Oleh : Adrinal Tanjung
Hanafi tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca buku di sudut kamar sederhana pada awal masa pengabdiannya sebagai abdi negara perlahan akan mengubah jalan hidupnya. Hampir setiap bulan dia membeli buku sebagai koleksi untuk mengisi waktu usai jam kerja. Selain membeli buku, Hanafi juga rajin membaca koran dan media cetak lainnya. Kala itu media cetak cukup beragam. Hal inilah yang membuatnya menemukan banyak ide dan gagasan dari kebiasaan membaca tersebut yang kemudian mengantarkannya mulai mencoba menulis. Hobi lama yang sudah dijalaninya sejak masa sekolah menengah pertama di kota kelahirannya.
Saat diterima sebagai abdi negara di sebuah instansi pemerintah, fokus Hanafi adalah bekerja sebaik baiknya. Melakukan tugas dari atasan dengan hasil yang terbaik. Berbagai penugasan membawa pengalaman yang berharga.
Di usia muda, ketika banyak orang mulai sibuk mengejar kenyamanan dan memikirkan jenjang karier setinggi mungkin, Hanafi justru menemukan ketenangan dari sesuatu yang sederhana yaitu membaca dan menulis. Malam-malam panjang sering dihabiskannya bersama buku-buku yang menumpuk di meja kecil dekat jendela. Kadang tentang birokrasi dan pelayanan publik, kadang tentang sejarah, sosial kemasyarakatan, hingga kisah-kisah perjalanan hidup yang menginspirasi.
Dari kebiasaan membaca itulah kegelisahan mulai tumbuh di dalam dirinya. Ia merasa banyak pengalaman, pemikiran, dan peristiwa baik yang sayang jika hilang begitu saja tanpa pernah dicatat. Maka diam-diam Hanafi mulai menulis.
Awalnya hanya catatan sederhana tentang pekerjaan, pengalaman di lapangan, dan berbagai hal kecil yang ditemuinya dalam keseharian sebagai aparatur negara. Ia menulis tanpa target besar. Tidak pernah membayangkan akan menjadi penulis. Bahkan ia sempat merasa tulisannya terlalu biasa untuk dibaca orang lain.
Namun hidup sering kali bergerak dengan cara yang tidak terduga. Suatu hari salah satu tulisannya dimuat di sebuah koran lokal di Manado. Pagi itu Hanafi membeli koran dengan perasaan berdebar. Tangannya sedikit gemetar ketika melihat namanya tercetak di halaman opini. Ia tersenyum lama. Bukan karena merasa hebat, melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa bahwa gagasan kecil dari seseorang yang biasa saja ternyata bisa menemukan ruang untuk ditulis dan dibaca banyak orang. Sejak saat itu Hanafi semakin rajin menulis. Hampir setiap bulan opini yang ditulisnya dimuat di harian lokal di kota manado. Sesuatu yang juga dicermati oleh rekan kerja dan pimpinan di instansi tempat ia bertugas.
Perjalanan pekerjaan kemudian membawanya berpindah tugas ke ibu kota. Dunia baru terbuka di hadapannya. Kesempatan membaca semakin luas. Ia mulai mengenal perpustakaan besar, toko buku, ruang diskusi, dan lingkungan kerja yang membuat cara pandangnya terhadap kehidupan semakin berkembang. Di sela kesibukan sebagai abdi negara, Hanafi tetap menulis. Kadang larut malam setelah pekerjaan selesai. Kadang dini hari sebelum matahari terbit. Kadang di sela perjalanan dinas ketika orang lain memilih beristirahat. Menulis perlahan menjadi ruang sunyi yang menyelamatkan dirinya dari kelelahan rutinitas birokrasi.
Perjalanan berikutnya mempertemukannya dengan dunia majalah internal di instansi tempatnya bekerja. Dari sana ia belajar menulis lebih serius. Ia mulai memahami bahwa tulisan bukan sekadar kumpulan kata-kata, melainkan tanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan kepada publik. Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika Hanafi merasa sangat lelah membagi waktu antara pekerjaan dan dunia literasi yang dicintainya. Ada pula komentar-komentar sinis yang diam-diam melukai hati.
“Untuk apa terlalu sibuk menulis?”“Mau jadi terkenal?”
“Fokus saja pada karier.”
Hanafi mendengar semuanya. Tetapi ia memilih diam. Semakin bertambah usia, ia mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dijelaskan kepada orang lain. Karena baginya, menulis bukan tentang popularitas. Menulis adalah cara menjaga dirinya tetap hidup. Tahun-tahun berlalu, karier Hanafi terus berjalan hingga ia dipercaya dan dipromosikan menjadi pejabat eselon IV sebagai kepala sub bidang. Karir itupun terus meningkat hingga menduduki jabatan sebagai kepala bidang (eselon III). Banyak rekannya menganggap jalan hidupnya akan terus menanjak menuju posisi-posisi yang lebih tinggi.
