Oleh : Adrinal Tanjung
Dua Setengah Jam Perjalanan yang Membahagiakan di Pulau Dewata
Ada banyak cara menikmati kehidupan di Pulau Dewata. Tidak selalu harus dengan perjalanan jauh, mengunjungi tempat-tempat terkenal, atau menyusun agenda yang padat. Terkadang, kebahagiaan justru hadir melalui perjalanan sederhana, sarapan yang menggugah selera, deburan ombak, secangkir kopi, dan kesempatan untuk duduk sejenak tanpa diburu waktu.
Pagi itu, Hanafi kembali menikmati salah satu rutinitas akhir pekannya. Dari rumah, ia bergerak menuju kawasan Canggu. Perjalanan tidak lebih dari dua puluh menit. Jarak yang terasa dekat, terlebih ketika dibandingkan dengan perjalanan panjang yang dahulu kerap dilaluinya untuk menjalankan tugas kedinasan.
Tujuan pertamanya adalah Rumah Gadang, tempat yang sudah cukup akrab baginya untuk menikmati sarapan. Lontong Padang menjadi pilihan. Ada cita rasa yang mengingatkannya pada kampung halaman, pada kebiasaan, dan pada akar budaya yang tetap melekat meskipun kini ia tinggal jauh dari Ranah Minang.
Sekitar dua puluh lima menit dihabiskan untuk sarapan. Tidak perlu terburu-buru. Menikmati makanan kesukaan, mengamati suasana sekitar, dan membiarkan pagi berjalan sebagaimana mestinya sudah cukup menghadirkan kebahagiaan.
Usai sarapan, Hanafi melanjutkan perjalanan menuju Pantai Nelayan. Lokasinya tidak terlalu jauh. Selama kurang lebih empat puluh menit, ia menikmati suasana pantai, memandang laut, mendengarkan ombak, dan membiarkan pikirannya beristirahat sejenak dari urusan pekerjaan dan berbagai rencana yang masih menunggu untuk diselesaikan.
Baginya, pantai bukan sekadar tempat untuk dikunjungi. Ada ruang untuk menenangkan diri di sana. Ada kesempatan untuk mengatur kembali pikiran, mensyukuri apa yang telah dimiliki, sekaligus mengingatkan diri bahwa hidup tidak semata-mata tentang mengejar sesuatu.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Pantai Kerobokan. Kali ini, Hanafi memilih Warung Cantina sebagai tempat untuk singgah lebih lama. Ia memesan café latte, lalu mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati suasana pantai.
Angin laut berembus perlahan. Ombak datang dan kembali surut. Di hadapannya, laut seolah sedang menyampaikan pesan sederhana: kehidupan terus bergerak, tetapi manusia tidak harus selalu berlari.
Sambil menikmati kopi, Hanafi memperhatikan beberapa pengunjung yang juga sedang menghabiskan waktu di tepi pantai. Suasana santai membuka peluang untuk saling menyapa. Sebuah percakapan ringan pun terjalin dengan salah seorang pengunjung yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat duduknya.
“Sering menikmati pagi di pantai seperti ini?” tanya pengunjung tersebut ramah.
Hanafi tersenyum sebelum menjawab.
“Kalau akhir pekan, saya berusaha menyempatkan diri. Sarapan dahulu, kemudian mampir ke pantai. Setelah itu, menikmati kopi sambil duduk santai seperti sekarang.”
“Wah, menyenangkan sekali. Tidak perlu pergi jauh, tetapi bisa menikmati banyak hal.”
“Betul,” jawab Hanafi. “Kadang-kadang kita terlalu sibuk merencanakan perjalanan besar, sampai lupa bahwa kebahagiaan juga bisa ditemukan di tempat-tempat yang dekat dengan keseharian kita.”
Pengunjung itu mengangguk sambil memandang ke arah laut.
“Apalagi kalau masih bisa menikmati suasana seperti ini. Udara, ombak, dan waktu yang tidak terlalu terburu-buru. Rasanya pikiran menjadi lebih ringan.”
