Oleh : Adrinal Tanjung
Ada air mata yang tidak lahir dari kesedihan. Ia jatuh perlahan… justru ketika hati tak lagi mampu menampung rasa syukur.
Di titik itulah saya berdiri sore itu. Di antara rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang, dan doa yang diam-diam telah dijawab.Selasa, 31 Maret 2026. Hari berjalan seperti biasa. Pagi ke kantor, menjalani rutinitas, menuntaskan pekerjaan yang memang harus diselesaikan.
Tentang pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) hari itu, saya memilih untuk tidak banyak berharap. Belajar dari pengalaman, harapan yang terlalu tinggi seringkali berujung pada kekecewaan.
Maka saya memilih sikap yang paling sederhana. Menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada. Jika Ananda belum berhasil, masih ada jalan lain: Seleksi Nasional Berbasis Test (SNBT).
Lewat pukul 15.00, saya bahkan tidak ingin mencari tahu.
Tidak bertanya. Seolah ingin menjaga hati tetap tenang.
Namun pukul 15.29, sebuah pesan dari istri mengubah segalanya.
“Ananda diterima SNBP.”
Saya membaca. Lalu terdiam. Antara percaya dan tidak. Antara harapan yang perlahan muncul dan ketakutan untuk kecewa. Saya mencoba mencari kepastian. Membaca berbagai informasi. Dan ketika mengetahui bahwa Farmasi Universitas Padjadjaran termasuk salah satu yang paling ketat di jalur ini, hati justru semakin ciut. Rasanya sulit untuk benar-benar yakin.
Pikiran kemudian melayang ke belakang, pada hampir lima bulan terakhir yang tidak mudah. Saat saya tidak selalu bisa hadir. Tidak bisa mengantar dan menjemput les setiap Sabtu. Ada rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang, karena penugasan di Pulau Dewata.
Saya juga tahu, perjalanan Ananda tidak selalu mulus. Prestasinya tidak seperti kakaknya yang terbiasa berada di peringkat pertama.
Namun mungkin, Allah memang tidak pernah menyamakan jalan setiap anak.
Karena setiap jiwa… ditempa dengan cara yang berbeda.
Menjelang Isya, dalam keheningan yang lebih dalam dari biasanya, saya mulai menulis. Rasa yang datang perlahan. Bukan ledakan kegembiraan, melainkan keharuan yang menenangkan.
Bahwa benar, Ananda diterima. Sebuah pintu terbuka, tanpa tes, di jurusan yang dicita-citakan, di salah satu perguruan tinggi terbaik negeri ini.
Dan di titik itu, saya tidak lagi melihat ini sekadar sebagai hasil. Saya melihatnya sebagai jawaban. Jawaban atas kekhawatiran.
Jawaban atas rasa bersalah. Jawaban atas doa-doa yang selama ini terucap.
Perjalanan keluarga kami terasa seperti disusun dengan begitu rapi. Yang pertama telah menuntaskan studinya di Universitas Padjadjaran, melangkah ke dunia kerja, dan membangun keluarga. Yang kedua sedang berproses di Universitas Diponegoro, menyelesaikan tahap akhir perkuliahan. Dan kini, yang ketiga memulai langkahnya di kampus Unpad dengan mimpinya sendiri.
Dalam diam, saya bertanya pada diri sendiri apa lagi yang kurang?
Dan hati menjawab dengan lembut, tidak ada.
Maka nikmat Tuhan yang mana yang akan kita dustakan?
Dalam hening yang panjang malam itu, saya tak lagi meminta banyak.
Hanya satu yang terucap pelan
“Ya Allah… syukur dan terima kasih.”
Untuk jalan yang tidak selalu mudah, untuk jarak yang pernah menghadirkan rasa bersalah, untuk kekhawatiran yang diam-diam menguatkan doa.
Karena kini saya mengerti,
Engkau tidak pernah salah dalam mengatur.
Apa yang kami jalani, apa yang kami khawatirkan, apa yang kami anggap kurang semuanya telah Engkau susun dengan begitu rapi.

Anak-anak kami bukan hanya tumbuh oleh usaha kami, tetapi oleh penjagaan-Mu yang tak pernah terlihat.
Dan di titik ini, saya merasa begitu kecil. karena terlalu sering khawatir, padahal Engkau telah menyiapkan yang terbaik.
Air mata itu akhirnya jatuh. bukan karena sedih, tetapi karena sadar…
Bahwa begitu banyak nikmat yang selama ini kami terima tanpa mampu kami hitung.
Ya Allah,
jika kebahagiaan ini adalah titipan, maka kuatkan kami untuk menjaganya.
Jika ini adalah awal dari perjalanan baru, maka tuntun langkah kami agar tetap berada di jalan-Mu.
Dan ketika suatu saat nanti kami kembali dihadapkan pada rasa cemas dan ragu, ingatkan kami pada hari ini. hari ketika Engkau menunjukkan bahwa rencana-Mu selalu lebih indah dari apa pun yang kami bayangkan.
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kami dustakan…?
Kota Denpasar, 2 April 2026 menjelang Shubuh


