Oleh : Adrinal Tanjung
Dua dekade berkarya. Lebih dari lima puluh buku lahir dalam rentang waktu itu. Sebuah perjalanan panjang yang tentu saja patut disyukuri.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tiba tiba sebuah penugasan justru membawa langkah ini ke Pulau Dewata. Datang tanpa banyak rencana, namun menghadirkan ruang hening yang begitu luas.
Di tengah ritme kerja dan tanggung jawab, justru ditemukan jeda-jeda sunyi yang subur. Tempat gagasan bertumbuh, tempat hati berbicara lebih jernih.
Dari ruang hening itulah muncul keinginan sederhana untuk membukukan catatan-catatan reflektif selama penugasan. Bukan sekadar dokumentasi perjalanan, melainkan jejak batin yang menyertai setiap langkah. Menulis 60 Hari di Pulau Dewata sebuah rangkuman rasa, syukur, dan pelajaran hidup.
Buku ini bukan hanya tentang Bali. Ia tentang dinamika selama 60 hari di Pulau Dewata. Tulisan tentang perjalanan jiwa. Tentang bagaimana penugasan bisa berubah menjadi perenungan. Tentang bagaimana kesibukan justru melahirkan kesadaran. Tentang bagaimana Tuhan seringkali menyelipkan inspirasi di sela tanggung jawab.
Pagi ini di Bandung, Paris van Java saya menulis. Dua hari di Bandung, menyempatkan hening sejenak. Dan di sela sarapan pagi, kembali merangkai kata untuk terus menyalakan semangat.
Dan menyampaikan rencana penerbitan buku terbaru kepada rekan, sahabat, dan para pendukung setia. Lima puluh buku untuk cetakan awal sebagai simbol kepercayaan. Mereka adalah saksi perjalanan literasi yang telah dirintis selama bertahun-tahun.
Buku ini adalah persembahan.
Untuk keluarga yang selalu menjadi pelabuhan pulang.
Untuk rekan dan sahabat yang menjaga bara semangat tetap menyala. Untuk orang-orang dekat yang membersamai langkah literasi selama ini. Dalam diam, dalam doa, dalam dukungan yang kadang tak terlihat namun terasa begitu kuat.
Semoga catatan reflektif di buku 60 Hari di Pulau Dewata yang akan terbit menjadi catatan yang mencerahkan. Semoga setiap halaman menjadi ruang untuk bercermin. Bahwa hidup selalu memberi pelajaran dan setiap perjalanan tak ada yang sia sia.
Dan di atas semua itu, semoga dua dekade perjalanan kepenulisan ini tetap diberi kemudahan agar tetap teguh dalam perjuangan menyalakan literasi menulis. Menulis untuk berbagi dan bergembira. Semoga catatan 60 Hari di Pulau Dewata mencerahkan.
Kota Bandung, 17 Februari 2026
