Sore langit Pulau Dewata tampak teduh. Hanafi berada di Pantai Semawang Sanur. Duduk memandangi laut yang seolah tak pernah lelah memeluk pantai. Ombak datang dan pergi tanpa suara yang tergesa. Angin membawa aroma yang begitu akrab, sementara pikirannya kembali mengembara, melintasi laut, menembus jarak dan waktu.
Semalam, sebuah percakapan panjang telah membuka kembali pintu kenangan yang hampir empat puluh tahun tertutup rapat. Tiba-tiba nama Ratna melintas di benaknya.
Senyumnya masih sama seperti yang diingat Hanafi.
Teduh. Tulus. Dan selalu menghadirkan suasana yang hangat.
Ratna adalah teman sekolahnya di sebuah SMP Negeri di Kota Padang. Sekolah itu memiliki tujuh kelas paralel. Hanafi belajar di kelas I.1. Ratna berada di kelas I.3.
Mereka tidak pernah duduk dalam ruang kelas yang sama. Namun halaman sekolah, lorong-lorong kelas, kantin, dan jalan pulang telah membuat mereka saling mengenal.
Ratna bukan gadis yang suka menjadi pusat perhatian. Ia hadir dengan kesederhanaannya.Lebih banyak tersenyum daripada berbicara. Barangkali justru karena itulah banyak orang mengingatnya.
Semalam, Ratna berkisah. Bukan tentang keberhasilan. Bukan pula tentang pencapaian yang ingin dibanggakan. Ia hanya bercerita tentang hidup, sebagaimana adanya.
Tentang masa remaja yang sederhana. Tentang sekolah yang selalu dirindukan.
Tentang jalan kaki sepulang sekolah ketika mendapat giliran belajar siang pulang sore. Bersama teman-teman, mereka melangkah tanpa merasa lelah. Jalan yang panjang terasa pendek karena dipenuhi canda dan tawa.
Ketika sekolah masuk pagi, cerita mereka berbeda. Mereka berebut naik angkutan kota.Kadang harus menunggu. Kadang memilih-milih angkot yang dianggap paling nyaman.Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi kenangan yang paling berharga.
Hanafi mendengarkan tanpa menyela. Ia menyadari, waktu memang memiliki cara yang unik. Saat sebuah peristiwa sedang dijalani, kita sering menganggapnya biasa saja.
Namun puluhan tahun kemudian, justru peristiwa-peristiwa sederhana itulah yang paling sering mengetuk ingatan.
Ratna melanjutkan kisahnya. Selepas SMA, hidup membawanya pada sebuah persimpangan. Ia tidak melanjutkan kuliah. Ia memilih tetap berada di sisi kedua orang tuanya. Menjadi gadis yang patuh.
Lalu datanglah hari ketika ayah dan ibunya memperkenalkan seorang laki-laki sebagai calon pendamping hidupnya. Ratna tidak mengenalnya. Belum ada cinta yang tumbuh.
Belum ada cerita yang terjalin. Yang ada hanyalah kepercayaan kepada kedua orang tua yang selama ini membesarkannya dengan penuh kasih.
"Aku menerima pilihan mereka," ucap Ratna pelan. "Bukan karena aku tidak punya keinginan sendiri. Tetapi karena aku percaya, orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya."
Kalimat itu membuat Hanafi terdiam cukup lama. Ia membayangkan seorang gadis belia yang meninggalkan rumah, meninggalkan kampung halaman, lalu mengikuti suaminya ke sebuah daerah kabupaten di Sumatera Barat yang sama sekali asing baginya.
Hari-hari pertama tidak mudah. Ratna mengaku sering menangis. Ia rindu rumah.
Rindu suara ibunya. Rindu jalan-jalan yang selama ini dikenalnya. Namun hidup tidak pernah meminta seseorang untuk terus tinggal di tempat yang sama.
Sedikit demi sedikit ia belajar menerima.Belajar mengenal lingkungan baru. Belajar memahami lelaki yang kini menjadi suaminya.
Dan di sanalah ia menemukan sebuah kenyataan yang sederhana.
Cinta ternyata tidak selalu hadir di awal. Kadang cinta tumbuh perlahan. Ia lahir dari kesabaran. Dibesarkan oleh pengertian. Dan dikuatkan oleh kesetiaan menjalani hari demi hari bersama.
Tahun-tahun berlalu tanpa terasa. Rumah yang dahulu terasa asing berubah menjadi tempat pulang. Empat orang anak lahir dan memenuhi rumah itu dengan tawa.
Berganti tahun, anak anak makin dewasa kemudan menikah. Lalu cucu-cucu datang, membawa kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan ketika masih menjadi gadis berseragam putih biru.
Hingga akhirnya, kehidupan kembali mengajarkan satu pelajaran yang tidak pernah mudah. Suami yang selama puluhan tahun berjalan bersamanya dipanggil lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.
Kesunyian kembali datang. Namun kali ini Ratna tidak menangis seperti ketika pertama kali meninggalkan rumah orang tuanya.Usia telah mengajarkannya bahwa kehilangan bukanlah akhir dari cinta. Cinta yang sejati tetap tinggal dalam doa, kenangan, dan rasa syukur.
Hanafi memandang laut yang mulai berkilau diterpa cahaya matahari. Ia menarik napas panjang.
Empat puluh tahun yang lalu, Ratna hanyalah seorang gadis ceria yang sering ditemuinya di halaman sekolah. Hari ini, di mata Hanafi, Ratna adalah perempuan yang telah menyelesaikan begitu banyak pelajaran kehidupan dengan hati yang lapang.
Ia tidak memilih jalan hidupnya. Tetapi ia memilih cara menjalaninya. Dan mungkin di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.
Hanafi tersenyum. Debur ombak terus terdengar. Angin kembali berembus lembut.
Ia semakin percaya bahwa setiap teman masa sekolah membawa kisahnya masing-masing. Ada yang mengejar mimpi. Ada yang mengubah mimpi. Ada yang menemukan cinta. Ada pula yang belajar menerima kehilangan. Namun semuanya dipertemukan oleh satu ruang yang sama. Sebuah SMP Negeri di Kota Padang.
Tempat langkah-langkah kecil itu dimulai, sebelum kehidupan membawa mereka menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan di antara semua kisah yang didengarnya, kisah Ratna mengajarkan satu hal yang tak mudah dilupakan.
Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana manusia. Tetapi ketika dijalani dengan bakti, kesabaran, dan rasa syukur, takdir selalu mampu menemukan jalan terbaiknya sendiri.
Pantai Semawang, 20 Juli 2026

