Oleh : Adrinal Tanjung
Menulis adalah keberanian, kejujuran,dan pilihan hidup
Menulis dengan jujur bukanlah perkara mudah. Ia bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga membuka diri—menghadirkan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dialami, tanpa terlalu banyak disaring oleh rasa takut. Di situlah tantangannya. Sebab setiap kejujuran selalu membawa konsekuensi. Akan ada yang setuju, tetapi tidak sedikit pula yang memberi komentar, kritik, bahkan penilaian yang mungkin tidak nyaman. Namun justru di situlah makna menulis yang sesungguhnya.
Menulis yang jujur menuntut keberanian. Keberanian untuk berkata apa adanya. Keberanian untuk tidak selalu menyenangkan semua pihak. Dan yang lebih penting, keberanian untuk tetap setia pada suara hati sendiri.
Di lingkungan birokrasi, jalan ini bukanlah jalan yang ramai. Budaya kerja yang sarat dengan kehati-hatian, tata aturan, serta ritme yang padat sering kali membuat aktivitas menulis menjadi sesuatu yang tidak populer. Tidak banyak yang memilihnya sebagai jalan hidup, apalagi menjadikannya sebagai bagian dari proses refleksi diri. Tetapi saya memilih jalan itu.
Selama dua dekade menulis dan merangkai kata di tengah kesibukan dan tekanan birokrasi memberi banyak pelajaran dan dinamika sekelilingnya. Menulis adalah sebuah jalan yang sunyi. Jalan yang tidak banyak dilalui. Jalan yang tidak menjanjikan keuntungan materi.
Pilihan untuk tetap menulis tentu didasarkan berbagai pertimbangan. Meskipun ada banyak jalan lain yang lebih “aman”, lebih terlihat, bahkan mungkin lebih menjanjikan secara finansial. Namun hati ini memilih tetap berjalan di jalur yang berbeda—jalur yang mungkin tidak gemerlap, tetapi penuh makna. Sebab bagi saya, menulis bukan tentang keuntungan. Menulis adalah tentang menjaga kejujuran.
Di tengah kesibukan pekerjaan, tuntutan tanggung jawab, dan dinamika kehidupan, menulis menjadi ruang untuk kembali. Ruang untuk berhenti sejenak, menata pikiran, dan mendengarkan suara hati yang sering kali tertutup oleh hiruk-pikuk keseharian. Menulis menjadi cara untuk merawat nurani.
Dari tulisan, saya belajar memahami hidup dengan lebih jernih. Dari tulisan, saya belajar menerima proses dengan lebih lapang. Dan dari tulisan, saya belajar bahwa tidak semua hal harus dinilai dengan ukuran materi.
Saya menyadari, jalan ini tidak mudah. Akan selalu ada risiko. Kritik mungkin datang. Perbedaan pandangan tidak bisa dihindari. Bahkan dalam beberapa keadaan, menulis dengan jujur bisa menempatkan seseorang pada posisi yang tidak nyaman.
Namun jika setiap langkah dilandasi niat yang baik, untuk berbagi pengalaman, untuk memberi manfaat, dan untuk meninggalkan jejak kebaikan, maka semua itu menjadi bagian dari proses yang harus diterima dengan lapang dada. Karena pada akhirnya, hidup adalah pilihan.
Kita bisa memilih jalan yang ramai, atau jalan yang sunyi. Kita bisa memilih kenyamanan, atau memilih makna. Kita bisa memilih diam, atau memilih menulis. Dan saya memilih menulis.
Bukan karena mudah. Bukan karena menguntungkan. Tetapi karena saya percaya, setiap kata yang lahir dari kejujuran akan menemukan jalannya sendiri.
Di jalan yang sunyi ini, saya belajar tentang keberanian—untuk tetap melangkah meskipun tidak banyak yang memahami. Saya belajar tentang kejujuran—untuk tetap menulis apa adanya, tanpa kehilangan diri sendiri. Dan saya belajar tentang pilihan hidup—bahwa tidak semua yang bernilai harus terlihat besar di mata orang lain.
Mungkin tulisan tidak menghasilkan banyak secara materi. Namun ia menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu ketenangan, keutuhan, dan makna. Dan bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.
Kota Denpasar, 30 Maret 2026