Hanafi kembali tersenyum. Ia merasa percakapan singkat itu mengingatkannya pada sesuatu yang sering ia renungkan.
“Ya, kita memang perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak. Bukan berhenti berkarya, tetapi berhenti dari kesibukan agar bisa kembali melihat kehidupan dengan lebih jernih.”
Percakapan sederhana itu tidak berlangsung panjang. Mereka kembali menikmati suasana masing-masing. Namun, bagi Hanafi, pertemuan singkat tersebut menambah warna pada pagi yang sudah terasa menyenangkan.
Ia menyadari bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat yang didatangi, melainkan juga tentang pengalaman yang ditemui di sepanjang jalan. Ada orang-orang yang hadir sebentar, percakapan yang sederhana, dan pemikiran yang muncul tanpa direncanakan. Semuanya bisa menjadi bagian dari perjalanan yang patut disyukuri.
Hanafi menghabiskan waktu hampir satu jam di Warung Cantina. Café latte yang dipesannya menjadi teman dalam keheningan. Ia tidak merasa perlu mengisi setiap menit dengan membaca, menulis, atau memeriksa telepon genggam. Sesekali, membiarkan diri menikmati suasana tanpa melakukan apa-apa justru menjadi kebutuhan.
Sebagai seseorang yang terbiasa merangkai kata dan menuntaskan berbagai pekerjaan, Hanafi memahami pentingnya menjaga keseimbangan. Ada waktu untuk berlari mengejar target, ada waktu untuk menyelesaikan amanah, dan ada pula waktu untuk menikmati kehidupan yang sedang dijalani.
Tanpa terasa, sekitar dua setengah jam telah berlalu sejak ia meninggalkan rumah. Perjalanan singkat itu membawanya melewati sarapan di Rumah Gadang, menikmati suasana Pantai Nelayan, hingga duduk tenang di Warung Cantina, Pantai Kerobokan.
Dua setengah jam yang sederhana, tetapi terasa berharga.
Hanafi kembali bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk menikmati keindahan Pulau Dewata. Selama masih berada di Bali, ia ingin mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bermakna: menunaikan tugas dengan baik, terus berkarya melalui tulisan, menjaga kesehatan, memperluas silaturahmi, dan sesekali memberi ruang bagi diri sendiri untuk menikmati alam.
Ia tidak tahu berapa lama lagi kesempatan tinggal di Bali akan berlangsung. Namun, ia memahami satu hal: kehidupan yang sedang dijalani hari ini juga merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dinikmati, bukan sekadar masa tunggu menuju perjalanan berikutnya.
Bukankah sering kali kita terlalu sibuk menantikan hari esok, sampai lupa mensyukuri hari ini?
Pagi itu, melalui lontong Padang, deburan ombak, secangkir café latte, dan percakapan ringan dengan sesama pengunjung, Hanafi kembali belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang luar biasa. Terkadang, kebahagiaan hadir ketika kita mampu menikmati hal-hal sederhana dengan hati yang lapang.
Tidak ada perjalanan yang sia-sia selama kita bersedia mengambil hikmah darinya. Setiap persinggahan menyimpan pengalaman, setiap pertemuan membuka kemungkinan, dan setiap keheningan memberi kesempatan untuk kembali mengenali diri sendiri.
Mumpung masih di Pulau Dewata, Hanafi ingin terus merawat rasa syukur, menjaga semangat berkarya, dan menikmati setiap perjalanan yang telah ditetapkan oleh-Nya.
Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah atau seberapa banyak karya yang berhasil dituntaskan. Hidup juga tentang kemampuan menikmati perjalanan, mensyukuri pertemuan, dan menemukan ketenangan di antara kesibukan. Tetap sehat, terus berkarya, nikmati perjalanan, dan jangan lupa bahagia.
Kota Denpasar, 25 Oktober 2026