Namun justru di titik itulah Hanafi mulai banyak merenung. Ia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang jabatan. Ada sesuatu yang lebih ingin dijaganya, kecintaan pada literasi. Ketika pemerintah mulai melakukan penyederhanaan birokrasi dan membuka ruang yang lebih luas bagi jabatan fungsional, Hanafi merasa seperti menemukan jalannya sendiri. Ia tetap bekerja dengan baik namun tidak lagi terlalu sibuk mengejar posisi. Ia ingin tetap menjadi abdi negara, tetapi juga tetap memiliki ruang untuk membaca, menulis, dan berbagi gagasan.
Dan mungkin keputusan itulah yang perlahan membuat hidupnya terasa lebih tenang. Semua perjalanan itu sebenarnya bermula dari satu peristiwa sederhana pada tahun 2006. Saat itu Hanafi melihat bagaimana sebuah kota di Pulau Sumatera perlahan bergerak maju melalui peningkatan pelayanan publik dan pembangunan daerah. Banyak orang melihatnya sebagai hal biasa. Namun bagi Hanafi, itu adalah cerita yang layak dituliskan. Ia mulai mengumpulkan dokumen, menghadiri paparan, berdiskusi, hingga mewawancarai banyak orang. Berbulan-bulan ia tenggelam dalam proses itu. Hingga buku perdana yang ditulisnya terbit.
Dan ketika buku pertamanya akhirnya terbit, Hanafi kembali dibuat terkejut oleh kehidupan. Buku itu dicetak ulang hingga dua kali. Hanafi duduk lama memandangi buku tersebut di tangannya. Dalam diam ia mulai memahami satu hal penting. bahwa tulisan yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya sendiri. Sejak saat itu perjalanan literasinya terus bergerak. Ia mulai menulis tentang banyak daerah, tentang pemimpin-pemimpin yang bekerja diam-diam, tentang aparatur yang tetap bertahan dalam keterbatasan, tentang masyarakat kecil yang tidak pernah berhenti berharap.
Bagi Hanafi, negeri ini tidak kekurangan orang baik. Yang sering kurang hanyalah orang yang bersedia mencatat cerita-cerita baik itu agar tidak hilang ditelan waktu. Dua puluh tahun berlalu begitu cepat. Lebih dari lima puluh buku dan ratusan artikel lahir dari perjalanan panjangnya. Ia diundang berbicara di berbagai forum, berdiri satu panggung bersama para penulis dan tokoh-tokoh besar negeri ini. Namun semakin jauh perjalanan itu berjalan, Hanafi justru semakin merasa kecil.
Ia tetap datang ke kantor seperti biasa. Tetap menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai abdi negara. Tetap menikmati kopi hangat sambil menulis di sudut-sudut sunyi kehidupannya. Karena kini ia memahami satu hal, menulis bukan tentang ingin dikenang sebagai siapa. Menulis adalah tentang menjaga nyala kecil di dalam hati agar tidak padam.
Nyala untuk terus belajar. Nyala untuk terus berpikir. Nyala untuk terus berharap bahwa kata-kata yang ditulis dengan tulus suatu hari dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Dan kehidupan akhirnya membawa Hanafi pada sebuah titik yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan sebelumnya. Suatu sore yang tenang, sebuah surat permintaan dari Gubernur Sumatera Barat membuatknya merenung untuk mengabdi di kampung halaman. Ia membacanya perlahan. Matanya terdiam cukup lama, apakah kesempatan emas ini akan diambilnya untuk bisa berkiprah lebih luas lagi.
Tanah yang dulu membesarkannya dalam kesederhanaan. Tanah yang menyimpan masa kecil, perjuangan keluarga, dan mimpi-mimpi kecil yang pernah ia gantungkan diam-diam di langit kehidupan. Hanafi ditawari untuk menjadi pejabat tinggi di tanah kelahirannya sendiri. Lagi lagi Hanafi tercenung. Yang hadir justru keheningan panjang yang menggetarkan hati.
Setelah puluhan tahun berjalan di jalan sunyi literasi, menulis dalam diam di sela tugas sebagai abdi negara, kehidupan ternyata membawanya pulang dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hanafi belum mengambil putusan atas tawaran tersebut. Dalam hati Hanafi memahami satu hal penting. bahwa takdir terbaik sering datang bukan kepada mereka yang paling sibuk mengejar kekuasaan, melainkan kepada mereka yang tetap setia bekerja, menjaga integritas, dan merawat nyala kecil di dalam hati tanpa pernah berhenti berharap kepada Allah SWT.
Malam itu Hanafi kembali membuka laptopnya. Ia mulai menulis lagi. Karena ia tahu, perjalanan panjang ini belum benar-benar selesai. Masih ada cerita yang harus dirawat. Masih ada pengalaman yang harus dibagikan. Dan masih ada nyala kecil yang harus dijaga agar tetap hidup untuk generasi-generasi berikutnya. Pilihannya menerawang jauh apakah kesempatan ini akan diambil atau tetap bekerja sebagai abdi negara yang telah memberi banyak pengalaman selama hampir tiga dekade.
Terpilih sebagai salah satu tulisan di Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026
Dimuat di buku Akar yang Menolak Tumbang Jilid 1

