Oleh : Adrinal Tanjung
Hidup memang tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Ada keinginan-keinginan yang telah disusun dengan penuh harapan, ada rencana-rencana yang ingin diwujudkan dengan sungguh-sungguh, tetapi pada akhirnya keadaan membawa kita pada jalan yang berbeda. Dan beberapa bulan terakhir, saya merasa sedang belajar memahami kenyataan itu dengan cara yang lebih dalam.
Keinginan untuk pulang mendampingi ananda wisuda sebenarnya begitu besar. Sebagai seorang ayah, tentu ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat anak menyelesaikan perjuangannya hingga tiba di hari kelulusan. Rasanya ingin hadir langsung, menyaksikan senyumnya, mengucapkan selamat dengan pelukan hangat, lalu menikmati momen berharga itu bersama keluarga.
Selama ini, setiap ada anggota keluarga yang wisuda, saya hampir tidak pernah absen untuk hadir. Ada kebahagiaan sederhana ketika bisa berdiri bersama mereka pada hari yang istimewa itu. Namun kali ini keadaan berkata lain.
Sisa cuti yang semakin menipis, tanggung jawab pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan, serta berbagai tugas yang harus segera dirampungkan membuat keinginan itu belum dapat diwujudkan.
Jujur, hati sempat terasa berat. Ada rasa kecewa yang diam-diam hadir. Ada kerinduan yang sulit dijelaskan. Dan ada perasaan bersalah karena tidak bisa berada di dekat keluarga pada momen penting tersebut.
Tetapi hidup perlahan mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat segera terjadi. Kadang Allah meminta kita belajar menerima. Belajar menenangkan hati. Dan belajar ikhlas terhadap keadaan yang memang belum bisa diubah.
Menjadi seorang abdi negara memang bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada saat-saat ketika tugas menuntut kita berada jauh dari keluarga. Ada waktu-waktu ketika kepentingan pekerjaan harus didahulukan, meski hati sebenarnya ingin pulang.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa pengabdian juga membutuhkan kelapangan hati. Hidup jauh dari keluarga membuat saya semakin belajar kuat menjalani keadaan. Tidak boleh terlalu banyak mengeluh. Tidak boleh larut dalam kesedihan terlalu lama. Sebab hidup tetap harus berjalan, dan tanggung jawab tetap harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Maka perlahan saya mencoba menikmati apa yang ada. Menikmati pagi-pagi di Pulau Dewata dengan hati yang lebih tenang. Menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Menikmati senja sambil belajar menerima bahwa mungkin inilah jalan hidup yang sedang Allah titipkan untuk saya jalani saat ini. Bukankah sering kali hidup memang seperti itu?
Kita tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi selalu diberi apa yang dibutuhkan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Dan mungkin, salah satu pelajaran terbesar dalam hidup adalah belajar ikhlas. Ikhlas menerima jarak. Ikhlas menerima keadaan. Ikhlas menerima bahwa ada momen-momen yang belum bisa kita genggam sepenuhnya.
Pagi ini saya menuliskan cerita sederhana ini sambil mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang terjadi pasti memiliki hikmah. Bahwa setiap pengorbanan tidak akan pernah sia-sia. Bahwa setiap kerinduan akan menemukan jalannya. Dan bahwa Allah selalu mengetahui isi hati hamba-Nya, bahkan ketika tidak semuanya mampu diucapkan dengan kata-kata.
Saya kian memahami, ikhlas bukan berarti tidak sedih. Ikhlas adalah tetap melangkah meski hati sedang belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai harapan. Dan mungkin, justru di situlah takdir sedang diam-diam mendewasakan kita.
Kian menyadari hidup yang paling indah bukanlah hidup tanpa ujian, melainkan hidup yang tetap dipenuhi syukur meski kenyataan tidak selalu sesuai keinginan. Dari setiap jarak, kelelahan, dan pengorbanan, Allah sedang membentuk hati menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bijaksana. Maka selama kita masih mampu berdoa, bersyukur, dan terus melangkah dengan niat yang baik, selalu ada harapan bahwa pada akhirnya semua akan menemukan maknanya yang paling indah.
Kota Denpasar, 20 Mei 2026

