dalam suasana penuh kebersamaan.
Di sela perjalanan itu, saya menapaki sebuah proses yang sederhana namun sarat makna: menulis. Saya merangkai kata demi kata. Menghidupkan kembali ingatan, perasaan, dan pengalaman yang selama ini tersimpan. Dari proses tersebut, lahirlah sebuah karya berjudul Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata.
Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah potongan perjalanan—tentang perenungan, rasa syukur, dan jeda-jeda kehidupan yang diam-diam mengajarkan banyak hal. Tentang bagaimana hidup tidak selalu harus dipahami sepenuhnya, tetapi cukup dijalani dengan kesadaran. Setelah naskah itu rampung, saya melangkah ke tahap berikutnya: membuat dummy buku dalam dua tahap.
Dummy pertama menghadirkan dua buku—sebuah awal, sebuah uji rasa, sebuah perkenalan antara gagasan dengan bentuk fisiknya. Saya membaca ulang setiap halaman, melakukan revisi, memperbaiki bagian-bagian yang belum sempurna. Proses yang sama saya lakukan pada dummy kedua. Membaca kembali, menyempurnakan, dan menambahkan pengayaan. Hingga akhirnya, naskah itu terasa semakin utuh dan lebih siap untuk diterbitkan.
Dalam momentum Halal bi Halal ini, saya ingin melakukan sebuah langkah kecil: menyerahkan dummy buku tersebut kepada Ketua IKA FEB Unand, Bapak Darmansyah, sebagai bentuk terima kasih atas dukungan beliau dalam proses penerbitan karya ini.
Di dalam buku ini juga dimuat testimoni beliau. Bahkan pada salah satu bagian, saya menuliskan refleksi tentang kegigihan sebagai kunci keberhasilan—terinspirasi dari perjalanan beliau yang kini dipercaya menempati posisi penting di Otoritas Jasa Keuangan.
Saya mengenal Darmansyah bukan dari posisi beliau hari ini, tetapi sejak masa SMA Negeri 2 Padang. Selama tiga tahun, kelas kami bertetangga. Kami tidak pernah berada dalam satu kelas, tetapi tumbuh dalam lingkungan yang sama. Kami juga melanjutkan pendidikan di fakultas yang sama di Universitas Andalas, meski berbeda jurusan. Saya di Akuntansi, sementara beliau di Manajemen.
Seiring waktu, jalan hidup kami pun mengambil arah yang berbeda. Saya melangkah di dunia pengawasan internal pemerintah melalui BPKP, sementara Darmansyah memulai karier di Bank Indonesia sebelum melanjutkan pengabdiannya di Otoritas Jasa Keuangan. Perjalanan yang berbeda itu mengajarkan satu hal yang sama: bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, dan setiap langkah kecil yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan menemukan tempatnya pada waktunya.
Melalui kesempatan ini, saya juga ingin memperkenalkan buku Menulis Jalan Pulang: 60 Hari di Pulau Dewata, sekaligus menandai niat untuk menulis buku berikutnya—sebuah karya yang akan mengangkat perjalanan hidup salah satu kebanggaan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas ini.
Penyerahan dummy buku ini bukan sekadar simbol. Ia adalah bentuk penghormatan, bentuk silaturahmi, dan bentuk harapan—bahwa karya sederhana ini dapat menjadi bagian kecil dari energi kebaikan yang terus mengalir. Mungkin ini bukan peluncuran buku. Tidak ada gemerlap panggung, tidak ada sorotan berlebihan. Pada akhirnya, menulis bukan tentang seberapa besar sebuah karya dilihat, tetapi tentang seberapa jujur kita menghadirkan diri di dalamnya.
Kota Bandung, 25 April 2026




