Sore di Tengah Riuh Canggu

Senin, 26 Januari 2026 Last Updated 2026-01-25T20:44:57Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Langkah saya tiba di Canggu Pulau Dewata sore ini. Angin berhembus menyapa, langit perlahan merunduk, dan suasana terasa hidup namun tetap menenangkan, indah, sederhana, dan menggetarkan rasa.

Di sebuah kafe, saya duduk menikmati musik yang ringan mengalun. Tak ada yang tergesa. Percakapan kecil pun terjadi dengan pelayan kafe bernama Kadek. Baru satu setengah bulan bekerja, namun bahasa Inggrisnya fasih, penuh percaya diri dengan tamu dari luar negeri.

Dari obrolan singkat itu, saya menangkap satu pelajaran. Tentang ketekunan dan kemauan belajar sering kali melampaui keterbatasan. Hidup memang tidak selalu memberi kemudahan, tetapi selalu menyediakan ruang bagi mereka yang mau berusaha.

Sore di Canggu ini membuat dada mengucap syukur. Bukan hanya karena pemandangan yang indah, tetapi karena perjumpaan-perjumpaan kecil yang bermakna. Pulau Dewata kembali mengingatkan, bahwa kebahagiaan kerap hadir lewat hal-hal sederhana. Dari musik yang lembut, percakapan hangat, dan hati yang terbuka.

Canggu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Canggu lebih santai, lebih jujur, dan terasa hidup. Canggu menawarkan keseimbangan. Pantai, sawah, kafe, ruang kerja kreatif, dan kehidupan lokal berpadu tanpa terasa dipaksakan. Di satu sisi ada ombak dan matahari terbenam yang memesona. Di sisi lain ada ruang hening untuk bekerja, merenung, atau sekadar duduk menikmati waktu. Cocok bagi siapa pun yang ingin melambat tanpa merasa tertinggal.

Energi kreatifnya kuat. Canggu adalah titik temu para penulis, pekerja jarak jauh, seniman, dan pencari makna dari berbagai penjuru dunia. Percakapan sederhana di kafe bisa berubah menjadi diskusi tentang hidup, karya, dan masa depan. Lingkungan seperti ini sering kali memantik ide dan keberanian untuk berkarya.


Manusianya hangat. Dari pelayan kafe hingga warga lokal, banyak kisah tentang ketekunan, kerja keras, dan mimpi yang dijalani dengan sederhana. Interaksi singkat pun sering meninggalkan kesan mendalam, karena ada kejujuran dan kesungguhan dalam keseharian mereka.

Canggu memberi ruang untuk refleksi. Tidak seramai Kuta. Canggu menghadirkan ritme yang pas bagi mereka yang ingin berdamai dengan diri sendiri. Di sini, waktu terasa lebih bersahabat, tidak mendesak, tidak terburu buru. Canggu menarik karena ia tidak berusaha memukau. Ia hanya hadir apa adanya. Dan justru dari kesederhanaan itulah, banyak orang menemukan ketenangan, inspirasi, dan rasa syukur yang lebih dalam.

Usai sholat Magrib di Masjid Al Hasanah Canggu, saya bergerak kembali ke kediaman. Dan sesampai di kediaman, hati pun spontan berucap:

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Kota Denpasar, 25 Januari 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sore di Tengah Riuh Canggu

Trending Now

Profil

iklan