Oleh : Adrinal Tanjung
Menulis dan menerbitkan buku adalah perjalanan panjang yang tidak selalu ringan, terlebih ketika dijalani bersamaan dengan amanah sebagai abdi negara. Ada tuntutan tugas yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, ada ritme kerja yang padat, dan ada komitmen yang tidak boleh dikompromikan. Di tengah semua itu, menulis kerap harus mencari ruangnya sendiri. Menulis di sela waktu, di antara lelah, dan dalam kesunyian yang dipilih dengan sadar.
Saya belajar bahwa ketika niat diluruskan, langkah tidak pernah benar-benar sendiri. Menulis kemudian tidak lagi sekadar aktivitas intelektual, melainkan ikhtiar batin. Sebuah ruang hening untuk menata pikiran, berdamai dengan perasaan, dan kembali mengingat alasan mengapa jalan ini dipilih. Dalam keheningan itulah, arah hidup perlahan menjadi lebih jernih.
Sore ini, tulisan ini dirangkai dari Pantai Sanur, menjelang senja. Cahaya matahari kian merendah, ombak beriringan dengan waktu, dan angin laut membawa ketenangan yang sulit digantikan. Di tempat ini, saya mengajak diri sendiri untuk berhenti sejenak. Menerima, menguatkan, dan menyemangati hati agar tetap setia pada pilihan hidup. Tidak semua hal perlu dijelaskan, sebagian cukup dipahami dan disyukuri.
Hingga hari ini, perjalanan menulis telah mengantarkan saya pada terbitnya tak kurang dari 55 buku. Angka itu tidak saya maknai sebagai capaian, melainkan sebagai jejak. Setiap buku lahir dari perjumpaan, perjalanan, percakapan, dan perenungan yang jujur. Menulis menjadi investasi yang sunyi. Perlahan membangun reputasi yang tidak riuh, dan menanam legacy yang tidak tergesa-gesa ingin dikenali.
Dalam proses tersebut, relasi tumbuh secara alami. Buku menjadi jembatan silaturrahmi, mempertemukan saya dengan banyak hati dan pikiran. Dari sana saya belajar bahwa reputasi sejati tidak dibangun melalui sorotan, melainkan melalui konsistensi dalam memberi makna dan manfaat.
Usai jam kerja, menulis adalah cara saya membahagiakan diri. Sebuah ruang pribadi yang saya jaga agar tetap hidup. Bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai penyeimbang. Di sanalah saya kembali menemukan kegembiraan yang tenang, kegembiraan karena tetap setia pada apa yang diyakini.
Pada akhirnya, menulis saya pahami sebagai kerja untuk keabadian. Ikhtiar agar pengalaman, nilai, dan pelajaran hidup tidak larut ditelan waktu. Sebab hidup yang bernilai adalah hidup yang bermanfaat. Pada akhirnya saya serahkan setiap kata yang ditulis sebagai ikhtiar dan doa. Semoga yang ditulis bernilai ibadah, diterima sebagai amal kebaikan, dan menjadi cahaya kecil yang terus menyala, meski penulisnya kelak melangkah pergi meninggalkan dunia.
Pantai Sanur, 21 Januari 2026


