Oleh : Adrinal Tanjung
Banyak yang bertanya kepada saya, mengapa di tengah kesibukan sebagai abdi negara, saya tetap menyempatkan diri menulis. Mengapa pula saya memilih menerbitkan buku dengan self publishing, meski saya sadar betul bahwa prosesnya membutuhkan biaya yang tidak kecil.
Pertanyaan itu sering saya terima, dan saya memahaminya. Menulis di lingkungan instansi pemerintah bukan hanya soal menyediakan waktu dan tenaga. Di balik sebuah buku, ada proses panjang mulai dari menulis naskah, menyunting, menata lay out, merancang cover, hingga mencetak buku. Dulunya saya mencetak minimal seratus eksemplar buku. Beberapa kali saya mencetak dua ratus, tiga ratus, bahkan lima ratus buku. Angka yang jelas membutuhkan keberanian dan kesiapan finansial.
Saya tidak menutup mata pada kenyataan itu. Menulis memang membutuhkan effort yang tidak ringan. Sejak awal saya menyadari, jika memilih jalan ini, maka saya juga harus siap mengeluarkan biaya sendiri. Namun justru di situlah letak pilihan hidup itu berada, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan keputusan sadar untuk tetap berjalan meski tahu risikonya.
Untuk mengatasi kendala biaya, saya memilih cara yang sederhana. Ketika naskah sudah siap terbit, saya biasanya menawarkan buku tersebut terlebih dahulu kepada beberapa sahabat dan rekan yang saya kenal. Tidak ada paksaan, hanya ajakan. Sebagian dari mereka, dengan ketulusan, ikut mendukung. Jika pemesanan telah mencapai sekitar lima puluh buku, barulah saya memberanikan diri mencetak.
Proses inilah yang kembali saya jalani saat menerbitkan buku Refleksi 55. Beberapa sahabat berkenan membantu biaya editor, tata letak, dan pembuatan cover. Dukungan itu menjadi penguat langkah. Akhirnya buku tersebut bisa dicetak, diterbitkan, dan diluncurkan pada 10 Januari 2026, di sebuah tempat yang representatif bertepatan dengan resepsi pernikahan Ananda. Sebuah momen yang bagi saya bukan sekadar peluncuran buku, tetapi perayaan syukur atas perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.
Menerbitkan buku dan berharap ia dibaca banyak orang memang bukan perkara ringan. Namun saya percaya, setiap tulisan yang lahir dari kejujuran dan niat baik akan menemukan jalannya sendiri.
Kini, dari Pulau Dewata, muncul kembali ide baru: menulis dan menerbitkan buku Catatan 60 Hari di Pulau Dewata. Buku ini saya bayangkan lebih reflektif, lebih hening, dan lebih menyentuh sisi terdalam perasaan. Genre tulisan saya memang cenderung demikian, bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengajak pembaca berhenti sejenak dan merenung.
Dalam buku ini, saya berencana menuliskan kisah para sahabat dan tokoh yang saya kenal, yang hadir dalam interaksi, diskusi, dan perjumpaan. Mereka adalah penguat perjalanan, peneguh langkah, dan bagian dari cerita itu sendiri. Buku ini juga akan memuat seorang perempuan tangguh yang paling memahami proses saya menulis dan menerbitkan buku, istri saya.
Buku ini tidak hanya berisi catatan perjalanan, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana menulis dijalani sebagai pilihan hidup. Menulis untuk berbagi, menulis untuk bergembira, dan menulis untuk mencatat legacy. Ulasan-ulasan sederhana, namun dekat dengan keseharian birokrasi dan kehidupan kita pada umumnya.
Semoga rencana ini dapat terwujud. Semoga Catatan dari Pulau Dewata kelak hadir sebagai pengingat bahwa menulis tidak selalu lahir dari kelapangan, tetapi sering tumbuh dari keterbatasan.
Memilih untuk terus menulis, apa pun tantangannya adalah cara saya menjaga makna, merawat syukur, dan tetap setia pada jalan hidup yang saya pilih. Terus bekerja sebagai abdi negara dan juga menyempatkan merangkai kata. Semoga jalan yang saya pilih penuh berkah.
Kota Denpasar, 25 Januari 2026

