Kemenangan atas Diri Sendiri Belajar dari Perayaan Galungan dan Kuningan di Bali

Sabtu, 20 Juni 2026 Last Updated 2026-06-20T06:51:52Z

Oleh : Adrinal Tanjung

Pagi ini suasana terasa berbeda. Saat berangkat menuju kantor, jalanan yang biasanya ramai tampak lebih lengang. Kendaraan tidak sebanyak hari-hari biasa. Beberapa toko yang saya lewati terlihat tutup. Suasana terasa lebih tenang, seolah Pulau Dewata sedang mengajak siapa saja yang melaluinya untuk berjalan lebih pelan dan merenung lebih dalam.

Hari ini adalah Hari Raya Galungan. Hari suci yang dirayakan umat Hindu, khususnya di Bali. Sebagian besar rekan kerja menikmati libur fakultatif untuk merayakannya bersama keluarga. Sementara saya dan beberapa pegawai lainnya tetap menjalankan aktivitas kantor seperti biasa. 


Selama menjalani kehidupan di Pulau Dewata, saya semakin menyadari bahwa Bali tidak hanya mempesona karena keindahan alamnya. Ada nilai-nilai kehidupan yang tumbuh dan hidup dalam keseharian masyarakatnya. Nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi dan terus dijaga dengan penuh kesadaran.

Galungan adalah salah satu cerminan dari nilai-nilai tersebut. Saya bukan bagian dari mereka yang merayakan. Namun hidup dan bekerja di tengah masyarakat yang merayakannya membuat saya berkesempatan belajar memahami makna yang terkandung di dalamnya. Galungan dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Kemenangan kebaikan melawan keburukan. Semakin saya merenungkannya, semakin saya merasa bahwa pertempuran terbesar dalam hidup bukanlah pertarungan yang terjadi di luar diri manusia.

Pertarungan terbesar justru berlangsung di dalam diri. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Pilihan untuk tetap jujur ketika ada kesempatan untuk mengambil jalan yang lebih mudah. Pilihan untuk tetap sabar ketika emosi ingin mengambil alih. Pilihan untuk memaafkan ketika hati merasa terluka. Pilihan untuk bersyukur ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Pilihan untuk tetap berbuat baik meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.


Di sanalah sesungguhnya medan perjuangan kehidupan berada. Dan tidak jarang, perjuangan melawan diri sendiri jauh lebih sulit daripada menghadapi tantangan dari luar. Seiring bertambahnya usia, saya semakin memahami bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari pencapaian dan jabatan yang pernah diraih, penghargaan yang pernah diterima, atau target yang berhasil dicapai. Semua itu tentu memiliki arti. Namun ada kemenangan lain yang lebih sunyi dan sering kali tidak terlihat. Kemenangan ketika mampu mengendalikan ego, mengalahkan diri sendiri.

Kemenangan ketika mampu menjaga integritas saat tidak ada yang mengawasi. Kemenangan ketika tetap memilih jalan yang benar meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah. Kemenangan ketika mampu menerima kenyataan yang berbeda dari harapan tanpa kehilangan ketenangan dan rasa syukur. Barangkali itulah kemenangan yang paling mulia. Karena lawan yang dihadapi bukan orang lain, melainkan diri sendiri.

Hari Raya Kuningan yang jatuh sepuluh hari setelah Galungan,  kemudian mengingatkan tentang rasa syukur, penghormatan, dan kesadaran bahwa kehidupan yang kita jalani hari ini tidak terlepas dari jasa banyak orang yang telah mendahului kita.


Saat merenungkan hal itu, saya teringat orang tua, guru, pimpinan, sahabat, rekan kerja, dan begitu banyak orang baik yang pernah hadir dalam perjalanan hidup. Mereka mungkin tidak selalu terlihat. Namun kebaikan mereka menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk diri saya hari ini. 

Semakin jauh perjalanan hidup ditempuh, semakin saya memahami bahwa tidak ada seorang pun yang berhasil sendirian. Kita bertumbuh karena dukungan banyak orang. Kita melangkah karena ada yang pernah menuntun. Kita kuat karena pernah dikuatkan. Dan karena itulah rasa syukur menjadi salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling penting untuk dipelihara.

Di tengah suasana Bali yang lebih tenang dari biasanya, saya merasa diajak untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Bukan berhenti bekerja. Melainkan berhenti untuk melihat ke dalam diri. Berhenti untuk bertanya apakah saya telah menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan kemarin. Berhenti untuk mengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang pencapaian, tetapi juga tentang pembentukan karakter.

Usai perayaan Hari Raya Galungan, rutinitas akan kembali berjalan seperti biasa. Namun semoga nilai-nilai yang diajarkan Galungan dan Kuningan tetap tinggal di hati. Bahwa kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain. Melainkan ketika kita mampu mengalahkan ego, keserakahan, amarah, dan berbagai kelemahan dalam diri yang menjauhkan kita dari kebaikan. 


Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan melawan sesama. Kehidupan adalah perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana, lebih bersyukur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat. Dan mungkin, itulah makna kemenangan yang sesungguhnya. Semoga kemenangan Dharma senantiasa menerangi langkah kehidupan, menghadirkan kedamaian dalam hati, kebijaksanaan dalam bertindak, serta kebahagiaan yang tumbuh dari rasa syukur dan kebaikan yang terus dipelihara. 

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi Bapak, Ibu, Rekan, Sahabat dan Saudara yang merayakan. Semoga nilai-nilai Dharma senantiasa hidup dalam hati, menjadi cahaya dalam setiap keputusan yang diambil, serta mewarnai setiap langkah kehidupan menuju kedamaian, kebahagiaan, dan kemuliaan yang sejati. Semoga kemenangan kebaikan tidak hanya dirayakan pada hari ini, tetapi juga terus hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga damai, sehat, dan bahagia senantiasa menyertai kita semua.

Kota Denpasar, 17 Juni 2026

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kemenangan atas Diri Sendiri Belajar dari Perayaan Galungan dan Kuningan di Bali

Trending Now

Profil

iklan