Waktu yang Melambat di Canggu

Minggu, 05 April 2026 Last Updated 2026-04-05T06:04:39Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Di Canggu, waktu seakan melambat. Tidak tergesa. Tidak mendesak.

Seolah memberi ruang bagi siapa pun yang datang untuk berhenti sejenak, dan benar-benar hadir.

Saya kembali ke tempat yang sama. Memilih kursi yang sama. Duduk menghadap hamparan sawah yang terbentang luas di depan mata. Hijau yang menenangkan. Sunyi yang tidak sepi. Dan di ruang sederhana itu, saya kembali pada aktivitas yang sama— menulis untuk bergembira

Bukan menulis karena tuntutan. Bukan menulis karena kewajiban.Tetapi menulis sebagai cara menikmati hidup. Sebagai cara merawat rasa.
Sebagai cara menjaga agar hati tetap hidup.

Canggu bukan sekadar destinasi. Ia adalah desa di Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung yang memiliki daya tarik yang unik—perpaduan antara tradisi Bali yang masih terjaga dengan kehidupan modern yang dinamis.

Di satu sisi, hamparan sawah masih terbentang luas, menghadirkan ketenangan dan kesederhanaan khas pedesaan. Di sisi lain, kafe-kafe yang tumbuh dengan konsep kreatif menjadi ruang bertemu para penulis, pekerja kreatif, dan para pencari makna dari berbagai penjuru dunia

Di sinilah Canggu terasa mempesona. Bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena kemampuannya menghadirkan keseimbangan—antara hiruk dan hening, antara tradisi dan modernitas, antara kesibukan dan jeda.

Angin berhembus pelan, membawa ketenangan yang sulit dijelaskan.
Pikiran yang biasanya penuh, perlahan menjadi ringan. Dan waktu yang biasanya terasa sempit, tiba-tiba menjadi lapang.

Di sini, saya belajar bahwa hidup tidak selalu harus dipercepat. Ada saatnya ia perlu diperlambat— agar kita bisa melihat lebih jelas, merasakan lebih dalam, dan mensyukuri lebih utuh. Kembali ke Canggu bukan sekadar kembali ke tempat. Tetapi kembali pada diri sendiri.

Kembali pada kesederhanaan. Kembali pada ketenangan. Dan kembali pada hal-hal kecil yang sering terlupakan.

Di tengah suasana itu, terucap satu ayat yang selalu menggetarkan hati:

Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan

Ayat yang sederhana, namun mampu menghentikan segala keluh kesah.

Mengajak kita untuk melihat kembali— bahwa begitu banyak nikmat yang telah hadir, namun sering luput kita syukuri.


Pagi ini, nikmat itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Waktu yang melambat, hati yang tenang, dan kesempatan untuk terus menulis.

Saya menyadari, bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar.
Ia justru sering hadir dalam momen kecil yang kita sadari dengan utuh.
Duduk di tempat yang sama, menatap pemandangan yang sama,
namun dengan rasa yang mungkin berbeda.

Dan dari sana, saya kembali belajar— bahwa hidup yang indah bukan tentang seberapa cepat kita melangkah, tetapi tentang seberapa dalam kita mampu merasakan. 

Hari ini, saya memilih untuk tidak tergesa. Tidak terburu-buru. Saya memilih untuk menikmati waktu yang melambat, menulis dengan hati yang ringan, dan mensyukuri setiap detik yang diberikan.

Karena mungkin, di antara semua yang kita kejar, yang paling kita butuhkan sebenarnya sederhana. Sebuah jeda, sebuah rasa, dan kesadaran bahwa hidup ini telah cukup indah.

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan..

Canggu Kuta Utara, 5 April 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Waktu yang Melambat di Canggu

Trending Now

Profil

iklan