Oleh: Adrinal Tanjung
Ada nama-nama yang pernah hadir dalam satu fase kehidupan, lalu menghilang dalam perjalanan panjang, namun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Salah satu nama itu adalah Dr. dr Ardian Riza, Sp. Orth (K), MKes—atau yang akrab saya sapa Jaja.
Kami pernah berada dalam ruang yang sama, di SMA Negeri 2 Padang. Dekat, namun tidak benar-benar saling mengenal. Berpapasan, namun kala itu belum sempat saling menyapa.
Saya di kelas I.5. Beliau di kelas I.6 SMA 2 Padang. Hanya dipisahkan oleh dinding kelas, namun waktu itu tidak cukup untuk mempertemukan kami dalam makna. Kami sama sama merampungkan studi di tahun 1989, saat jalur penerimaan mahasiswa lewat PMDK dihapuskan.
Hidup kemudian berjalan dengan caranya sendiri. Kami memilih jalan masing-masing. Saya di jalur A3 Ilmu sosial, beliau di jalur A1 Fisika yang kemudian mengantarkannya ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Saya melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Andalas Padang.
Dua anak dari keluarga sederhana di Pasar Raya Padang, yang sama-sama membantu orang tua berjualan. Jaja lebih beruntung karena orang tua Jaja memiliki toko. Kesamaan kami adalah kami sama sama menyimpan harapan yang besar untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, kami telah melewati lebih dari setengah abad kehidupan. Dan pada satu titik, waktu mempertemukan kami kembali. Sapaan singkat yang kemudian berlanjut percakapan yang mengalir. Menjemput berbagai kenangan masa lalu.
Hampir satu jam kami berbincang. Tentang masa SMA. Tentang perjuangan kuliah. Tentang kehidupan setelahnya. Jaja bercerita tentang dirinya. Tentang pilihan menjadi seorang dokter. Tentang perjalanan panjang hingga menjadi spesialis orthopedi. Dan tentang satu kalimat yang begitu sederhana memilih Fakultas Kedokteran yaitu ingin membahagiakan orang tua.
Kalimat itu terasa dalam. Karena di sanalah kita melihat makna perjuangan yang sesungguhnya—bukan tentang pencapaian, tetapi tentang niat yang melandasinya.
Di sisi lain, saya pun bercerita tentang jalan yang saya pilih. Tentang dunia birokrasi. Dan tentang menulis—sebuah jalan sunyi yang perlahan saya jalani di sela waktu bekerja sebagai abdi negara. Dari percakapan itu, kami sampai pada satu kesadaran yang sama bahwa setiap perjalanan hidup layak untuk dituliskan.
Jaja, dalam sebuah kesempatan, menyampaikan pandangannya tentang perjalanan saya. Sebuah pandangan yang jujur, sederhana, namun penuh makna. Beliau mengingat saya sebagai sosok yang dulu biasa saja. Tidak menonjol dan tidak banyak dikenal. Namun waktu berbicara lain. Apa yang dulu mungkin tidak terlihat, perlahan menemukan jalannya. Keinginan yang kuat , ikhtiar yang dijaga, dan konsistensi yang terus dirawat, akhirnya melahirkan karya demi karya. Puluhan buku. Beberapa artikel dan tulisan. Dan jejak yang mulai terbaca.
Menulis Buku Musi Dua Delapan Sembilan
Dalam sebuah kesempatan, usai Reuni 35 Tahun SMA 2 Padang pada bulan September 2024, kebersamaan itu tidak berhenti pada pertemuan dan nostalgia semata. Kami melangkah lebih jauh—berkolaborasi menulis sebuah buku berjudul Musi Dua Delapan Sembilan. Sebuah karya yang lahir bukan hanya dari ingatan, tetapi dari rasa memiliki, rasa kebersamaan, dan rasa ingin mengabadikan perjalanan panjang sejak kami meninggalkan bangku SMA di Jalan Musi Dua, Kota Padang.
Buku ini menjadi saksi bahwa persahabatan tidak lapuk oleh waktu. Ia mungkin tidak selalu tampak di permukaan, namun tetap hidup dalam ingatan, dan dalam nilai-nilai yang kami jaga bersama. Kehadiran buku ini terasa Istimewa karena tidak banyak yang berinisiatif mengabadikan jejak kebersamaan lintas waktu dalam sebuah buku.
Pada bulan Februari 2025, buku tesebut diperkenalkan melalui sebuah soft launching sederhana di salah satu kafe di Kota Padang. Dihadiri oleh sahabat-sahabat SMA, serta beberapa guru yang pernah membersamai perjalanan kami, momen itu menjadi lebih dari sekadar peluncuran buku. Ia adalah perayaan perjalanan, penghormatan atas kenangan, dan bukti bahwa kolaborasi kecil yang tulus dapat menghadirkan sejarah yang terdokumentasikan—agar tidak hilang ditelan waktu.
Pria kelahiran 5 September 1970 ini hingga saat ini masih memilih jalan pengabdian di dunia medis— ruang yang penuh tanggung jawab, penuh kesibukan, dan tidak selalu memberi ruang untuk menulis. Namun di sela waktu ayah tiga putra ini masih menyempatkan menulis beberapa karya fiksi dan non fiksi. Karena itu beliau melihat tulisan sebagai sesuatu yang berharga.
Hingga saat ini Jaja bukan sekadar sebagai sahabat lama yang kembali terhubung. Ia menjadi bagian dari perjalanan ini. Memberi dukungan. Memberi semangat. Dan ikut percaya bahwa jalan menulis ini layak untuk diteruskan.
Kami berasal dari tanah yang sama—Ranah Minang. Tanah yang mengajarkan tentang merantau, tentang berjuang, dan tentang menjaga nilai. Dan mungkin, dari sanalah kami belajar—bahwa persahabatan tidak selalu tentang kebersamaan yang intens, tetapi tentang keterhubungan yang tetap hidup, meski waktu berlalu.
Bahwa ada orang-orang yang tidak selalu hadir dalam keseharian, namun selalu ada dalam perjalanan.Bagi saya, Dr. Ardian Riza adalah bagian dari jejak waktu—yang kembali hadir di saat yang tepat, menguatkan langkah, dan mengingatkan bahwa perjalanan literasi menulis ini tidak saya jalani sendiri. Selalu ada rekan dan sahabat yang mendampingi dan memberi dukungan agar langkah ini tidak berhenti.
Canggu Kuta Utara, 5 April 2026





