Oleh : Adrinal Tanjung
Di saat kebanyakan langkah masih terlelap, pikiran justru menemukan kejernihannya. Dalam hening itulah saya sering menoleh ke belakang, menyusuri perjalanan dua dekade berkarya. Sebuah jalan panjang yang tak pernah benar-benar dilalui sendirian. Di balik setiap buku, setiap tulisan, dan setiap ikhtiar menjaga api literasi tetap menyala, selalu ada sosok-sosok yang hadir sebagai sahabat peneguh langkah di saat ragu menyapa.
Salah satunya adalah Pak Rizal Suhaili, seorang senior, sahabat, yang memberi makna dalam perjalanan pengabdian dan kepenulisan ini. Pak Rizal Suhaili adalah sosok yang saya kenal bukan hanya sebagai senior di BPKP, tetapi juga sebagai pribadi yang hangat dan gemar berbagi pengalaman.
Pertemuan di Samarinda sekitar delapan tahun yang lalu adalah sebuah pertemuan takdir. Meskipun kami sama sama berada di instansi yang sama yaitu BPKP, namun kala itu saya adalah pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN RB. Mengikuti diklat selama lima minggu di Samarinda adalah awal perkenalan dan diskusi di sela sela waktu rehat, saat ishoma. Hingga suatu ketika saat saya kembali bertugas di BPKP pertemuan semakin sering di berbagai kesempatan termasuk berkunjung ke ruang kerja beliau.
Belakangan kedekatan itu semakin terasa. Kedekatan dan diskusi mengenai kesibukan saya menulis di sela waktu bekerja sebagai abdi negara. Saya pun menikmati berbagai diskusi dengan beliau dengan berbagai topik. Dan belakangan, beliau mulai bercerita tentang perjalanan panjang hidupnya mulai dari masa sekolah di SD, SMP, SMA, hingga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Kisah-kisah itu disampaikan dengan sederhana, namun sarat nilai tentang disiplin, ketekunan, dan kejujuran dalam menapaki hidup. Perjalanan karier beliau pun kaya dan penuh warna. Mengawali tugas sebagai auditor, pernah ditempatkan di berbagai Perwakilan BPKP di daerah.
Pernah terlibat dalam audit BLBI, mengisi jabatan struktural dari eselon IV hingga eselon III. Amanah yang kemudian membawanya menjadi pejabat tinggi pratama sebagai Kepala Perwakilan BPKP di berbagai wilayah: Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Selatan, hingga NTT. Tidak berhenti di sana, dua kali beliau dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur di Kantor Pusat BPKP.
Sebuah perjalanan pengabdian yang panjang, konsisten, dan penuh tanggung jawab. Di balik jabatan dan pengalaman itu, Pak Rizal tetaplah pribadi yang membumi. Ayah tiga anak ini memiliki darah Minang. Kedua orang tuanya berasal dari Sumatera Barat. Saat berkunjung saya selalu disambut dengan penuh kehangatan. Ruang kerjanya tak pernah terasa kaku, justru menjadi tempat bertukar cerita, berbagi pandangan hidup.
Kemarin, saat saya berkunjung ke Kantor Pusat BPKP kami kembali bertemu hampir satu jam. Sejak pagi menjelang siang, percakapan mengalir tanpa jarak. Kami berdiskusi tentang banyak hal. Di antaranya tentang perjalanan karier, dinamika organisasi, dan kehidupan keluarga. Diskusi pun tak lepas dari jalan literasi menulis yang saya pilih dan tekuni hingga hari ini. Saya pun menyampaikan permohonan dukungan atas ikhtiar literasi yang terus saya jalani, dan beliau menyimaknya dengan penuh perhatian.
Dalam pertemuan itu, Pak Rizal juga bercerita tentang fase hidup berikutnya. Masa purnatugas yang tinggal sekitar dua tahun lagi mulai ia pandang dengan tenang. Meski peluang terbuka lebar untuk melanjutkan peran professional menjadi Komite Audit atau peran sejenis di berbagai Perusahaan namun tampaknya itu bukan jalan yang akan beliau pilih. Pria kelahiran Jakarta tahun 1967 ini justru menyampaikan keinginannya untuk kembali lebih dekat dengan alam, menjadi petani, dan lebih fokus memperdalam ibadah.
Sebuah pilihan hidup yang sederhana, namun terasa lebih menenangkan. Percakapan kami kemudian mengalir pada satu nilai yang selalu beliau pegang teguh sepanjang pengabdian tentang integritas. Dengan bahasa yang sangat membumi, Pak Rizal menyampaikan bahwa integritas pada hakikatnya adalah kejujuran. Jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain, dan jujur pada lingkungan termasuk jujur dalam melaksanakan pekerjaan.
Nilai inilah yang menurut beliau menjadi fondasi utama selama berkarier di BPKP, hingga dipercaya mengemban berbagai jabatan di BPKP. Integritas adalah laku hidup yang harus dijaga setiap hari. Di ujung pertemuan, Pak Rizal memberikan sebuah testimoni yang sederhana atas pilihan saya terus berkarya di sela tugas utama sebagai abdi negara.Sebuah testimony sebagai peneguhan di saat yang tepat.
Beliau mengatakan bahwa hidup adalah perjalanan. Setiap orang memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab untuk memilih jalan hidupnya. Memilih perjalanan yang akan ditempuh adalah keputusan penting. Menurut beliau, saya telah menetapkan pilihan itu bekerja sebagai abdi negara sekaligus menulis. Pilihan yang tidak mudah, namun mulia.
Tetaplah berjalan dengan tegar dan lakukan yang terbaik. Kata-kata itu tidak panjang, tidak pula menggurui. Namun justru karena kesederhanaannya, ia menancap kuat di hati. Menjadi pengingat bahwa perjalanan delapan tahun pertemuan dan kebersamaan sejak Reform Leader Academy hingga hari ini, bukan sekadar pertemuan biasa.
Bagi saya, pertemuan kemarin membawa semangat baru. Pertemuan dan diskusi tentang integritas, pengabdian, dan konsistensi pada nilai akan selalu menemukan jalannya. Dan bahwa menulis, sebagaimana hidup, adalah perjalanan yang perlu dijalani dengan sabar, tegar, dan penuh semangat.
Kota Denpasar, 4 Februari 2026


