Tiga Hari Membaca Kehidupan di Canggu

Minggu, 17 Mei 2026 Last Updated 2026-05-17T10:18:14Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Awalnya tak direncanakan untuk kembali berkunjung ke Canggu di hari Minggu ini.
Setelah dua hari berturut-turut menikmati kawasan ini, rasanya sudah cukup.
Namun Canggu memang memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan.

Ada kenyamanan yang perlahan membuat hati ingin kembali datang. Perpaduan pantai, sawah yang menghijau, udara yang lebih tenang, serta suasana yang tidak terlalu tergesa membuat kawasan ini terasa istimewa.

Dan pagi tadi, entah mengapa, ada refleks kecil yang mengarahkan hati untuk kembali melangkah menuju Canggu. Pilihan yang ternyata terasa begitu tepat.

Dari kediaman di Renon menuju kawasan pantai tak lebih tiga puluh lima menit perjalanan.
Perjalanan yang terasa singkat, namun menghadirkan rasa yang begitu panjang di dalam hati.

Hari ini menjadi hari ketiga berturut-turut berada di Canggu.
Dua hari sebelumnya dihabiskan di kawasan Pantai Berawa.
Menulis dan merangkai kata di Watercress Canggu yang perlahan terasa seperti ruang pulang kecil di Pulau Dewata.


Tempat itu bukan sekadar kafe.
Di sana ada ketenangan.
Ada keheningan.
Ada ruang untuk berbicara dengan diri sendiri tanpa terganggu kebisingan dunia.

Seperti biasa, selalu ada kenyamanan saat kembali datang.
Selalu ada ide-ide baru yang muncul.
Dan selalu ada rasa syukur yang perlahan tumbuh tanpa dipaksa.

Mungkin karena Bali memang menghadirkan ritme kehidupan yang berbeda.
Langit terasa lebih lapang.
Waktu berjalan lebih tenang.
Dan hidup seperti mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dijalani dengan tergesa-gesa.

Mumpung sedang berada di Pulau Dewata.
Mumpung masih diberi kesehatan dan kesempatan menikmati libur panjang.
Maka tiga hari berturut-turut di Canggu sengaja dijalani dengan penuh kesadaran.

Bukan untuk sekadar berjalan-jalan.
Tetapi untuk menikmati hidup lebih perlahan.
Sambil mengerjakan tugas.
Sambil menikmati pantai.
Sambil membaca kehidupan dari keheningan dan perjalanan.


Hari ini langkah bergerak menuju Pantai Batu Bolong.
Pantai itu kembali menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Debur ombak datang silih berganti.
Orang-orang menikmati pagi dengan caranya masing-masing.

Ada yang berjalan santai.
Ada yang duduk diam memandang laut.
Ada yang tertawa bersama sahabatnya.
Dan mungkin ada juga yang datang untuk menenangkan dirinya sendiri.

Di tengah suasana itu, perlahan disadari bahwa kebahagiaan sering kali sebenarnya sangat dekat.
Bukan tentang kemewahan.
Bukan tentang pengakuan manusia.

Tetapi tentang kemampuan menikmati kesempatan kecil yang Allah titipkan dalam kehidupan.
Menikmati waktu.
Menikmati kesehatan.
Menikmati udara pagi.
Menikmati kesempatan menulis dan berkarya.

Hal-hal sederhana yang sering terlupakan saat hidup terlalu sibuk mengejar banyak hal.
Satu jam sebelum kembali ke kediaman, langkah kembali singgah di Watercress Canggu.
Waktu bergerak menjelang siang.
Secangkir hot cafelatte kembali menemani keheningan yang terasa menenangkan.

Di sudut kecil kafe itu, perlahan mulai menyusun rencana untuk satu minggu ke depan.
Mempersiapkan hari pertama kerja di hari Senin.
Merapikan kembali pikiran sebelum kembali pada rutinitas dan tanggung jawab pekerjaan.


Dan ternyata, satu jam singkat itu memberi begitu banyak inspirasi.
Hening tanpa distraksi.
Tidak banyak suara.
Tidak banyak keramaian.
Hanya musik pelan, aroma kopi, dan hati yang perlahan kembali tenang.

Di usia yang terus berjalan, perlahan dipahami bahwa manusia sebenarnya tidak selalu membutuhkan keramaian untuk merasa bahagia.
Kadang justru keheninganlah yang menyelamatkan jiwa dari kelelahan.

Karena di dalam hening, manusia bisa kembali mendengar suara hatinya sendiri.
Dan mungkin benar, skenario Ilahi memang tak pernah salah.
Apa yang dahulu hanya terlintas kecil di dalam pikiran, kini benar-benar menjadi bagian dari kehidupan.

Bekerja di Bali.
Menikmati Canggu.
Merangkai kata di tepi pantai.
Dan belajar menikmati hidup dengan lebih sadar.
Tiga hari di Canggu akhirnya bukan sekadar tentang pantai, kopi, atau libur panjang.
Tetapi tentang belajar membaca kehidupan dengan lebih tenang.

Bahwa hidup tidak selalu harus berlari cepat.
Bahwa bahagia kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Dan bahwa rasa syukur sering kali tumbuh justru saat manusia berhenti sejenak, lalu benar-benar menikmati hidup yang sedang dijalaninya.


Mungkin suatu hari nanti, yang paling dirindukan dari Pulau Dewata bukan hanya pantainya.
Tetapi saat-saat ketika hati pernah merasa begitu tenang, begitu hidup, dan begitu dekat dengan Tuhan di antara debur ombak dan keheningan Canggu.

Selalu banyak cara untuk menjalani hidup dengan penuh syukur dan terus berkarya.
Dan di Pulau Dewata, ungkapan itu perlahan benar-benar menemukan kebenarannya.

Watercrees Berawa, 17 Mai 2026
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tiga Hari Membaca Kehidupan di Canggu

Trending Now

Profil

iklan