Oleh : Adrinal Tanjung
Ada malam-malam ketika lelah belum benar-benar pergi, tetapi kata-kata justru datang mengetuk. Di saat tubuh meminta istirahat, pikiran justru memanggil untuk menulis. Di situlah saya sering bertanya pada diri sendiri, dengan jujur: mengapa saya tetap memilih menulis, meski terasa tidak mudah—bahkan sering terasa mahal?
Di sela kesibukan yang tak pernah benar-benar usai, saya kembali duduk—merenung tentang satu perjalanan yang telah saya jalani selama dua dekade: menulis.
Pertanyaan ini pernah datang dengan jujur, bahkan berulang kali:
benarkah menulis itu hobi yang mahal?
Menulis membutuhkan waktu—dan bagi seorang abdi negara, waktu adalah sesuatu yang sangat terbatas. Di tengah tuntutan pekerjaan, rapat yang silih berganti, dan tanggung jawab yang tak bisa ditunda, menyediakan ruang untuk menulis seringkali berarti harus “mencuri” waktu dari istirahat.
Bukan hanya tenaga fisik, tetapi juga kejernihan pikiran—sesuatu yang tidak selalu mudah didapat setelah hari yang panjang.
Belum lagi soal ide dan inspirasi.
Untuk menulis satu buku, saya harus membaca puluhan buku lainnya. Menyelami berbagai sudut pandang, memperkaya pemahaman, lalu merangkainya kembali dalam bentuk tulisan. Proses ini tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga biaya.
Diskusi dengan banyak orang dari berbagai kalangan juga menjadi bagian penting. Mendengarkan, bertanya, dan memahami—semuanya adalah proses yang memperkaya tulisan, sekaligus memperluas cara pandang.
Di titik ini, menulis terasa seperti hobi yang memang tidak murah.
Apalagi ketika memilih jalur self publishing. Tidak ada penerbit yang menanggung biaya. Semua harus dipersiapkan sendiri—mulai dari penyuntingan, tata letak, hingga pencetakan buku. Sebuah proses yang menuntut kesiapan, bukan hanya dari sisi waktu dan tenaga, tetapi juga finansial.
Di sisi lain, ada pula anggapan yang kadang muncul—bahwa seorang penulis, terutama dari kalangan aparatur negara, sedang mencari panggung atau popularitas di luar tugas utamanya. Sebuah anggapan yang jelas tidak tepat.
Namun setelah dua dekade menjalani perjalanan ini, saya mulai memahami sesuatu yang lebih dalam.Menulis bukan sekadar tentang biaya. Menulis bukan tentang terlihat atau tidak terlihat.
Menulis adalah tentang makna.
Dua puluh tahun menulis telah melahirkan tidak kurang dari 50 buku. Di balik setiap buku, ada cerita. Ada lelah yang tidak selalu terlihat. Ada pengorbanan yang tidak selalu dihitung. Ada proses panjang yang hanya bisa dipahami oleh yang menjalaninya. Namun semua itu kini terasa berharga.
Perlahan, orang tidak hanya mengenal saya sebagai seorang abdi negara, tetapi juga melalui karya-karya yang telah saya hasilkan. Sebuah pengakuan yang tidak dicari, tetapi hadir sebagai konsekuensi dari proses yang panjang.
Semua pengalaman itu kini menjadi cerita indah yang patut disyukuri.
Karena pada akhirnya, menulis memberi sesuatu yang tidak selalu bisa diukur dengan materi.
Ia memberi jejak.
Ia memberi ruang untuk berpikir.
Ia memberi kesempatan untuk berbagi.
Dan mungkin, inilah jawaban yang selama ini saya cari:
Menulis memang bisa menjadi hobi yang mahal— jika diukur dari waktu, tenaga, dan biaya.
Namun menulis adalah hobi yang sangat berharga— jika dilihat dari makna, pengalaman, dan jejak yang ditinggalkan.
Bukankah menulis adalah salah satu jalan menuju keabadian?
Bukan dalam arti yang besar dan megah, tetapi dalam bentuk sederhana:
bahwa pikiran, pengalaman, dan rasa yang pernah kita miliki, tidak hilang begitu saja. Ia hidup dalam kata-kata.
Saya menyadari bahwa menulis bukan sekadar tentang kata, melainkan tentang perjalanan jiwa. Ada tangan-tangan tak terlihat yang menuntun, ada kekuatan yang menguatkan, dan ada hikmah yang disisipkan dalam setiap prosesnya.
Menulis menjadi cara saya bersyukur—atas waktu, atas kesempatan, atas kehidupan yang terus memberi ruang untuk belajar. Jika setiap kata adalah titipan, maka semoga ia menjadi kebaikan yang mengalir, menerangi jalan orang lain, dan kembali kepada-Nya sebagai amal yang tak terputus. Karena mungkin, di situlah letak hakikatnya: menulis bukan hanya tentang dikenang, tetapi tentang mendekat—kepada makna, kepada sesama, dan pada akhirnya, kepada Sang Pencipta.
Kota Denpasar, 7 Mei 2026


.jpeg)
