Menulis sebagai Jalan Syukur, Jejak Kata di Jalan Pengabdian

Minggu, 08 Februari 2026 Last Updated 2026-02-08T08:13:55Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Menulis bukanlah jalan yang direncanakan sejak awal, tetapi ia perlahan menjadi tempat sebagai cara mensyukuri hidup. Dari kebiasaan sederhana mencatat peristiwa, perjumpaan dengan banyak manusia baik, serta keyakinan bahwa setiap peristiwa dan amanah menyimpan berbagai hikmah.

Bisa menulis hingga sampai di titik ini tentu bukan perjalanan yang mudah. Ia bukan hasil dari satu dua malam, melainkan buah dari ketekunan yang dijaga bertahun-tahun. Di balik setiap halaman yang selesai, ada waktu yang dicuri dari lelah, ada energi yang tetap dipaksakan menyala ketika tubuh ingin berhenti, dan ada disiplin yang dilatih terus-menerus agar menulis tetap menjadi bagian dari kehidupan. Ada puluhan hingga ratusan buku yang dibaca, peristiwa yang menimpa, dan cerita cerita di sepanjang perjalanan. Itulah yang menjadi modal untuk menulis dan terus melangkah di jalan sunyi ini.

Dalam rentang waktu dua dekade, menulis menjadi jalan yang setia. Rata-rata dua hingga tiga buku lahir setiap tahun, mengalir perlahan. Angka-angka itu sesungguhnya tidaklah menjadi tujuan utama. Yang penting adalah menjaga komitmen, merawat kejujuran pada pengalaman, dan menghadirkan tulisan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hidup yang dijalani.


Di sela tugas utama sebagai abdi negara, menulis menjadi ruang sunyi untuk berdamai dengan diri sendiri.  Menulis adalah cara untuk menata makna di balik berbagai peristiwa. Setiap amanah, setiap penugasan, setiap perjumpaan dengan manusia dan peristiwa, selalu menyisakan pelajaran yang layak dicatat. Dari sanalah tulisan-tulisan lahir. Sebagai arsip untuk mendokumentasikan jejak pengabdian, sebagai upaya kecil untuk berbagi hikmah.

Ada beberapa rekan dan sahabat yang mengatakan bahwa kisah literasi ini layak diangkat ke layar lebar. Dijadikan film atau sinetron. kisah tentang kesetiaan pada proses menulis dan menerbitkan buku yang sebagian dramatis dan penuh kejutan. Kisah yang selalu menarik untuk disimak.Tentang disiplin yang terus dijaga,  tentang kendala dan tantangan yang selalu bisa dipatahkan. Juga tentang keyakinan bahwa kata-kata bisa menjadi jalan yang memberi terang bagi diri sendiri dan banyak orang.


55 buku yang lahir dalam 20 tahun adalah penanda waktu, saksi perjalanan, dan bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Bahwa menjadi pegawai negeri tidak pernah membatasi seseorang untuk tetap tumbuh secara intelektual dan spiritual. Justru dari ruang pengabdian itulah, makna-makna hidup menemukan kedalamannya.

Perjalanan kepenulisan selama dua dekade kisah nyata tentang kesungguhan, konsistensi, dan keberanian untuk setia pada panggilan hati. Karena di dunia yang serba cepat ini, konsistensi adalah bentuk keberanian yang paling langka. Dan perjalanan ini belum selesai. Selama napas masih diberi, selama pena masih bisa digenggam, menulis akan tetap menjadi cara paling jujur untuk bersyukur, mengabdi, dan meninggalkan jejak jejak kebaikan. Semoga saja.

Pantai Sanur, 7 Februari 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menulis sebagai Jalan Syukur, Jejak Kata di Jalan Pengabdian

Trending Now

Profil

iklan