Sebuah Persembahan dari Pulau Dewata

Selasa, 12 Mei 2026 Last Updated 2026-05-12T12:37:10Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Buku Menulis Jalan Pulang, 60 Hari di Pulau Dewata akhirnya segera hadir dan menemui para pembaca. Di titik ini, ada rasa syukur yang begitu dalam—rasa yang bahkan sulit diterjemahkan sepenuhnya ke dalam kata-kata.

Sebab buku ini tidak lahir dalam waktu singkat.
Ia tumbuh perlahan dari perjalanan, dari kesunyian, dari perenungan, dan dari berbagai perjumpaan sederhana yang meninggalkan bekas di hati.


Hampir empat bulan berada di Pulau Bali menghadirkan pengalaman batin yang berbeda.
Pulau ini bukan hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga ruang untuk lebih mengenali diri sendiri.

Ada pagi-pagi yang sunyi di Sanur ketika ombak bergerak perlahan seolah mengajak hati untuk lebih tenang.
Ada senja di Canggu yang membuat waktu terasa melambat.
Ada persawahan hijau yang menghadirkan kesederhanaan, dan ada percakapan-percakapan hangat yang diam-diam memperkaya jiwa.


Di tengah semua itu, saya menulis.
Kadang dengan hati yang ringan, kadang dengan pikiran yang penuh, dan kadang hanya ditemani diam yang panjang.

Perlahan saya menyadari, bahwa menulis ternyata bukan sekadar menyusun kalimat.
Menulis adalah cara merawat ingatan, cara memahami kehidupan, dan cara berdamai dengan perjalanan yang sedang dijalani.

Finalisasi buku ini memakan waktu hampir satu bulan.
Sebuah proses yang mengajarkan bahwa karya tidak hanya membutuhkan kemampuan, tetapi juga kesabaran dan keteguhan untuk tetap bertahan sampai akhir.


Ada rasa lelah yang ikut tertinggal di setiap halaman.
Ada doa-doa yang diam-diam dipanjatkan.
Dan ada dukungan dari rekan, sahabat, serta keluarga yang datang melalui jalan-jalan takdir yang baik.

Di titik ini saya semakin memahami, bahwa sebuah karya sesungguhnya tidak pernah lahir sendirian.
Ia tumbuh dari cinta, perhatian, dukungan, dan ketulusan banyak orang.
Buku ini pada akhirnya bukan sekadar kumpulan tulisan.

Ia adalah catatan perjalanan hati.
Tentang pengabdian, persahabatan, kehilangan, harapan, dan upaya menemukan makna pulang dalam kehidupan yang terus bergerak.


Dan mungkin, di usia yang terus bertambah, saya mulai memahami bahwa hidup tidak selalu tentang berlari cepat atau mencapai banyak hal.

Kadang hidup hanya tentang belajar menikmati perjalanan, mensyukuri setiap pertemuan, dan menerima bahwa semua yang datang dan pergi adalah bagian dari cara Tuhan mendewasakan manusia.

Maka buku ini saya persembahkan dengan penuh rasa syukur sebagai jejak kecil dari perjalanan yang pernah saya lalui di Pulau Bali.
Sebuah persembahan sederhana dari Pulau Dewata.


Tentang hidup yang terus berjalan, tentang hati yang terus belajar, dan tentang manusia yang perlahan memahami bahwa pulang yang sesungguhnya sering kali bukan tentang tempat, melainkan tentang menemukan ketenangan di dalam diri sendiri.

Pantai Semawang, 12 Mei 2026


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sebuah Persembahan dari Pulau Dewata

Trending Now

Profil

iklan