Dari Percakapan Malam ke Makna Kehidupan

Selasa, 10 Februari 2026 Last Updated 2026-02-10T02:57:12Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Malam ini terasa lebih tenang dari biasanya. Di hari kesembilan bulan Februari 2026, saya sengaja mencari sudut yang lebih sunyi, tempat pikiran bisa berjalan perlahan tanpa tergesa. Dalam keheningan seperti inilah, renungan sering kali datang lebih jujur dan kata-kata menemukan jalannya sendiri.

Sekitar satu jam sebelumnya, sebuah panggilan telepon masuk. Dari seberang sana, Ilham Nurhidayat—saat ini diberi amanah sebagai Kepala Perwakilan BPKP Kalimantan Tengah menyampaikan niat yang terasa hangat di dada. Beliau memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku, berbasis pengalaman penugasan di daerah, dituturkan dengan bahasa yang ringan agar mudah dipahami. Harapannya sederhana namun sarat makna. Buku itu bisa rampung sebelum usia lima puluh tahun, sebuah penanda perjalanan hidup yang patut dikenang.

Tentu saja sebuah hal yang menarik. Menulis tacit knowledge akan menjadi sebuah legacy dan pengetahuan bagi generasi mendatang. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Ada semangat yang membuncah, tetapi juga terselip keraguan. Kesibukan dan tanggung jawab pekerjaan sering kali menjadi tembok tinggi bagi niat baik. Saya hanya mencoba menguatkan. Menulis selalu mungkin dilakukan, selama ada kemauan menyempatkan waktu dan keteguhan niat. Menulis, seperti hidup itu sendiri, bukan soal menunggu waktu luang, melainkan tentang meluangkan waktu dengan kesadaran dan kesungguhan.


Percakapan itu membawa ingatan saya mundur beberapa tahun ke belakang. Saya mengenal sosok Ilham Nurhidayat di beberapa kali pertemuan, saat berkunjung ke Yogyakarta. Saya masih ingat suatu ketika saya berkunjung bersama keluarga dalam rangka liburan, beliau pun menemui kami sekeluarga. Ilham kala itu ditemani sang istri. Beberapa hal yang kami diskusikan saat pertemuan. Tentang keluarga dan pekerjaan.

Di waktu lain, saat saya kembali bertugas di Kantor Pusat BPKP, kami beberapa kali berjumpa. Termasuk dalam diskusi penyusunan buku pimpinan BPKP. Dari perbincangan-perbincangan itulah, saya sering mendapat inspirasi.  Banyak sudut pandang terbuka, banyak pelajaran hidup yang diam-diam tersimpan rapi sebagai bekal menulis. 

Ilham pernah menjabat sebagai Kepala Perwakilan BPKP Nusa Tenggara Barat, kemudian melanjutkan pengabdian sebagai Direktur di Kantor Pusat BPKP. Amanah berikutnya sebagai Kepala Biro Manajemen Kinerja Organisasi dan Tata Kelola BPKP. Amanah itu lalu berlanjut kembali ke daerah, sebagai Kepala Perwakilan BPKP Kalimantan Tengah hingga saat ini. Alumni Program Doktor Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada ini adalah aset masa depan BPKP, bukan hanya karena kapasitas akademik dan pengalaman strukturalnya, tetapi karena kerendahan hati yang selalu ia jaga.


Salah satu percakapan yang paling membekas dalam ingatan saya adalah tentang sawang sinawang. Kadang kita melihat orang lain seolah hidupnya begitu bahagia dengan apa yang dimiliki. Di sisi lain, tanpa kita sadari, orang lain pun bisa jadi memandang kita dengan cara yang sama. Padahal kebahagiaan tidak pernah tunggal. Ia relatif, sangat personal, dan sangat ditentukan oleh cara kita menyikapi peran dan tanggung jawab yang kita emban. Menjalani amanah dengan sebaik-baiknya, itulah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sebagai pegiat literasi menulis, saya merasa sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan banyak orang baik, termasuk para pimpinan yang rendah hati. Kesempatan berdiskusi, berbagi cerita, dan mendengar pengalaman mereka menjadi ladang subur bagi lahirnya gagasan dan tulisan. Dari sanalah kata-kata menemukan ruhnya, tidak lagi sekadar rangkaian kalimat, tetapi rekaman makna dan perjalanan hidup.

Malam ini, rasa syukur itu terasa lebih dalam. Tanpa jabatan tinggi, tanpa kuasa struktural, Allah justru menghadirkan apresiasi dari seorang pimpinan seperti Ilham Nurhidayat. Apresiasi bukan karena posisi, melainkan karena jejak yang ditinggalkan melalui tulisan dan buku. Sebuah pengakuan yang terasa jauh lebih bermakna, karena lahir dari ketulusan dan penghargaan pada proses.

Saya menutup malam dengan satu kesadaran sederhana. Bersyukur dengan apa yang dimiliki adalah salah satu kunci kebahagiaan. Bukan tentang seberapa tinggi jabatan, bukan tentang seberapa banyak pujian, tetapi tentang sejauh mana kita mampu berdamai dengan peran hidup dan memberi manfaat melalui apa yang bisa kita lakukan. Dan bagi saya, menulis adalah salah satu jalan sunyi yang Allah pilihkan sebagai jalan untuk berbagi, merekam pengalaman, dan mensyukuri perjalanan hidup.

Kota Denpasar, 9 Februari 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari Percakapan Malam ke Makna Kehidupan

Trending Now

Profil

iklan