Pagi Penuh Syukur di Pantai Sanur

Kamis, 13 November 2025 Last Updated 2025-11-13T02:08:44Z


Fiksi
Cerita Bersambung 

Oleh : Adrinal Tanjung

Masih terasa seperti mimpi. Sudah seminggu Hanafi berada di Pulau Dewata, namun setiap kali ia membuka jendela kamar di pagi hari, ada bagian dari dirinya yang belum sepenuhnya percaya bahwa ini nyata. Langit begitu biru, seakan tanpa batas. Di kejauhan, suara ombak bersahutan dengan desir angin yang menyentuh dedaunan. Semua terasa baru, sekaligus menenangkan.

Ada rasa asing di dada, tapi juga kedamaian yang tak bisa dijelaskan.

Rasa yang membuat Hanafi menarik napas panjang, dan berkata pelan pada dirinya sendiri, "Setiap pagi adalah awal baru. Maka, jagalah semangatmu."

Hari-hari pertama di tanah penugasan selalu menuntut penyesuaian. Lingkungan baru, ritme kerja baru, wajah-wajah baru yang mulai dikenalnya perlahan. Tapi Hanafi tahu, setiap perubahan membawa pesan dari Tuhan. Ia hanya perlu mendengarkannya dengan hati yang jernih.

Tiga hari terakhir, Hanafi mulai menemukan keseimbangan kecil terkait rutinitas pagi yang menenangkan. Setelah shalat Subuh, ia menulis beberapa kalimat di buku kecil, kadang membaca dua-tiga halaman buku, lalu bergegas menuju Pantai Sanur.

Perjalanan tak sampai sepuluh menit. Namun setiap langkah menuju pantai terasa seperti ziarah batin. Ketika matahari perlahan terbit di ufuk timur, Hanafi duduk di pasir, menatap laut yang membentang. Cahaya pagi menari di permukaan air, seolah menyambut setiap pengembara yang datang mencari makna hidupnya sendiri.

Tak lama ia di sana, hanya sekitar tiga puluh menit. Tapi di sela keheningan itu, selalu muncul bisikan doa yang sama: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.”

Ayat itu terucap tanpa suara, hanya bergema di hatinya. Dan setiap kali ia mengucapkannya, ada rasa syukur yang tumbuh perlahan, seperti ombak kecil yang datang silih berganti namun tak pernah lelah menyapa pasir.

Sore itu, sepulang dari kantor, Hanafi menatap kalender kecil di meja kerja.

Tangannya berhenti di angka enam. "Sebulan, dua bulan, tiga bulan… hingga enam bulan ke depan," katanya dalam hati.

Ia sadar, enam bulan pertama di Pulau Dewata akan menjadi masa penting. Masa pembuktian apakah ia mampu menyesuaikan diri, memimpin dengan hati, dan tetap menjaga api menulis di tengah rutinitas pengabdian.

Sejak hari pertama, Hanafi menulis satu kalimat kecil di setiap lembar catatannya: “Tetap semangat dan terus berkarya.”

Kalimat itu sederhana, tapi bermakna dalam. Sebuah janji, sebuah doa. Pengingat bahwa pengabdian sejati bukan hanya pada lembaga, tetapi juga pada nilai yang ia tanam di dalam dirinya: keikhlasan, kesungguhan, dan rasa syukur.

Hari-hari di Pulau Dewata kian padat. Tugas menjelang akhir tahun menuntut fokus, tapi Hanafi selalu menyelipkan waktu untuk berhenti sejenak. Ia belajar dari laut  yang tidak pernah menolak ombak, sekeras apa pun datangnya.


Ia teringat ayat yang selalu menenangkannya:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 6)

Ayat itu bukan sekadar bacaan, tapi penopang jiwa. Setiap kali beban kerja terasa berat, atau rasa rindu menyelinap di malam hari, Hanafi kembali pada keyakinan bahwa setiap kesulitan membawa hadiah tersembunyi, asal hati mau bersabar dan bersyukur.

Pulau Dewata telah menjadi ruang belajar tentang syukur. Hanafi belajar menerima tanpa banyak bertanya, belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah, dan belajar menemukan ketenangan di tengah kesibukan.

Ia paham, enam bulan ke depan bukan sekadar hitungan waktu.

Itu adalah kesempatan untuk menanam kebaikan dalam sikap, dalam keputusan, dalam tulisan. Ia ingin meninggalkan jejak yang tidak hanya terbaca di laporan kerja, tapi juga terasa di hati orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Malam itu, ia menulis satu kalimat di halaman terakhir catatan bulanan:

“Semoga Pulau Dewata membawa kebahagiaan dan keberkahan. Karena takdir selalu punya cara indah untuk membalas ketulusan.”

Pagi berikutnya, matahari menyelinap lembut di balik tirai jendela. Hanafi menatap langit biru, menarik napas dalam, lalu tersenyum.

Ia tahu, perjalanan ini baru sebagian. Masih banyak tantangan menanti, tapi kini hatinya lebih siap. Setiap pagi adalah pengingat bahwa takdir, betapapun mengejutkan, selalu mengandung rencana yang indah.

Hanafi melangkah keluar rumah, menatap arah pantai yang sudah mulai diterangi cahaya. Langit, angin, dan laut seakan bersekongkol memberi pesan: 

Setiap langkah yang dijalani dengan niat baik akan meninggalkan jejak yang tak pernah sia-sia. Dan pagi itu, di Pulau Dewata yang mempesona, Hanafi kembali menapaki hari baru dengan semangat, pena, dan hati yang penuh syukur.

Pantai Sanur, 12 November 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pagi Penuh Syukur di Pantai Sanur

Trending Now

Profil

iklan