Oleh : Adrinal Tanjung
Menjelang siang di Hari Sabtu ini saya sudah kembali berada di Kota Denpasar. Jarum jam masih menunjukkan pukul 11.05 WITA. Perjalanan pagi yang relatif singkat telah usai, namun kenangan dan kegembiraan yang ditinggalkannya masih memenuhi ruang hati.
Hari Sabtu ini kembali menghadirkan pelajaran sederhana yang menghangatkan hati. Tentang persahabatan. Tentang silaturahmi. Tentang orang-orang baik yang hadir dalam kehidupan melalui cara-cara yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Pagi tadi saya berkesempatan mengunjungi Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli bersama Pak I Ketut Buana, salah seorang pejabat BKN yang berasal dari Taro Kabupaten Gianyar. Sebuah perjalanan yang sama sekali tidak diduga. Kami berangkat dari Renon, Denpasar, pukul 06.10 pagi. Jalanan masih lengang. Udara Bali terasa segar. Matahari perlahan mulai menampakkan sinarnya, seolah ikut mengiringi perjalanan yang akan menghadirkan cerita.
Sekitar pukul 07.25 kami tiba di Desa Penglipuran. Perjalanan yang tidak terlalu lama. Bahkan jika dihitung sejak berangkat hingga kembali ke Denpasar, seluruh perjalanan tidak lebih dari lima jam, termasuk waktu menikmati suasana desa yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia.
Kehidupan sering mengajarkan bahwa nilai sebuah perjalanan tidak pernah ditentukan oleh panjangnya waktu yang dihabiskan. Ada perjalanan yang berlangsung berhari-hari tetapi mudah terlupakan. Ada pula perjalanan singkat yang meninggalkan kesan mendalam dan terus hidup dalam ingatan. Perjalanan menuju Penglipuran pagi ini termasuk salah satunya.
Menariknya, ini adalah pertemuan ketiga saya dengan Pak Ketut dalam rentang waktu hanya lima hari. Jika seseorang melihatnya sekilas, mungkin tidak ada yang istimewa. Dua orang bertemu, berdiskusi, lalu melakukan perjalanan bersama. Namun bagi saya, ada cerita yang lebih dalam di balik semua itu.
Beberapa waktu lalu kami hanyalah dua orang yang saling mengenal melalui Grup Birokrat Menulis. Kami beberapa kali berinteraksi melalui WhatsApp. Saling menyapa. Saling membaca tulisan. Saling memberikan semangat. Namun belum pernah bertemu secara langsung.
Dan akhirnya Senin malam menjadi titik awal sebuah perjumpaan. Pertemuan pertama berlangsung di sebuah kafe tempat saya biasa rehat dan merangkai kata. Tidak ada rasa canggung. Percakapan mengalir begitu saja. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang perjalanan hidup. Tentang dunia literasi. Tentang mimpi dan harapan.
Tanpa terasa lebih dari dua jam berlalu. Jumat malam kami kembali bertemu. Kali ini di sebuah kafe di kawasan Sanur yang menghadap laut. Angin pantai menemani percakapan yang kembali mengalir hangat. Hampir dua setengah jam berlalu tanpa terasa.
Dan pagi ini, untuk ketiga kalinya, kami kembali bertemu. Pukul 06.10 pagi kami langsung bergerak menuju Desa Penglipuran. Keinginan saya untuk mengunjungi desa yang mendunia itu akhirnya terwujud. Saat berjalan menyusuri jalan utama desa yang bersih, rapi, dan tertata dengan baik, saya tidak hanya menikmati keindahan fisik yang tersaji di depan mata. Saya justru lebih banyak merenungkan perjalanan kecil yang telah mengantarkan saya sampai ke tempat itu.
Siapa sangka, aktivitas menulis yang awalnya hanya menjadi sarana berbagi pemikiran ternyata menghadirkan begitu banyak perjumpaan. Menulis mempertemukan saya dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama. Menulis membuka pintu persahabatan.
Menulis memperluas silaturahmi. Menulis menghadirkan ruang untuk belajar dari pengalaman dan sudut pandang orang lain.
Semakin lama saya menulis, semakin saya memahami bahwa berkah menulis tidak selalu berupa buku yang terbit atau tulisan yang dibaca banyak orang. Kadang-kadang, berkah terbesar hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebuah pertemuan. Sebuah percakapan. Sebuah persahabatan. Sebuah perjalanan. Atau kesempatan untuk mengenal orang-orang baik yang membuat hidup terasa lebih kaya makna.
Sebelum kembali ke kediaman, perjalanan pagi yang menyenangkan itu kami tutup dengan menikmati makan siang bersama di sebuah rumah makan di perbatasan Gianyar dan Denpasar. Menu yang kami pilih adalah lawar kambing yang terkenal nikmat dan menggugah selera.
Di sela-sela santap siang, percakapan kembali mengalir ringan. Tentang pengalaman hidup. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang berbagai rencana yang masih ingin diwujudkan pada masa yang akan datang. Di meja makan sederhana itu, saya kembali belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.
Sering kali kebahagiaan hadir melalui kebersamaan. Melalui percakapan yang tulus. Melalui tawa yang mengalir tanpa dibuat-buat. Dan melalui kehadiran orang-orang baik yang membuat perjalanan terasa lebih bermakna.
Desa Penglipuran memang mempesona. Keindahannya mampu menarik perhatian banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Namun bagi saya, oleh-oleh terindah dari perjalanan pagi ini bukanlah foto-foto yang tersimpan di telepon genggam. Bukan pula cerita tentang desa yang mendunia itu.
Oleh-oleh terindah yang saya bawa pulang adalah rasa syukur. Syukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu orang-orang baik. Syukur karena persahabatan dapat tumbuh dari kesamaan semangat. Syukur karena menulis telah membuka begitu banyak pintu silaturahmi yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Menjelang siang ini saya semakin meyakini bahwa dalam hidup ada pertemuan-pertemuan yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan logika. Ada orang-orang yang hadir pada waktu yang tepat. Ada percakapan yang terasa begitu akrab meskipun baru dimulai. Ada persahabatan yang tumbuh begitu alami seolah telah lama terjalin.
Mungkin inilah yang disebut sebagai cara semesta bekerja. Mempertemukan orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama. Mempertemukan mereka yang dapat saling belajar.
Saling menguatkan. Dan saling menginspirasi dalam perjalanan kehidupan. Terima kasih, Pak I Ketut Buana. Terima kasih atas kebersamaan, cerita, dan persahabatan yang terjalin dalam beberapa hari terakhir. Semoga silaturahmi ini terus terjaga.
Semoga ada kesempatan untuk kembali bertemu, berdiskusi, dan menjelajahi sudut-sudut lain Pulau Dewata yang selalu menyimpan cerita menarik untuk dituliskan. Karena pada akhirnya, Desa Penglipuran mungkin menjadi tujuan perjalanan pagi ini. Persahabatan, silaturahmi, dan perjumpaan dengan orang-orang baik adalah oleh-oleh terindah yang saya bawa pulang. Dan sekali lagi saya belajar, menulis bukan hanya tentang merangkai kata-kata. Menulis adalah jalan yang mempertemukan hati-hati yang baik. Menulis adalah berkah. Dan silaturahmi adalah salah satu hadiah terindah yang menyertainya.
Kota Denpasar, 20 Juni 2026






